Opini

Pentingnya Menanamkan Nilai Karakter pada Siswa

 

                                  (Anwar Hasnun)

Suka tidak suka, mau, tidak mau kita harus akui,  kita umumnya, khususnya siswa,  dilanda edanisme. Keberadaan kita,  khusus anak-anak terlalu bersemangat menyambut globalisasi yang dimotori pesatnya komunikasi dan informasi. Dampaknya adalah  sebagian generasi kita mengalami “kebangkrutan”.

 Kalau kembali ke dasar kata “bangkrut” bukan hanya pedagang yang beagkrut, semua kita bangkrut, lebih khusus yang memahami globalisasi, komunikasi dan informasi sebagai keharusan, bukan alternatif.  Bangkrut ada yang mengartikan rugi, ada yang mengartikan jatuh pailit. Dalam kacamata moral,  bangkrut,  jiwanya kosong, hampa, tidak bermakna apa apa, tidak memperoleh apa apa. Boleh jadi,  apa yang dia perbuat kurang bermanfaat bahkan tidak bermanfaat sama sekali.
Edanisme yang melanda generasi kita, seperti sebagian pelajar akibat pemahaman dan penafsiran yang keliru. Keliru mewujudkan, keliru mengimplementasikan. Salah tafsir, salah menggunakan, tetapi dia mengetahui apa yang digunakannya,  dapat menguntungkan. Tetapi, hati tidak mau, jadilah orang bangkrut,  jadilah orang yang diperbudak oleh hatinya.
Lapar itu sesungguhnya lapar hati, lapar perut. Dapatkah seseorang mengimbangi antara lapar hati dengan lapar perut. 
Seorang kiai didatangi seorang anak muda. Anak itu bertanya. “Kalau lapar perut makan, lalu lapar hati, bagaimana cara mengatasinya.”
Pak Kiai menjawab, “Lapar hati ke masjid, shalat, tinggalkan hal-hal yang tidak baik.”
“Bagaimana saya meninggalkan hal-hal yang tidak baik Pak Kiai, orang di sekitar saya tidak ada yang bisa dicontohi, semuanya sudah bangkrut. Shalat mereka lakukan, tetapi main kupon putih. Segalanya diukur dengan materi, segalanya diukur dengan pangkat dan kedudukan, segalanya diukur dengan uang.”
Pak kiai hanya menjawab singkat, “Kita hanya pulang dengan kain kafan. Kehidupan yang hakiki adalah menabung kebaikan.”
Edanisme yang melanda sebagian siswa kita sesungguhnya karena dangkalnya pemahaman terhadap apa itu “perubahan” dan apa itu “kemajuan”. Kalau mau maju harus berubah. Persoalannya adalah  bagaimana merubahnya dan harus dimulai darimana. Anak anak kita akan maju, anak anak kita akan berubah. Sudah pasti kita mewujudkan mereka sebagai objek perubahan dan  kemajuan. Kita posisikan mereka sebagai orang yang menggantikan posisi kita ke depan. Kita isi mereka dengan keyakinan,  bangsa, negara dan agama kedepan adalah tanggung jawab kalian.
Edanisme bukan hanya perbuatan dan ulah, bukan sifat dan tradisi, tetapi dadakan dari sebuah desakan yang sarat kepada prestisie dan kegombalan jaman. Mereka terbius oleh kegombalan warna-warni kehidupan, cahaya kelap-kelip, lupa eksistensinya, lupa diri. Sebagian mereka tidak menganggap minum air putih yang menyehatkan, justru Wisky dan sejenisnya yang menyehatkan. Suara azan bukan peringatan dan panggilan menghadap Allah. Suara jaz, musik yang dapat menghibur dan menghilangkan stres mereka. Itulah mode dunia edan. Dunia maya yang meninabobokan mereka pada kealpaan dan kekosongan nurani.
Edan sebagian mengaggap kreativitas dan mode. Edan banyak yang menganggap kekosongan hati yang membawa dampak pada perubahan prilaku. Perilaku yang mereka peragakan adalah perilaku bego, perilaku hampa tanpa makna apa-apa. Dari peragaan ini tergambar, bahwa perilaku yang diperagakan oleh sebagian generasi dan siswa kita adalah semetara dan ikut-ikutan. Bahaya yang ditimbulkannya adalah kontrol diri kurang, rasa penghargaan dan kekeluargaan sangat tipis.
Menipisnya rasa kasih sayang antara sesama, merupakan kristalisasi dari kehidupan yang tak terkontrol dan kurang pembinaan. Idealnya sangat berterima kasih bila orang lain, orang tua mengingatkan, namun ulah sebagian generasi atau siswa kita malah sebaliknya. Persoalan moral bangsa sangat serius diperhatikan untuk mempersiapkan  pemimpin bangsa ke depan. Bukan generasi beo, generasi tanpa arah, generasi pemabuk, bukan generasi peminum, bukan generasi material, bukan generasi yang mimpi di dunia maya, tanpa belajar, tanpa kreatifitas, tanpa inisiatif. 
Ketangguhan generasi kita bukan kepada kegagahan, penampilan, tetapi pada loyalitasnya terhadap pelaksanaan syariat agama yang dianutnya, hatinya damai,  pikirannya jernih, sabar, rendah hati, sederhana. Waktu tidak dihabiskan untuk yang tidak bermanfaat, tetapi selalu belajar dan berbuat kebaikan untuk dirinya dan orang lain.
Generasi pintar banyak, generasi kreatif lumayan, generasi membeo lumayan banyak. Generasi yang bermoral juga lumayan banyak,  tetapi generasi tangguh dengan kekokohan iman dan prinsip sangat kurang. Sebab, sebagian dari mereka masih menganggap kehidupan adalah materi, lalu runtuhlah rasa kasih sayang, runtuhlah saling menghargai, runtuhlah rasa kekeluargaan. 
Keadaan kita di era dunia maya sekarang adalah semuanya diukur dengan materi. Anak nyaris lupa pada orang tuanya, apalagi pada keluarga. Jadilah ia seorang yang dielukan karena uang dan materi. Bila uang dan materi menipis jadilah seorang pejalan kaki, loyo, semangat hidup tidak ada. Ibarat tanaman musim kemarau, loyo, tidak bersemangat.
Keadaan kita yang lainnya adalah mendidik generasi dengan uang dan materi. Orang tua dulu biar kaya, biar banyak uang, mendidik dengan mengenal Qur’an, belajar shalat. Malas dihukum, bodoh dihukum, melanggar dihukum. Kehidupan bagi mereka, belajar, berbuat, berusaha, sederhana, rendah hati, selalu bersyukur dan bersabar. Hal yang paling mereka jaga adalah menipisnya rasa malu, dan takut melakukan penyimpangan.
Era edanisme adalah era kehampaan dan kealpaan moral, otak uang, otak makan, otak hiburan, lalau kita  melangkah dengan mata redup. Tanpa,  kepastian, tanpa kejelasan. Hidup samar, pikiran melayang. Sekali waktu badan bertanya pada hati. Mau dibawa kemana saya ini? Hati menjawab dengan penuh kesedihan, kalau aku baik hai engkau badan, pasti akan baik. Sang guru berkata pada siswanya, kalau engkau mau selamat belajarlah tentang kebaikan. Sebab kebaikan itu di dihatimu, sedangkan keedanan ada ditubuhmu. Sang badan, meratapi badannya, yang dikemudikan oleh ketololan hatinya, sang siswa meratapi perbuatannya. Datanglah seorang kiai “hanya kebaikan yang dapat menyelamatkan kamu dari kehinaan dan kesengsaraan”. Keedananmu akan membawa kamu kepada kebangkurutan. Jadilah engkau anak yang dicampakkan. Engkau lebih berarti dari ayam potong yang makan bama. Atau lele yang dipelihara dalam tarpal. 
Beberapa waktu yang lalu, dikejutkan adanya seorang anak yang membunuh orang tuanya lantaran tidak diberi uang untuk membeli sab. Nyawa orang tua dicabut. Orang tua, jangankan dibunuh, disakiti, tidak mengikuti perintahnya atau nasihatnya, dosa. Orang edan, tidak mengenal dosa, orang edan yang penting memenuhi keinginannya, orang edan tidak memiliki perasaan, hanya nafsu. Peminum, pemabuk, pengisap ganja, sabu- sabu adalah orang yang memiliki kehidupan sesaat, kesenangan sesaat, persetan dengan dampak yang ditimbulkannya.   

                                     Merosotnya Jatidiri 
Banyak keluhan orang tua, para guru, Kiai, ulama dan pemerhati lainnya, bahwa jati diri bangsa mengalami kemerosotan. Merosotnya nilai hakiki sebagai akar budaya bangsa yang telah dituangkan dalam falsafah pancasila membawa dampak yang sangat signifikan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Dalam konteks jatidiri berarti ciri yang dimiliki dan diwariskan dari dulu sampai sekarang yang mengandung nilai luhur dan sifatnya sangat luhur. Keluhurannya karena mampu memberikan arah dan petunjuk dalam menjalani kehidupan. Orang yang memiliki jati diri, nilai moral yang tinggi akan selamat dari terpaan badai yang dilaluinya. Orang yang lupa dan tidak mau mengindahkan jatidirinya, setiap diterpa oleh gelombang dan badai yang dilaluinya. 
     Jatidiri bangsa telah dituangkan dalam falsafah negara Pancasila, dan dijabarkan dengan rinci dalam butir- butir pancasila dan ajaran agama islam. Persoalannya adalah “Kenapa kita melupakannya”. Nenek moyang kita sudah mewariskan pada manusia untuk mengamalkan sampai kapanpun. Para ulama sudah menganjurkan agar dilakukan dan dipertahankan sampai kapanpun. Sederhana,  tetapi kenapa kita lalai.
     Anjuran Presiden terhadap pelaksanaan nilai karakter bangsa sesungguhnya bukan menciptakan hal-hal  baru   tetapi mengandung filosofi bahwa “martabat dan kepribadian kita tetap ditegakkan dan dipertahankan, jati diri bangsa kita jaga”.
Merosotnya jatidiri sama dengan merosotnya martabat bangsa, merosotnya martabat bangsa sama dengan merosotnya kewibawaan bangsa di mata bangsa lain. Merosotnya martabat siswa pada satu sekolah, merosot pula kewibawaan sekolah tersebut di mata sekolah lain. Merosotnya martabat keluarga, merosot pula kewibawaan keluarga tersebut di mata keluarga lainnya. Itulah proses perputaran penilaian dan proses perputaran kehidupan yang dilakoni, bagi yang tidak memiliki moral dan akhlak yang baik
Banyak ketimpangan yang terjadi pada siswa. Kekerasan yang dilakukan oleh siswa wanita yang sering adu otot, kayak laki-laki. Kekerasan dan perkelahian,  mengisap ganja, sabu, Narkoba, minuman keras, pornografi dan sejumlah penyimpangan moral lainnya yang dilakukan oleh sebagian siswa.
Dari deretan penyimpangan yang dilakukan oleh sebagian siswa, “lampu hijau” orang tua, guru untuk berpikir dan mencari jalan yang terbaik agar mereka terhindar dari jeratan tersebut. Orang tua, guru harus menyadari dan bergandeng tangan. Bukan saja tugas guru dan bukan saja tugas orang tua. Antara orang tua dirumah dan guru disekolah ada pembatasan tugas jam berapa, sampai jam berapa. Kalau orang tua atau masyarakat hanya menyalahkan guru dan melimpahkan pada guru atau sebaliknya, yang korban adalah anak atau siswa.
Ketimpangan yang dilakukan oleh segelintir siswa kadang-kadang terjadi dilingkungan sekolah diluar lingkungan sekolah pada jam sekolah berlangsung. Biasanya kejadian seperti ini ada beberapa kemungkinan. Pertama, anak tersebut datang sekolah tetapi tidak sampai disekolah. Kedua, keluar bolos  pada jam istirahat.
      Persoalannya adalah kalalu siswa tidak sampai di sekolah, singgah di diskotik atau tempat lain, yang  salah guru atau orang tuanya. Demikian juga dengan siswa yang bolos, siswa yang melakukan penyimpangan pada jam sekolah , tetap tanggung jawab sekolah. Orang tua, taunya anak ke sekolah, dan anaknya pamit dengan baik-baik. Lalu bagaimana kalau anak tidak sampai disekolah, dan membuat masalah diluar sekolah pada jam sekolah?
    Apa yang diutarakan di atas, sering dialami dan menjadi persoalan sebagian sekolah. Orang tua dan pihak sekolah menghadapi persoalan tersebut, jauh lebih baik saling koordinasi, kalau saling menyalahkan, sama dengan menyoal antara telur dengan ayam. Mana mungkin orang tua mengetahui anaknya sampai di sekolah atau tidak, guru yang absen tahunya siswa  itu  tidak hadir. Idealnya begitu, inilah fungsinya koordinasi, komunikasi pihak orang tua dengan sekolah, orang tua dengan wali kelas, guru wali kelas dengan guru BK.
Mengobati penyakit harus mengetahui apa penyakitnya melalui terapi dan pemeriksaan yang teliti. Obat pilek dikasih orang yang sakit perut, tak mungkin. Jatidiri, moral yang rusak ada terapi khusus,  kemudian upaya menyembuhkan. Anak bolos, anak malas kesekolah, anak suka berkelahi, ada gangguan karakter yang perlu disembuhkan.
Kekeliruan yang paling besar, guru, orang tua hanya mengetahui anak suka berkelahi, suka bolos, suka minum-minuman keras, tanpa mencarikan solusi dan pencegahannya. Lebih keliru lagi hanya menyalahkan, menjatuhkan sangsi tanpa pembinaan dan perhatian khusus terhadap siswa yang bersangkutan.
Ketika jam-jam upacara hari senin banyak anak yang bersembunyi pada tempat tertentu karena terlambat atau memamg sengaja tidak mau mengikuti upacara bendera. Dalam konteks menciptakan siswa yang berkarakter, anak seperti ini dalam dirinya ada rasa tidak jujur, tidak peduli kepada rasa kebangsaan. Penyimpangan karakter siswa sesungguhnya hal-hal yang sederhana,  tetapi prinsip dan sangat mempengaruhi bagi dirinya. Seperti anak terlambat datang lalu loncat pagar dari belakang. Uang komite dipakai untuk bayar komite,  dipakai bayar pulsa, atau bakso. Hal yang tidak biasa di biasakan, jadilah racun bagi dirinya.
Jatidiri muncul dan diperagakan secara spontanitas dalam berbagai aktifitas dan moment tertentu. Jati diri berkaitan dengan hati, rasa dan pikiran. Hati harus dapat mengendalikan amarah negatif, rasa harus tunduk pada hati, pikiran dengan hati harus saling menyapa dan mengingatkan. Artinya, pupuklah hati anak anak dengan iman, bangun moral anak anak melalui fondasi keteladanan, Bukan fondasi ancaman, bukan fondasi hukuman. Mengubah tabiat dan perangai mereka dengan bahasa hati, bukan bahasa raga. Mengubah perangai mereka dengan pelan-pelan, bukan dengan gegabah. Baca keinginan mereka, layani permintaan mereka. Apabila mereka sadar eksistensinya sebagai manusia, pasti merindukan manusia yang membutuhkan penghargaan dan peharapan pembaruan.
    Kekuatiran terhadap mengikisnya jatidiri generasi kita sangat beralasan, mengingat pada satu sisi semakin gencarnya arus komunikasi dan informasi yang canggih dan mendunia. Pada sisi lain, semakin menipisnya nilai moral yang dimiliki oleh mereka, akibat semakin dangkalnya pemahaman. Rasa kekeluargaan dan kasih-sayang bergeser karena materi dan kepentingan. Rasa terimakasih,  menghargai orang tua semakin lemah, orang tua kurang dihargai oleh yang muda. Orang tua kurang atau sedikit yang dapat diteladani. Rasa syukur dan sabar semakin berkurang,  akibat kesombongan dan kecongkakan. Nilai moral kurang ditonjolkan, dan disisihkan pamer paha dan buah dada. Kepala ditutup paha dan betis dipamerkan. Ukuran hidup hanya uang, kedudukan dan harta. Jadilah manusia lemah, mudah diombang ambing oleh keadaan. Harga diri di obral murah, prinsip hidup tidak dilandasi dengan iman, hanya omong kosong, sekosong jiwa dan hatinya. Itulah figur orang yang kehilangan
jatidiri, itulah figur orang yang tidak memiliki nilai moral dan itulah gambaran yang diperankan oleh sebagian generasi kita seberang.
     Lalu kita bertanya, siapa yang salah dan kenapa sampai terjadi demikian? Sepele tetapi prinsip. Ringan tetapi berat tanggungan dan dampaknya. Sebab,  menyangkut moral, menyangkut prestise sekolah dan keluarga. Ada anak yang terlibat menggunakan sabu-sabu, nama sekolah tercoreng, nama keluarga juga lebih tercoreng. Bagusnya, sama sama jaga, saling kordinasi dan komunikasi, tidak saling menyalahkan dan saling melempar tanggung jawab.
Menanamkan nilai moral kepada anak didik sebenarnya harus dimulai dari rumah,kalau anak biasa membawa salam, santun dan tidak cengeng dirumah, disekolah juga demikian. Saya sering pagi-pagi berdiri di depan sekolah (pintu masuk), dari puluhan siswa yang jalan masuk melewali guru yang berdiri, hanya beberapa orang yang membawa salam. Ini bukti, bahwa kesantunan yang dimiliki oleh siswa perlu dipertajam dan ditegakkan melalui pembinaan yang terarah.

           Pendidikan Karakter di Sekolah 

Edaran Kementerian Pendidikan Nasional Direktorat jenderal Pendidikan Dasar 6 juli 2011 isinya (1) memanfaatkan hari Senin tanggal 16 Juli 2011 hari pertama masuk sekolah untuk menyelenggarakan upacara pada satuan pendidikan SD, SMP, MTs, SMA, SMK untuk menyosialisasikan penetapan tahun ajaran 2011/2012 sebagai momentum dimulainya pelaksanaan pendidikan karakter (2) meningkatkan pelaksanaan pendidikan karakter pada setiap satuan pendidikan. Pejabat eselon I, II, III dilingkungan pendidikan nasional bertindak sebagai pembina upacara
Hal yang menarik dari edaran tersebut adalah (1) keterlibatan semua pejabat di lingkungan pendidikan untuk memberikan partisipasi efektif di sekolah. (2) Momentum tahun ajaran baru 2011/2012 gaung pendidikankarakter mulai disuarakan (3) pelaksanaan pendidikan karakter  disekolah dilakukan secara  serentak sesuai dengan moment dan kondisi masing-masing (4) tidak ada alasan satuan pendidikan tidak melaksanakan pendidikan karakter disekolah masing-masing
Meperhatikan edaran tersebut dan melihat langsung pelaksanaan di sekolah dari juli 2011 sampai juni 2012 umumnya sudah melaksanakan, dengan catatan cacatan (1) Efektifitas  pelaksanaan belum memadai (2) penjabaran nilai karakter dengan gejolak sosial yang berkembang  pada masing-masing sekolah belum terukur. 
Dalam konteks penjabaran nilai karakter di sekolah betul-betul diperhatikan nilai karakter apa yang ingin dikembangkan dan ditanamkan pada siswa, sehingga terjadi perubahan sikap dan perilaku siswa. Contoh, banyak siswa yang tidak bisa membaca Al-Quran, halaman sekolah kurang bersih, sering banyak yang  terlambat, Banyak siswa yang bolos. Kecurangan , dan kelemahan ini carilah ide, gagasan Kepala Sekolah, guru dengan mengacu pada  petunjuk yang ada, nilai apa yang perlu ditanamkan pada siswa. Seperti banyak anak yang belum bisa membaca Qur’an, apa yang dilakukan? Gerakan membaca Qur’an, wajib baca Qur’an beberapa menit, atau pola lainnya., 
gerakan cinta lingkungan, dan seterusnya (3) sebagian sekolah hanya melakukan kegiatan tanpa program dengan rincian kegiatan yang terukur dan terkoordinasi. Seperti  siapa melakukan  apa, kenapa, dimana. 
Ada hal-hal atau kegiatan yang merangsang warga sekolah, sehingga penanaman nilai karakter disekolah membawa dampak positif untuk pengembangan sekolah (4) Belum nampak keterlibatan semua guru, misalnya menjelang jam pertama dimulai, serentak guru berada ditempat-tempat tertentu seperti depan pintu masuk, lingkungan sekolah, menyambut  kehadiran siswa dan pelaksanaan pembersihan lingkungan sekolah. Kalau anak masuk dipintu halaman sekolah tidak salam,  ada catatan khusus, demikian terhadap siswa yang malas atau enggan membersihkan lingkungan kelas sesuai tugasnya. Sepele tetapi bermanfaat, enteng tetapi memilki nilai motivasi. (5) Sanksi dan tindaklanjut terhadap pelanggaran dan kelemahan pelaksanaan penanaman nilai karakter,  belum mampu menggali
persoalan untuk memaksimalkan pemahaman anak, bahwa nilai karakter perlu dimiliki dan ditanamkan pada setiap diri siswa. (6) Dinas pendidikan dan pengawas belum maksimal  terhadap pengembangan dan penanaman nilai karakter sekolah.
Ada tiga budaya sekolah yang harus dibangun menurut Mendikbud Muhammad Nuh, yaitu budaya bersih, budaya saling menghargai, dan  budaya keilmuan.
Budaya bersih, sekolah sudah menanamkan seperti wajib pungut, komisaris kelas dan tugas-tugas kebersihan lainnya. Hal  penting ditanamkan pada siswa,  adalah prilaku bersih, seperti membuang sampah pada tempatnya. Oleh sebab itu,  sekolah menyediakan sarana kebersihan, seperti tong sampah, sapu, kain pel, dan sejenisnya
Menanamkan nilai kebersihan pada anak diharapkan sifat tersebut melekat pada diri setiap siswa. Dengan demikian anak – anak memiliki bersih lahir batin. Sebab lingkungan yang bersih adalah gambaran hati yang bersih, lingkungan kotor, gambaran ketidak pedulian terhadap lingkungan. Hati yang bersih, hati yang suci, jiwa yang tenang,  mampu menciptakan kedamaian dan ketenangan.
Filosofi pendidikan karakter di sekolah sesungguhnya yang dicari kedamaian, keamanan, keramahan dan ketenangan. Cinta lingkungan, cinta kebersihan dan saling memberi dan menerima adalah kristalisasi dari kepribadian dan moralitas terpuji. Mengarahkan siswa pada hal tersebut, butuh komitmen dan kebersamaan sikap guru, bahwa pendidikan karakter disekolah adalah keharusan bukan penawaran dan alternatif.
Budaya saling menghargai idealnya dimulai dari rumah. Anak menghormati  orang tua, adik hormati kakak,  orang tua menghargai anak dan adik. Apabila saling menghargai dan menghormati  dimulai dan dibiasakan dirumah,  di sekolah anak juga dapat menerapkannya dengan baik. Timbulnya konflik, perkelahian, dikalangan siswa akibat dari indisiplinnya saling menghargai . Ada kiat dan upaya guru sehingga anak merasa bersaudara,  merasa teman disekolah sebagai saudara kandung.
Untuk menciptakan karakter saling menghargai dan menghormati, siswa dibiasakan kegiatan tertentu seperti yasinan bersama, sholat bersama,diskusi dan kegiatan keagamaan lainnya. 
Nilai karakter tersebut dapat berjalan dan menghasilkan, apabila dibiasakan, diarahkan melalui bimbingan dan pembinaan dari guru. Sebab saling menghargai dan menghormati muncul dari hati dan kesadaran yang hakiki. Dalam diri setiap anak telah ditanamkan dan tertanam kasih sayang dan saling menghargai.
Untuk era sekarang,  saling menghargai dan menghormati dianggap hal yang, langka. Sebab adakalanya orang menghargai dan menghormati orang lain karena status, jabatan, atau karena kepentingan tertentu. Habis itu,  sikap cuek muncul lagi.  Dalam konteks menyiapkan siswa yang karakter, rasa kasih sayang, saling mencintai, saling menghargai, bagaimana upaya dan cara guru, orang tua,  dapat ditanamkan pada setiap siswa.
Penanaman nilai karakter pada siswa harus melalui contoh dan keteladanan. Guru, kepala sekolah mengharuskan siswa berkarakter, harus diawali oleh sifat keteladanan berbicara, teladan berbuat dan bertindak. Tingkah laku dan tutur kata yang tidak mengganggu perasaan orang lain.
Dalam konteks penerapan nilai karakter pada siswa,  harus dengan cara pelan-pelan dan bertahap. Dari sekian siswa yang ada di sekolah,  tidak mungkin sekaligus dapat berubah sikap, ada tahapan dan pola tertentu yang perlu dilakukan sehingga perubahan dapat terjadi dari waktu ke waktu. 
Menuntut semua perubahan tidak mungkin, tetapi mengharuskan perubahan, wajar. Lebih wajar  lagi, jika perubahan itu diawali kerja sama dan kordinasi yang baik dari pihak Kasek dan guru  dengan melibatkan orang tua murid

Pola Pengembangan Nilai-nilai Pendidikan Karakter di Sekolah

     Memerhatikan materi nilai pendidikan karakter di sekolah cukup banyak, variatif, dan sangat akrab dengan kehidupan sehari-hari dan dalam diri setiap anak. Andaikan saja nilai-nilai tersebut diterapkan dengan baik, diimplementasikan, kecil kemungkinan terjadi penyimpangan siswa.
Oleh sebab itu,  implementasi nilai karakter butuh waktu, butuh kebersamaan, butu program, butuh dana, sarana prasarana yang memadai. Anak diharapkan disiplin, tanpa disiplin guru, kepala sekolah, hal yang tidak mungkin. Ambil contoh sederhana, pukul 07.00 WITA mulai belajar, guru-guru berangkat dari rumah jam 07.00 WITA. Guru banyak terlambat, siswa banyak ribut, kepala sekolah belum juga datang. Jadilah sekolah semrawut, nilai karakter bangsa yang ditanamkan pada siswa dimulai pada diri masing-masing dan secara pelan pelan memunculkan pribadi yang diteladani dan dicontohi, lalu terciptalah kedamaian dan kesejahteraan. Hal yang diharpkan dari pendidikan nilai karakter bangsa adalah hidup rukun, damai, aman, terhindar dari masalah dan dampaknya. 
Ada masalah, ada penyimpangan yang dilakukan oleh siswa disekolah, adalah indikator penerapan kegagalan nilai pendidikan karakter disekolah. Sekolah sering terjadi keributan, disiplin kurang ditegakkan, prestasi merosot, hasil ujian nasional menurun. Banyak siswa bolos, banyak siswa terlibat minum-minuman keras. Banyak siswa memakai sabu-sabu. Lingkungan sekolah kotor, keadaansekolah kurang rukun, kekeluargaan kurang,  rasa kebersamaan sangat kurang.
Pengembangan dan implementasi nilai bangsa disekolah dapat dilakukan melalui (a) ekstrakurikuler atau pengembangan diri. (b) program pembiasaan  (c) melalui mata pelajaran.
      Pengembangan nilai karakter melalui ekstrakurikuler dan pengembangan diri dapat dilakukan diluar jam tatap muka. Artinya, dapat dilakukan sore hari, atau hari tertentu.Polanya, ada program dan jadwal kegiatan, ada guru pembina, persiapan sarana prasarana yang memadai. Implementasi nilai pendidikan karkter melalui kegiatan ekstrakurikuler diawali dengan pendataan siswa peserta. Olahraga banyak cabangnya, ada bola voli, tenis meja, sepak bola, tidak semua siswa berminat pada sepak bola atau tenis meja. Mereka di data, kemudian dijadwalkan kegiatannya bersama guru pembinanya. Dari kegiatan olahraga tersebut, nilai karakter yang ditanamkan pada siswa,  disiplin, sopan-santun, tanggung jawab dan seterusnya.
     Kesenian, seperti seni tari, baca puisi, seni drama, seni musik. Dari beberapa jenis kesenian tersebut nilai karakter yang diharapkan, kehalusan budi, kreatif dan sejenisnya.
      Kegiatan pengembangan diri bentuk kegiatannya melalui ekstrakurikuler. Misalnya, menulis kreatif. Siswa dibimbing untuk menulis agar memiliki kemampuan mengembangkan ide, gagasan, pikiran yang sistematis. Nilai karakter  bangsa yang ingin ditanamkan adalah kreatif, inovatif, bertanggung jawab. Kegiatan lain seperti, gerakan wajib baca Qur’an, wajib baca buku apa saja, wajib mengunjungi Perpustakaan pada jam tertentu, latihan menggunakan ICT, PIR, jurnalistik, ceramah agama, diskusi, seminar kelas, cerdas-cermat, persiapan menghadapi olimpiade matematika, fisika, dan sejenisnya.
Implementasi nilai karakter bangsa melalui program pembiasaan seperti gerakan 5S, Yasinan bersama, shalat berjamaah, peduli lingkungan, sosial masyarakat, mengunjungi teman yang sakit, membudayakan kebersihan, kejujuran seperti tersedianya kantin kejujuran, gerakan peduli terhadap teman yang mendapat musibah. Kegiatan tersebut memiliki nilai yang tinggi dan bermanfaat. Seperti mengunjungi teman yang sakit, berarti nilai yang yang ditanamkan pada siswa adalah peduli, kasih- sayang. Demikian juga terhadap kegiatan lainnya, memiliki nilai yang dalam dan bermanfaat.
     Menanamkan nilai pendidikan karakter melalui program pembiasaan sangat strategis pembinaan moral siswa. Sebab, dilakukan terus-menerus melalui kegiatn spontan, rutin dan sangat dekat dengan kehidupan dan kepentingan siswa. Nilai karakter bangsa yang dilakukan secara rutin atau spontan, tetap mengacu kepada kepentingan pengembangan dengan pembinaan moral siswa kearah yang lebih terukur dan memadai.
       Pengembangan nilai-nilai karakter bangsa melalui mata pelajaran dalam bentuk tatap muka dilakukan oleh guru mata pelajaran. Kepala sekolah, guru sudah banyak memahami dan banyak mengikuti diklat nilai-nilai karakter bangsa. Apabila sekolah melalui guru mata pelajaran sudah melaksanakan,  berarti nilai-nilai karakter bangsa sesuai karakteristik mata pelajaran sudah tertanam pada siswa. Sebab, ketika guru menyampaikan standar kompetensi  melalui kompetensi dasar tertentu, tetap menyampaikan nilai karakter apa yang diterapkan
         Pengembangan dan implementasi nilai-nilai karakter bangsa melalui mata pelajaran sangat strategis dan sangat memungkinkan bagi pengembangan dan perbaikan moral siswa kearah yang sistematis dan terukur. Sebab,  ketika guru menyampaikan materi tertentu, saat itu pula nilai karakter bangsa diterapkan. Apakah hanya kata-kata atau dilengkapi dengan contoh sederhana,  sesuai materi yang dikembangkan. Penggunaan dan pemilihan metode sangat menentukan. Kejelian dengan kecermatan guru sangat diperlukan. Jeli menyampaikan materi, jeli menjabarkan materi dan memilih nilai karakter bangsa apa, yang cocok dengan materi yang disampaikan.

                                              Kesimpulan
    Gejolak sosial yang diperagakan oleh sebagian siswa dewasa ini,  implementasi dan pengembangan nilai-nilai karakter bangsa sangat strategis dilakukan oleh setiap sekolah. Sebab nilai-nilai karakter bangsa sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari. Nilai karakter bangsa dapat dilakukan melalui ekstrakurikuler, pengembangan diri, secara spontan atau kegiatan rutin, dan melalui guru setiap mata pelajaran. 
Sekolah menyusun program dan kegiatan dengan guru pembina, penyediaan sarana prasarana yang memadai, yang diakhiri dengan evaluasi dan program tindak lanjut. 
Semoga guru mampu menampilkan sifat keteladanan, dan siswa dapat meniru kebaikan dan keteladanan gurunya. (*)

Share
Komentari Berita
Komentar sepenuhnya tanggung jawab pribadi. Kearifan dalam pemilihan kata yang tidak mengandung pelecehan, intimidasi, dan SARA sangat kami hargai.

Bimakini.com adalah portal berita Bima Dompu Terkini. Bagian dari Bimeks Group.

Alamat: Jl. Gajah Mada No. 46 BTN Penatoi Kota Bima, NTB Tlp: 0374-646840, 08233-9031009, 0853-33143335, 0852-53523401. E-mail: info[at]bimakini[dot]com

APLIKASI ANDROID

Fanpage

Copyright © 2016 Bimakini.com. Portal Berita Bima Terkini.

To Top