Peristiwa

Catatan dr Akbar, Relawan Bencana Palu: Sempat Menangis Saat Saksikan dari Pesawat  (2)

dr Akbar langsung memeriksa pasien di hari pertama di Palu.

PADA bagian pertama, dr Akbar telah mengisahkan perjalanannya menuju Palu. Berikut lanjutannya, yang ditulis dengan gaya bertutur.

Palu, 16 Oktober 2018

Hari Senin kemarin saya bertolak dari Makassar menuju tujuan utama saya yaitu Kota Palu. Selama perjalanan menuju Bandara Makassar, dalam pikiran saya apakah saudara-saudara di Palu sudah mulai bangkit? Setibanya di Bandara Makassar dengan segera saya menuju tempat check in Garuda Indonesia.

Lagi-lagi saya diinformasikan oleh petugas Garuda bahwa penerbangan mengalami keterlambatan 15 menit.

Saya kembali berdo’a semoga tidak ada halangan lainnya lagi dalam penerbangan kali ini. Setelah itu saya menuju ruang tunggu dan mengisi tenaga dengan membeli beberapa makanan dan multivitamin agar stamina tetap terjaga.

Tiba-tiba saya teringat teman-teman Relawan BSMI Bali dan mengeluarkan handphone untuk menanyakan keberadaan mereka saat itu. Karena sebelumnya kami telah berjanji untuk bertemu di Bandara Makassar.

Hampir mendekati waktu keberangkatan saya tidak mendapatkan kabar dari mereka. Panggilan masuk pesawatpun akhirnya terdengar dan saya bergegas mengangkat barang-barang menuju pesawat Garuda.

Setelah meletakkan barang dalam pesawat, saya pun duduk ditemani oleh dua orang wanita, tapi saya jadi kikuk karena mereka stylis banget.

Saya pun pura-pura menyibukkan diri memegang HP dan berkomunikasi dengan keluarga di Bima.

Secara bersamaan ternyata teman-teman BSMI Bali baru memberikan kabar bahwa mereka baru mendarat di Bandara Makassar, padahal saya sudah berada dalam pesawat dan siap untuk take off.

Pramugari melewati saya sambil mengingatkan para penumpang agar HP dimatikan supaya penerbangan berjalan lancar.

Baca juga: dr Akbar, Usai Lombok Kini jadi Relawan di Palu

Baca juga; Bima Pernah Dihantam Empat Kali Tsunami

Tiba-tiba wanita di samping saya bertanya, “Mas boleh ndak teman saya yang duduk di sebelah sana tukaran sama situ?” Dengan cepat saya jawab, “Oh iya dengan senang hati” Dalam hati saya berkata “Alhamdulillah terhindar dari godaan hehehee.”

Beberapa saat kemudian pesawat siap lepas landas, pramugari mengajak para penumpang untuk berdoa sesuai agama masing-masing agar penerbangan tersebut berjalan lancar dan selamat hingga tujuan.

Pasien korban bencana Palu yang terus beradatangan di RS Lapangan BSMI Palu.

Penerbangan tersebut ditempuh dalam waktu 1 jam 15 menit. Untuk mengisi kekosongan waktu sayapun menyalakan video dan menontonnya hingga tiba di Bandara Palu.

Beberapa saat sebelum mendarat video yang saya tonton dimatikan. Sambil menatap keluar jendela, saya melihat beberapa lokasi yang tertimbun tanah longsor akibat gempa, hati saya mulai bergetar dan mata mulai berkaca-kaca.

Setelah mendarat saya melihat banyak sekali pesawat Hercules milik TNI. Ada delapan pesawat yang diparkir di Bandara Mutiara SIS Al-Jufrie Palu, ada juga beberapa Helikopter milik Polri  dan BNPB  yang diparkir di apron bandara.

Pesawat kami pun parkir dengan aman dan semua penumpang turun menuju tempat pengambilan bagasi. Naaah… Sampai di Bandara saya mulai bingung siapa yang bisa mengantarkan saya ke lokasi RS Lapangan BSMI.

Sambil menunggu kabar dari teman-teman BSMI Bali saya menyegerakan diri untuk mengerjakan shalat Ashar.

Alhamdulillah setelah menunaikan ibadah Sholat Ashar saya pun bertemu dengan teman-teman BSMI Bali.

Eeh… Ternyata ada teman-teman BSMI Jawa Timur juga yang tiba saat itu. Terlihat dari jauh ada sosok yang saya kenal. Ternyata benar orang itu ternyata Pak Naryo, Ketua BSMI Sumenep yang dulu datang ke Bima saat terjadi banjir bandang.

Saya pun langsung memanggil beliau dan kami pun melepas kangen dengan berpelukan dan foto bersama.

Beliau ternyata sudah hampir sebulan berada di Palu sebagai relawan. Kedatangan beliau di bandara untuk menjemput para relawan dari BSMI Jawa Timur.

Saat itu kami berkumpul dan berkoordinasi singkat terkait penempatan dan tugas masing-masing relawan.

Setelah 30 menit berlalu, kendaraan kami pun datang menjemput. Saat itu kami dijemput oleh teman dari Sekolah Relawan yang merupakan partner kami saat gempa Lombok waktu lalu.

Ternyata kendaraan yang digunakan untuk menjemput kami adalah mobil pick up warna biru tua. Tapi itu bukan jadi masalah buat kami yang sudah terbiasa di lapangan.

Barang-barang bawaan dan beberapa logistik  diangkut satu per satu ke atas mobil. Dengan penuh semangat saya melompat ke bagian belakang mobil pick up biru itu.  Tiba-tiba kreeekk terdengar suara robek. Setelah saya cek… Ternyata oh ternyata celana saya yang robek hahahaaaa….

Ini untuk kesekian kali dalam beberapa kegiatan celana saya robek  Dalam keadaan celana robek kami pun melanjutkan perjalanan menuju RS Lapangan BSMI.

Setelah beberapa menit waktu shalat Maghrib kami pun tiba di RS Lapangan BSMI. Kami pun lapor diri dan menyerahkan surat tugas. Dengan buru-buru saya membuka tas mengambil celana untuk diganti.

Ditenda IGD RS, tiba-tiba terdengar teriakan Code Blue… Code Blue… Code Blue. Itu merupakan pertanda bahwa ada pasien kritis. Sesegera mungkin saya mengganti celana.

Ternyata benar di tenda tersebut ada pasien yang sedang tidak sadarkan diri, tim medis sedang melakukan Resusitasi Jantung Paru yaitu upaya pompa jantung dan pemberian napas bantuan.

Setelah beberapa lama berlangsung pasien tidak terselamatkan dan keluarga pasien menangis histeris. Beberapa relawan berusaha menenangkan keluarga pasien tersebut. Mayat almarhum kemudian dibawa pulang menggunakan mobil Ambulan.

Malam semakin larut dan pelayanan tetap kami berikan. Sebagian besar pasien mulai mengalami gangguan pernapasan, gangguan pencernaan dan ada beberapa pasien  perawatan luka.

Tepat pukul 11:43 semua relawan berkumpul untuk melakukan evaluasi harian. Dalam rapat tersebut saya mendengar ternyata ada Relawan asal Malaysia yang bergabung. Mereka terdiri dari tenaga medis dan dapur umum. Mereka manargetkan pembagian makanan jadi sebanyak 1000 pengungsi dan 100 paket untuk relawan.

Tidak disangka tetangga negeri jiran pun ikut membantu meringankan beban saudara-saudara kita di Palu. Saya merasa malu karena baru bisa bergabung bersama relawan lain yang sebelumnya sudah berminggu-minggu berada di Palu.

Saat rapat evaluasi kami disuguhi salad buah oleh bagian dapur umum. Malam semakin larut dan kami pun mulai istrahat, sedangkan beberapa tenaga medis lainnya bertugas jaga IGD 24 jam.

Selasa yang cerah menyinari RS Lapangan BSMI. Para relawan bergegas kembali beraktivitas sesuai agendanya masing-masing.

Sebelum itu saya bersama Pak Bambang, Ketua BSMI Bali bersama-sama membersihkan sampah di sekitar RS lapangan, kemudian merapikan tenda yang akan digunakan sebagai Laboratorium, Apotek dan lain-lain.

Setelah beberapa saat saya kembali melanjutkan menulis kisah perjalanan ini sambil minum segekas bajigur hangat yang dibuatkan oleh mas Ryo Bagian Humas BSMI Bali. Rasanya ternyata enak banget dan badan saya lumayan segar.

Satu per satu pasien mulai berdatangan ke RS lapangan. Pasien pertama saya mengeluhkan sakit kepala dan sempoyongan karena beberapa hari mengalami susah tidur akibat trauma gempa dan tsunami.

Hari semakin terang sebagian besar pasien mengalami mual, muntah dan mencret. Dalam wawancara saya dengan beberapa pasien ternyata mereka terlalu sering makan mie instan. Hal tersebut merupakan salah satu penyebab banyaknya pasien yang mengalami gangguan pencernaan.

Di lain tempat teman-teman relawan melakukan mobile klinik dan pembagian bantuan ke beberapa titik posko pengungsian…

Bersambung…

Share
  • 230
    Shares
Komentari Berita
Komentar sepenuhnya tanggung jawab pribadi. Kearifan dalam pemilihan kata yang tidak mengandung pelecehan, intimidasi, dan SARA sangat kami hargai.

Bimakini.com adalah portal berita Bima Dompu Terkini. Bagian dari Bimeks Group.

Alamat: Jl. Gajah Mada No. 46 BTN Penatoi Kota Bima, NTB Tlp: 0374-646840, 08233-9031009, 0853-33143335, 0852-53523401. E-mail: info[at]bimakini[dot]com

APLIKASI ANDROID

Fanpage

Copyright © 2016 Bimakini.com. Portal Berita Bima Terkini.

To Top