Ekonomi

Harga Gas 3 Kg di Bima Rp 65 Ribu, Kok Belum Juga Konversi?

Bima, Bimakini.- Para penerima bantuan Liquefied Petroleum Gas atau LPG ukuran tiga kilogram bersama kompor satu tungku beberapa waktu yang lalu, kini terus bertanya kapan direalisasikan program konversi dari minyak tanah ke LPG tersebut.

Pasalnya harga isi ulang gas LPG 3 kg yang tertulis untuk masyarakat miskin tersebut cukup mahal, yakni Rp 60 hingga 65 ribu. “Itupun kalau ada pak, susah sekali isi ulangnya,” tanya Arif dengan nada heran  kepada Bimakini.com, Jumat (4/1).

Padahal jika dibandingkan, warga penerima di daerah lain, hanya kisaran Rp 15 ribu sampai Rp 18 ribu saja. Seperti halnya di daerah Lombok NTB dan sekitarnya.

Dibeberkan pria 31 tahun tersebut, sejak dibagikan secara gratis oleh Pemerintah Kota Bima tahun 2018 lalu, malah hingga kini tidak kabar akan adanya konversi. “Malah kita isinya sembunyi-sembunyi dan bawa pakai kardus dan plastik,” bongkarnya.

Hal itu dilakukan agar para penjual enggan diketahui oleh pemerintah. Lantaran gas tersebut tidak untuk diperjualbelikan selain gas isi ulang 5 kilogram dan seterusnya.

Lalu apa jawaban Pemkot  Bima? Melalui Kabag Ekonomi, Abdul Haris, SSos yang menangani hal ini, hingga saat ini program konversi masih dalam tahap penyusunan dan menunggu instruksi pusat.

“Program konversi masih dalan proses, kita masih menunggu instruksi dari pusat dulu. Yang jelas jika sudah ada instruksi, langsung kita aplikasikan,” ujar Abdul Haris.

Untuk diketahui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) melalui Ditjen Migas melaksanakan sosialisasi program konversi minyak tanah (mitan) ke Liquefied Petroleum Gas (LPG) khususnya tabung 3 kilogram kepada Camat dan Lurah serta pimpinan OPD terkait Lingkungan Pemerintah Kota Bima sejak Jumat, 9 November 2018.

Dalam sosialisasi tersebut dijekaskan, konversi mitan ke LPG tabung 3 kg adalah program prioritas nasional yang diawasi langsung oleh Sekretariat Negara, sedangkan pelaksanaannya dilakukan oleh Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral melalui Ditjen Minyak dan Gas Bumi.

Pelaksanaan konversi ini akan menghemat APBN hingga Rp 37 triliun per tahun, apabila dibandingkan dengan subsidi minyak tanah. Demikian juga untuk warga, dapat menghemat pengeluaran hingga lebih kurang Rp.m 50 ribuan per bulan  apabila menggunakan LPG.

Konversi minyak tanah ke LPG ini dibeberkan sangat menguntungkan, bukan hanya untuk masyarakat, tapi juga bagi Pemerintah karena ada penghematan subsidi yang luar biasa. (IQO)

Share
Komentari Berita
Komentar sepenuhnya tanggung jawab pribadi. Kearifan dalam pemilihan kata yang tidak mengandung pelecehan, intimidasi, dan SARA sangat kami hargai.
To Top