Berita

Pilkades, Mampukah Keluar dari Zona Transaksional?

Asikin Rasila

Oleh: Asikin Rasila*)

SEPERTINYA baru kemarin, hajatan demokrasi pemilihan kepala desa digelar. Rentang waktu yang cukup lama sebenarnya, tapi dirasa begitu lekas, untuk sebuah periodesasi waktu yang saling bertarung dan bertindih dengan segudang aktifitas kehidupan masyarakat. Dan Senin, 16 Desember 2019, genderang pemilihan kepala desa di Kabupaten Bima akan dihelat secara serentak lagi.

Perhelatan yang akan digelar pada musim pemilihan kepala desa serentak di Kabupaten Bima, telah menyedot atensi masyarakat, terutama konstituen desa yang memilih sosok pemimpinnya. Hajatan demokrasi yang melibatkan masyarakat pemilih secara aktif dalam setiap tahapan proses demokrasi telah memelekkan mata masyarakat untuk arti sebuah perubahan, bagaimana hiruk pikuk masyarakat terhadap pesta demokrasi. Tak pelak, penggunaan media-media sosial, menjadi sebuah wahana dalam mengeksplorasi kemasan-kemasan sebagai upaya propaganda, guna menjual ide dan gagasan sebagai ejawantah bentuk visi – misi. Bahkan komite pelaksana pilkades membuat jadwal khusus untuk menghadirkan dan menampilkan para kandindat calon kepala desa sebagai bentuk performa dalam memaparkan, seperti apa mereka ”mengeksekusi” dan atau bentuk aksi nyata dari program-program unggulan yang mereka usung.
Sebagai salah satu tahapan proses agenda pemilihan kepala desa yakni pemaparan visi-misi yang dilakukan oleh para kandidat. Pada ajang ini, akan berbeda cara pandang dari aura yang dipancarkan oleh masing-masing calon kandindat. Bagaimana tawaran para calon kandidat? Membaca keadaan saat hiruk pikuk, tidak semua masyarakat mampu mengemas mind set (baca: cara berpkir) dan pada taraf logika berpikir realistis, dalam mencerna, secara obyektif, point-point dari visi-misi para kandidat, namun masih ada sebagian orang-orang yang berpikir obyektif, tanpa dipenuhi domain intrik yang subyektif.
Di tengah derasnya eskalasi politik yang kadang tidak mampu diterjemahkan oleh masyarakat, membawa ruang eforia genderang yel-yel yang digaungkan oleh para pendukung terhadap para jagoannya. Panggung visi-misi sebagai ajang ruang ekspresi dalam meyakinkan visi-misi, dijadikan arena bagi masing-masing pendukung dalam mensupport para calon kandidatnya.
Para pendukung ini, tentu memiliki latarbelakang yang berbeda dari setiap pilihannya. Kita tidak bisa menghindari faktor keluarga. Karena ada ungkapan sangat sering didengar adalah ”apabila ingin mengikuti kompetisi, kekompakan keluarga adalah fondasi utama.” Namun terkadang juga tidak bisa mengelak, bahwa di tengah kekompakan keluarga itu, ujian dan tantangannya sangat berat, kenapa? Masih terdengus dan bisa di-flashback, periode-periode tahun kemarin, bukan hanya pada satu desa, tapi lebih dari satu desa. Para calon kandidatnya memiliki hubungan keluarga, ada yang saudara misan, ada ponaan dan paman. Inilah sebuah kenyataan bahwa kehadiran para calon kandidat, memiliki hubungan keluarga secara genetika. Namun apa yang terjadi, suara yang diharapkan agar satu, akhirnya terpecah, bahkan tidak jarang di antara keluarga ini, tidak saling menyapa. Inilah pentingnya bagaimana mengikat dan merawat keintiman keluaraga dalam sebuah ikatan emosional yang menyatu. Terkadang juga, ada keluarga dekat, tapi ruang untuk berkomunikasi itu tidak ada. Strata kehidupan di keluargapun itu berbeda, ini juga menjadi pemantik adanya gap komunikasi antara keluarga. Seperti apakah nilai Kekompakan keluarga? Mungkin pertanyaan ini, kita kembalikan kepada nurani masing-masing.
Mem-break down dari latar belakang pemilih, faktor keluarga itu sudah menjadi vokal point, dan menjadi basic (baca: pondasi), di samping dukungan para sahabat, kenalan, dukungan ini, yang bersifat sekunder, dan kemantapan hati dalam memilih, masih memberikan ruang untuk berpindah ke lain hati. Di sisi lain dukungan dari orang-orang di luar konstituen (baca: bukan pemilih) bisa mengubah segalanya. Seperti apa perubahan itu? Orang-orang yang bermain di belakang layar, bisa jadi mengibah keadaan. Semua akan paham, ”isyarat” dari orang-orang yang memilki kepentingan saling dukung – mendukung terhadap kandidat yang diusung, bukanlah rahasia umum lagi (baca:hal yang baru). Kendatipun tingkat demokrasi (baca: politik) setingkat desa, ada sentuhan politik tingkat atas yang tidak bisa dihindari.
Gambaran kasat mata, dalam perhelatan ini, tentu ada eskalasi yang besar pengaruhnya dari kontestasi-kontestasi sebelumnya. Pemilhan kepala desa periode sekarang boleh dikatakan ”seksi” kenapa? Harus diakui, desa sekarang sudah memilki garis demarkasi ”otonomi angggaran” yang dikenal dengan ADD (Anggaran Dana Desa) yang mencapai meliiaran rupiah. Ini patut apresiasi, sebagai niat baik pemerintah pusat menggelontorkan dana meliaran rupiah. Tiada lain, bagaimana wilayah desa itu, bisa mandiri, kreatif, inovatif dan masyarakatnya merasakan manfaat yang sebenarnya dari anggaran desa ini.
Dengan anggaran yang ”seksi” ini, bukan sekonyong-konyong menjadikan motif bagi para calon kandidat kepala desa ketika terpilih nanti untuk ”bernafsu” menggunakan tanpa akal sehat, karena nilai angkanya fantastis, boleh bernafsu, tapi nafsu yang lain, seperti memanfaatkan dengan benar-benar seluruh potensi sumber daya yang ada sebagai spirit untuk menggagas ide-ide cermerlang dan visioner. Ada banyak yang berhasil menggunakan ADD ini menjadi desa yang madiri dan berdaulat. Salah satu analogi, bagaimana menghidupakan kreatifias anak-anak muda kepada hal-hal yang memiliki nilai jual, agar para pemuda tergerak hatinya untuk melatih kemandirian, sehingga bisa berkreatiftas, berinovasi dan mampu menghasilkan sebuah dari pemnafaatan seluruh sumber daya yang ada di desa.
Akan sangat sia-sia bahkan akan merugikan ribuan masyarakat, apabila anggaran dana desa salah sasaran. Mengapa demikan? Ketika seorang kepala desa terpilih hanya dalam pikirannya, orientasi profit, (baca:keuntungan) pribadi maupun golongan, hanyalah pepesan kosong berbicara program. Inilah tantangan dari para kandidat calon kepala desa, untuk benar-benar melaksanakan semua program yang tertuang dalam visi-misinya.
Minimal dengan anggaran desa yang cukup besar ini, harusnya banyak mencari referensi sebagai tolok ukur dan menyesuaikan dengan segala potensi yang ada. Saya pernah membaca sebuah keberhasilan desa yang menggunakan anggaran desa untuk mendirikan BUMdes dan telah berhasil menyulap desanya menjadi lokasi wisata yang menyedot ribuan pengunjung setiap harinya. Itulah keberhasilan Desa Pujon Kidul, Kecamatan Pujon Kabupaten Malang. Bayangkan pendapatan asli desanya 1,3 milyar tahun 2018, sekarang 2019, bisa jadi, naik satu atau dua kali lipat. Bagaimana dengan desa-desa yang ada di Kabupaten Bima?
Pertanyaan di atas, tergantung dari nawaitu, komitmen dari para calon kandidat. Seperti apa nilai yang harus diyakini ketika sebuah proses pemilihan, jika mengedepankan ”transaksional”? Hal inilah, yang seharusnya dibentengi dan diberikan sebuah pemahaman kepada masyarakat, bahwa memilih itu sebuah panggilan jiwa dalam rangka ikhtiar untuk menyadari secara kolosal dalam bergerak bersama-sama membangun desa tanpa indikasi-indikasi yang tendensius. Tapi, apakah mampu menghindari dorongan yang tergerus oleh sebuah ungkapan “transaksional”?
Tapi di sisi lain, ada indikasi-indikasi bahkan bukan lagi “tersirat” tapi “tersurat”, begitu kencangnya dinamika politik. Ibarat miniatur negara, desa adalah sebuah medium yang aktif, terhadap segala isu-isu yang berkembang. Bagaimana kompetisi – kompetisi pemilihan pada tingkat yang paling rendah, seperti pemilihan ketua RT, Ketua RW dan baru-baru ini pemilihan anggota BPD yang berlangsung setiap desa. Pada tingkat inipun terendus sebuah “transaksional”, kendati dengan cara apapun, untuk menjual visi-misinya, kalau pada muaranya ada kesepakatan yang terselubung, yakinlah bahwa akan ada indikasi-indikasi lain ketika terpilih nantinya.
Pada gerbang pilkades Kabupaten Bima yang akan digelar secara serentak, ada pengaruh internal dan eksternal. Seumpama sebuah kapal, faktor yang sangat berpengaruh terhadap olah gerak adalah gelombang, arus, dan angin, apabila faktor eksternal ini tidak mampu diantisipasi oleh nakhoda dan seluruh ABK besar kemungkinan, kapal akan teroleng dan kandas di tengah laut. Mampukah para calon kandidat kepala desa mengemudi cikar kapal, bertahan pada kondisi yang yang tidak diinginkan? Wallahu’alam Bissawab.

(* Penulis adalah Pengurus Dewan Kesenian Kota Bima, dan Menulis Buku Antologi Cerpen SAIS)

Share
Komentari Berita
Komentar sepenuhnya tanggung jawab pribadi. Kearifan dalam pemilihan kata yang tidak mengandung pelecehan, intimidasi, dan SARA sangat kami hargai.
To Top