Peristiwa

Kondisi Korban Kasus Lambu makin Parah

Bima, Bimakini.com.- Dua tahun berlalu, peristiwa pembubaran paksa massa oleh aparat Kepolisian saat pemblokiran pelabuhan Sape Kabupaten Bima,  masih menyisakan pilu bagi para korban. Satu di antaranya Awaludin Anas (24) yang mengalami luka tembak di kaki.

Saat ini, akibat tembakan  itu kondisi Anas masih memrihatinkan dan harus menjalani operasi lanjutan untuk mengganti pen yang menyangga tulang kakinya. Hanya saja, Anas dan sejumlah mahasiswa yang prihatin atas kondisinya terkendala pada biaya.

Anggota Kerukunan Mahasiswa Lambu-Mataram, Arif Rahman, yang dikonfirmasi Senin (21/10) siang mengatakan saat ini Anas dibawa ke Mataram untuk berobat. Masalahnya, kondisi Anas semakin lama bukannya membaik, melainkan parah.

Berdasarkan pengakuan, katanya, setiap hari korban sering mengeluh sakit pada bagian kaki yang luka, sakit kepala serta muncul bintik-bintik pada bagian tubuh. Bahkan, karena luka tembak yang mengenai tulang kakinya, Anas belum bisa berjalan normal atau masih menggunakan tongkat. Menurut Dokter Rudy yang menangani, kondisi yang dialami Anas ini karena terlambat diantisipasi.

Menurut Arif, sebelumnya Anas masih trauma dan enggan berobat. Secara psikis, Anas trauma mendengar suara ledakan dan orang yang berteriak.

Anas masih harus menjalani operasi lanjutan untuk mengganti pen. Lantaran kondisi yang dialami makin parah, sejak dua minggu lalu membawa paksa ke Mataram untuk berobat. Namun, setelah di Mataram, mengalami kendala yakni biaya penggantian pen senilai Rp45 juta.

Saat ini, katanya, sambil menunggu biaya dan waktu operasi, Anas tinggal sementara di kos-kosan yang dihuninya karena tidak ada satu pun keluarga yang bisa dimintai bantuan.

Melalui Forum Kerukunan Mahasiswa Lambu-Mataram dan koordinasi dengan mahasiswa dan masyarakat Lambu, pihaknya pun berupaya menggalang dana. Alhasil, dana yang dikumpulkan dari masyarakat yakni sebesar Rp5 juta, Rp1 juta merupakan donatur dari anggota DPR RI.

Namun,  yang sangat disayangkannya bantuan dari Pemerintah Kabupaten Bima hanya Rp1 juta. Sebelumnya, katanya, untuk biaya pengobatan Anas pernah mengirim proposal ke Pemkab Bima. Belakangan, Pemkab merespons dengan meminta nomor rekening Kepala Desa. Tidak berapa lama, diketahui uang yang dikirim dan masuk ke rekening hanya Rp1 juta.

Menyusul bantuan sebesar Rp 1 juta ini, pihaknya merasa kecewa dan tidak dihargai. “Kita sangat sesalkan ini,” ujarnya.

Masalahnya, persoalan luka yang dialami Anas bukan kecil. Apa yang dilakukan oleh Anas dalam aksi tersebut adalah masalah kerakyatan untuk membela daerah. “Seharusnya Bupati Bima Haji Ferry Zulkarnain bertanggungjawab,” ujar Arif.

Katanya, bantuan tersebut tidak sebanding dengan bantuan yang diberikan oleh masyarakat. Bantuan masyarakat saja bisa mengumpulkan dana sebesar Rp5 juta.

Tidak hanya kepada Pemkab, dia dan masyarakat Lambu pada umumnya juga kecewa terhadap anggota DPRD Provinsi Dapil Bima-Dompu. Pihaknya juga pernah meminta bantuan, namun hingga kini belum ada tanggapan. Begitu juga dengan anggota DPRD Kabupaten Bima, juga terkesan “tutup mata” terhadap penderitaan korban peristiwa Lambu.

Kepala Bagian Humas dan Protokol Setda, Drs. Aris Gunawan, yang dikonfirmasi menuturkan pihaknya belum mengetahui masalah pemberian bantuan sebesar Rp1 juta tersebut. Apakah diberikan melalui Bagian Kesra atau Camat Lambu. “Kami akan cek dulu,” janji Aris. (BE.16)

Share
Komentari Berita
Komentar sepenuhnya tanggung jawab pribadi. Kearifan dalam pemilihan kata yang tidak mengandung pelecehan, intimidasi, dan SARA sangat kami hargai.

Bimakini.com adalah portal berita Bima Dompu Terkini. Bagian dari Bimeks Group.

Alamat: Jl. Gajah Mada No. 46 BTN Penatoi Kota Bima, NTB Tlp: 0374-646840, 08233-9031009, 0853-33143335, 0852-53523401. E-mail: info[at]bimakini[dot]com

APLIKASI ANDROID

Fanpage

Copyright © 2016 Bimakini.com. Portal Berita Bima Terkini.

To Top