Connect with us

Ketik yang Anda cari

CATATAN KHAS KMA

Cliff Hotel!

Wali Kota Bima, H Muhammad Lutfi saat menerima kunjungan Geum Man Baek yang didampingi Ketua NSC, Aishah Mohamed, Kamis 29 April 2022.

ANDA pernah menginap di hotel? Saya yakin hampir semua. Tetapi kebanyakan itu hotel yang biasa. Umum. Seperti di kota atau di pinggir pantai. Ada halamannya, ada tamannya. Bahkan ada kolam renangnya.

Tetapi menginap di hotel unik, yang kamarnya digantung di bibir jurang pasti beda lagi. Bagi saya, jangankan menginap, membayangkan saja tidak pernah. Ternyata ada. Hotel seperti itu, namanya Cliff Hotel. Hotel Jurang! Karena memang dibangun di dinding jurang. Siapa yang mau menginap di situ?

Nah, dalam dua pekan belakangan ini, saya punya kesempatan berinteraksi dengan para pihak yang ingin investasi di Kota Bima. Yang mau dibangun ya hotel seperti itu. Bukan hanya tidak bisa membayangkan menginap di tempat seperti itu. Tetapi bentuknya saja, rasanya tidak. Jika tidak melihat gambarnya, saya juga sulit membayangkannya.

Hotel jenis itu, ditempel di dinding jurang. Semua konstruksi vertikal itu, menempel di batu. Entah dengan teknik apa. Bayangan sederhana saya, ya dibor horizontal untuk memegang konstruksi dan menahan beban. Namanya juga hotel. Pasti banyak kamar. Kita buat satu kamar saja, tidak ringan. Apalagi kalau tiga puluh atau empat puluh kamar. Ini seperti mimpi!

Tetapi jika ini terwujud, akan kita lihat di Kota Bima. Kelak! Tergantung pada hasil survei lanjutan tim ahli. Dua kali melihat lokasi, secara fisik sudah memenuhi syarat. Ada dinding tebing yang tinggi. Letaknya di pinggir laut.

Hotel ini tidak memerlukan akses darat. Semua aktivitas reservasi, dilakukan di laut. Tamunya pun, bukan manusia darat. Mereka yang menumpang kapal-kapal pesiar atau kapal khusus pengangkut wisatawan.

Jika punya imajinasi bagus, tentu ciri ini mudah Anda tebak lokasinya. Walau saya buka pun, tidak punya pengaruh apa-apa. Tidak ada yang datang ke situ, misalnya memborong tanah, kemudian dijual mahal. Investor ini tidak butuh tanah sama sekali. Mereka hanya butuh dinding jurang. Itu saja!

Apa sudah tidak ada darat? Darat tidak menarik sama sekali. Tidak ada sensasi, untuk apa membayar mahal. Keunikan dan sensasi itulah yang punya nilai tinggi. Plus privasi!

Masih banyak tahapan yang akan dilalui. Saya dua kali menemani investor, klik. Cuma masih banyak penelitian lanjutan untuk memutuskan bahwa lokasi itu benar-benar cocok. Menurut Geum Man Baek dari Melica PCM, Co. LTD, akan diutus lima ahli pada Juni 2021 mendatang. Mereka akan menginap di atas laut dekat lokasi selama lima hari. Tentu dengan perahu, karena tidak ada penginapan di situ.

Apa saja yang diteliti. ‘’Nanti akan dilihat, bagaimana matahari pagi, bagaimana matahari sore, jenis bebatuan dinding jurang, kualitas air laut, jenis ikan, terumbu karang, aktivitas masyarakat sekitar, dan lain-lain,’’ katanya kepada Wali Kota Bima, H Muhammad Lutfi, SE di kediamannya, Kamis malam, 29 April 2021 lalu. Saya juga turut berada di situ.

Iklan. Geser untuk terus membaca.

Wali Kota Bima sagat antusias mendengar penjelasan Baek. Baginya, ini kesempatan emas kota mungil ini memiliki hotel langka. Karena jika tidak ada halangan, Baek dan kawan-kawan akan membangun Clif Hotel di sepuluh tempat di seluruh Indonesia. Ya satunya di Kota Bima.

Baek yang didampingi Ketua NTB Solution Centre, Aishah Mohamed serta Ketua Bappeda dan Litbang Kota Bima, H Muhammad Fakrunraji, juga berminat mengelola kawasan wisata Lawata. ‘’Saya ingin menjadikan Lawata sebagai ikon Kota Bima. Konsepnya saya akan bawa lagi untuk saya tawarkan kepada Bapak,’’ kata Baek kepada Wali Kota.

 

Kepala Bappeda dan Litbang (kiri) bersama Kepala Dinas Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga (kanan) mendampingi Aishah Mohamed (tengah).

Bayangan saya, Cliff Hotel Kota Bima itu, memang sangat strategis. Menjadi tempat singgah kapal yang membawa wisatawan dari Bali ke Komodo, di NTT. Mampir di Cliff Hotel itu, merupakan satu paket perjalanan wisata eksklusif. Tentu wisatawan bukan kelas back packer. Mereka yang punya uang lebih, ingin merasakan sensasi berbeda di setiap melakukan kunjungan. Baek dan kawan-kawan akan menjadikan Kota Bima sebagai segitiga kunjungan itu. Supaya mereka tidak langsung ke Komodo. Mampir dan menginap dahulu di dinding jurang dengan pemandangan eksotis itu.

Selain menginap, masih bisa juga melakukan banyak hal di situ. Menyelam salah satunya. Kata Buana Eka Putra dari Dinas Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga Kota Bima, di situ ada blue coral yang bagus sekali. Masih lestari. Saat kami kunjungi pun, air laut yang bening masih bisa memantulkan kembali kilau karang biru. Bening, bersih.

Bagi Kota Bima, ada banyak manfaat yang bisa diperoleh. Selain pajak, juga sangat mungkin produk pangan lokal bisa masuk ke hotel itu. Lainnya, ada pemberdayaan masyarakat yang dilakukan oleh manajemen hotel. Baek menyebut kebiasaannya di sejumlah hotel dan resort yang mereka bangun, masyarakat lokal adalah nomor satu. ‘’Kita akan didik masyarakat lokal untuk menjadi karyawan di hotel-hotel yang kami bangun di seluruh dunia,’’ ujarnya.

Selain meneliti kondisi alam di lokasi, Baek dan kawan-kawan juga akan menyiapkan masyarakat setempat. Dia akan berbaur menyerap banyak aspirasi dan mengindentifikasi kebutuhan masyarakat. Butuh waktu untuk itu. Jika semuanya sesuai harapan, bisa saja 2022 sudah mulai digarap.

Kita tentu berharap ini akan terwujud. Supaya Bima tidak hanya menonton kapal wisatawan yang lewat ke Komodo. Lihatlah bagaimana majunya wilayah bekas jajahan kerajaan Bima di masa lalu itu. Kita seakan sulit bangkit dan habis akal untuk memanfaatkan momentum. Bukan hanya Kota Bima, Kabupaten Bima juga nasibnya mirip-mirip saja. Kapal pesiar yang membawa wisatawan ke Komodo, hanya sejenak buang sauh di Pulau Sangiang. Mereka turun melihat Pulau Gunung Api langka itu, tidak bermanfaat secara ekonomi. Misalnya di situ ada pertunjukan, ada kedai kopi, atau toko souvenir. Belum ada upaya sungguh-sungguh untuk menahan laju mereka agar mau membelanjakan uangnya di situ.

Pemuda Sangiang, Saifulah H Anwar sebut, kerap sekali kapal-kapal itu mampir. Ya hanya mampir saja, buang sauh sejenak, lihat-lihat kemudian melanjutkan perjalanan. Apakah Festival Sangiang sudah bisa menahan mereka untuk sekadar mampir? ‘’Belum maksimal. Harus ada intervensi pemerintah daerah untuk membuat kegiatan yang lebih masif,’’ kata pencetus Festival Sangiang ini kepada saya suatu waktu.

Pemerintah Kota Bima sudah menggelar karpet merah bagi investor. Ini bermakna, investor akan mendapatkan banyak kemudahan. Kita semua berharap, ini awal yang baik. Biasanya, investasi itu saling memanggil. Mereka bisa bercerita ke mana saja tentang kemudahan dan keramahan kita. Mari kita dukung! (khairudin m.ali)

Iklan. Geser untuk terus membaca.

 

Share
  • 300
    Shares
Click to comment
Komentar sepenuhnya tanggung jawab pribadi. Hindari komentar bermuatan pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Berita Terkait

CATATAN KHAS KMA

NEGARA ini tidak begitu populer. Apalagi mau disandingkan dengan Amerika. Atau Jerman tetangganya. Saya hanya mengerti dua hal dari negara ini. Satunya Pakta Warsawa,...

CATATAN KHAS KMA

KALI ini soal ASO. Bukan SO yang ramai di medsos itu. Kepanjangannya ada di judul. Di kalangan praktisi dan pemerhati lembaga penyiaran, tahu ini....

CATATAN KHAS KMA

WARTAWAN senior Dahlan Iskan menulis skala kekecewaan pakar komunikasi yang juga pengajar Ilmu Jurnalistik, Effendi Gazali. Angkanya fantastis, 9.5 pada skala 0-10. Nyaris sempurna...

Pemerintahan

Kota Bima, Bimakini.- Wali Kota Bima, HM Lutfi Safari Ramadhan, Rabu malam (21/4) di masjid Jami’ Baburrahman Kelurahan Mande. Saat itu menyampaikan bantuan pembangunan...