Peristiwa

Film La One; Shoot Lama, Pemain Diharap Jadi Aktor Hebat

Sejumlah pemain film La One tengah memperagakan ulang potongan adegan yang paling diingat.

Bima, Bimakini.- Rampung sudah proses syuting film layar lebar karya para sinies asli dana Mbojo. Film yang semua melibatkan para pemain asli Bima tersebut, juga melakukan proses syuting di sejumlah tempat-tempat indah nan bersejarah di wilayah Bima. Bagaimana kisahnya, berikut catatannya.

Sejak memulai proses shoot sebulan silam, terungkap ada banyak kisah atau ceritera unik yang alami baik oleh kru hingga para pemain. Namun yang paling menarik adalah cerita para kru dibalik layar.

Sang Sutradara yang akrab disapa Oge, mengungkapkan proses penggarapan film perdana-nya di Bima ini cukup berbeda dari yang lainnya. Yakni mulai menjaring para pemain lokal asli Bima hingga memplototi sejumlah lokasi indah dan sesuai dengan naskah film.

Diakui Oge, proses penggarapan syuting film ini bak seorang kuli panggul tani. Dimana terdapat suka dan duka serta cerita haru-biru hingga ia tetap melanjutkan proses syuting meski dihadapan berita duka.

“Syuting film ini merupakan yang terlama dari film-film lain. Yang biasanya hanya memakan waktu 20-an hari, ini malah sampai 34 hari. Luar biasa,” tukasnya dengan senyum khas seraya menggoda rekan kru film lainnya.

Dalam acara syukuran disalah satu kafe di Kota Bima Sabtu malam lalu, seraya menyeka air matanya. Sang sutradara dihadapkan duka yang mendalam, yakni kehilangan bapaknya yang menghadap sang Ilahi.

“Syuting film ini paling banyak sekali ujian. Dan ujian terberat adalah kehilangan bapak saya,” ujarnya dengan nada sedih. Namun katanya, meski dihadapkan banyak halangan dan rintangan, syuting film ini akhirnya rampung dalam waktu satu bulan lebih.

Selain itu katanya, yang terberat dari proses syuting film layar lebar ini juga katanya dalam membujuk pemain utama yang bernama one serta sejumlah pemain lain yang tergolong anak-anak.

 

“Karena dalam berkarya itu tergantung mood dan dengan mood itu bisa terpengaruh sekali,” urainya disambut tepuk tangan riuh para pemain dan kru film layar lebar tersebut.

Pasca proses take ini, rencananya dalam waktu dekat akan langsung memulai proses editing hingga finish dan menjadi sebuah film layar lebar dengan durasi sekitar 105 menit.

“Ada kemudian selentingan yang menyebutkan bikin film di bima tapi tidak ada gedung film-nya,” kata pria yang doyan melemparkan joke khasnya tersebut.

Adanya berbagai selentingan ini malah menjadikan cambuk untuk terus berkarya dan pemacu pihaknya untuk menciptakan karya terbaik kedepan.

“Karena bikin film itu nagih, sama dengan buat lagu dan lain-lain. Asyik aja,” tukas pria yang juga pernah menggarap film asal daerah Makassar yang berjudul Panai tersebut.

Yang membuat film ini berbeda katanya, selain mengambil tempat atau lokasi seperti halnya di pantai dengan view laut terbelah bernama Lariti serta sejumlah tempat wisata dan bersejarah lainnya.

Struktur wilayah dan kondisi panasnya Bima juga sebut nya kalah dengan negara-negara view hebat lainnya seperti halnya di negara Monggolia. Dimana bebernya view kawasan pantai Kalaki kala sore hari, terlebih dihiasi dengan aktifitas warga sekitar yang tengah memandikan kuda-kuda pacunya.

“Tapi sayang pemandangan itu hanya saya liat enam tahun lalu. Sekarang hilang semua akibat perubahan dan keputusan pemerintah,” kritiknya.

Dia mengaku kecewa dengan keputusan pemerintah yang menyulap pantai sekitar Kalaki menjadi jalan dua arah serta yang mengubah nilai estetika tempat-tempat pariwisata.

“Ini kejahatan terhadap keindahan, menyakitkan sekali. Dan sampai sekarang saya masih kecewa. Semoga tempat-tempat indah lainnya tidak dijahati juga,” harapnya.

Film yang lebih banyak mengambil lokasi arena pacuan kuda di Desa Panda tersebut, diyakini bakal menarik dan banyak peminatnya. Terlebih para pecinta film khususnya warga Bima dan sekitarnya bahkan diseluruh pelosok Nusantara.

Karena diakuinya selain ceritanya yang menarik, bakat yang dimiliki para pemain film ini sungguh luar biasa dan tidak dibayangkan sang sutradara serta yang lainnya.

“Semoga para pemain ini kedepan bisa menjadi aktor dan aktris hebat. Mereka ini mampu, apalagi sejumlah pemain ini punya bakat asli yang luar biasa,” benernya.

Demikian halnya diakui sang produser, H Dudi serta para pemain dalam film ini. Sang produser malah mengacungkan jempol kepada para pemain dan talet yang hebat tersebut.

“Terimakasih banyak kepada seluruh kru dan talet yang luar biasa ini. Kalian luar biasa,” ucapnya.

Kembali diuraikan sang Sutradara diakhir acara, bahkan nama La one yang dijadikan film ini adalah merupakan nama teman terbaik nya kala sekolah silam.

La One tersebut lah kisahnya yang mempertemukan dengan jodoh dan pasangan hidupnya tersebut. “Tapi dia sudah almarhum. Minta Al-fatihah nya teman-teman semua,” imbuhnya.

La one ulasnya merupakan temannya sejak lama dan merupakan asli Bima dan ajaibnya sebut dia doeprtemukan dengan anak kandung La One hingga dijadikan salah satu talent dalam film La one.

Dia berharap dalam film la one, warga Bima dan dunia khususnya bisa melihat keindahan Bima dan sepotong surga juga berada di wilayah Bima. (Ikra Hardiansyah)

Share
Komentari Berita
Komentar sepenuhnya tanggung jawab pribadi. Kearifan dalam pemilihan kata yang tidak mengandung pelecehan, intimidasi, dan SARA sangat kami hargai.
To Top