Sudut Pandang

Cerita Penuh Semangat…

ilustrasi

Oleh: Sofiyan Asy’ari

Seorang teman bercerita penuh semangat. Pola kepemimpinan kepala daerah itu tidak mesti ruwet, birokratis, sok berjarak dengan rakyat, dan keruwetan lainnya. Ia merasa sesak dengan kepemimpinan yang ada selama ini. Terlalu banyak polesan menutupi borok.

 

Birokrat yang bicaranya sok idealis, namun “busuk”. Dicontohkannya, mengajak masyarakat hidup hemat, tapi pejabat sendiri hidup berfoya. Jika dilihat kepemilikan hartanya dan kemampuannya memenuhi segala kebutuhan diluar primer dan sekunder, maka tidak masuk diakal. Mana mungkin dengan pendapatan yang ada bisa membeli semuanya.

“Dari mana?!,” katanya penuh semangat. Bercerita tanpa jeda. Tidak sedikit pun lawan bicara bisa masuk menyela. Seperti tanpa spasi dan tanda koma atau titik agar rehat sejenak. Secangkir kopi hitam panas didepannya sudah mendingin.

“Kalau KNPI butuh dana, saya minta untuk menyusun program yang sesuai dengan visi pemerintahan. 400 juta pun akan saya berikan, yang penting riil,” katanya.

“Tapi ingat, KNPI yang pertama akan diperiksa dalam penggunaan APBD tersebut. saya akan mudahkan dapat dukungan dana, tapi harus bisa dipertanggungjawabkan jika diberikan amanah. Kalau sekarang, bagaimana mungkin KNPI bisa berbuat banyak,” lanjutnya.

Demikian juga dengan kelompok pemuda dan masyarakat. Jika ada proposal yang bisa direspon cepat, tidak dipersulit. “Ok, saya akan pelajari ya…jangan begitu jawabannya kalau jadi kepala daerah,” penuh ekspresi.

Kopi diseruputnya dengan nikmat. Meski sudah agak dingin. Ceritanya berlanjut. Diberinya contoh beberapa kepala daerah yang gayanya seperti itu.

Saya sendiri, mencoba untuk tidak menimpali cerita teman itu. Saya bertahan menjadi pendengar yang baik, agar bisa menjadi inspirasi tulisan ini.

Ceritanya berlanjut. Suatu hari seorang wakil kepala daerah membuat acara “Ngopi” bersama masyarakat. Istilah lainnya sambung rasa antara pemimpin dengan rakyatnya. Hadirlah teman itu. Pejabat lainnya banyak juga. Momentum itu katanya menjadi tempat untuk mengeluarkan semua unek-uneknya. Sedikitpun tidak tersisa, hingga wajah sejumlah pejabat yang hadir harus merah.

Acara itupun hanya sekali digelar. Karena “Ngopi” perdana bersama masyarakat melahirkan ketidaknyamanan. Mungkin pernyataannya tanpa saringan. Menyorot kehidupan pejabat yang tidak imbang antara pendapatan dengan kepemilikan aset pribadi. “Darimana dapatnya, kalau hanya dari gaji ndak mungkin. Pasti hasil maling,” ungkapnya.

Apa yang diceritakan kawan tadi, mungkin tumpahan ketidakpuasan dengan kepemimpinan selama ini. Tentu ada kepala daerah yang tidak seperti ungkapan teman tadi. Saya hanya bisa mengangguk dan tersenyum dengan pernyataannya. Seperti makmum yang mengamini imam.

Itu karena saya tahu wataknya. Tidak ingin ditimpali, apalagi harus berlawanan. Bukan berarti apa yang diungkapnya salah. Benar juga “orasinya”. Telah menjadi rahasia umum.

Apalagi momentumnya bericerita 9 Desember 2014, bertepatan dengan Hari Anti Korupsi se-Dunia. Karena ditempat lain, saat bersamaan ada yang menggelar aksi keprihatinan. Peringatannya semoga tidak seremonial saja. Prihatin sekali setahun, saat 9 Desember.

Masyarakat juga tentu masih banyak yang tidak tahu tentang hari Anti-Korupsi. Apalagi tahu bagaimana caranya korupsi….Hehehe.

Kalau ada lembaga kursusnya, pasti rame yang datang. Penegak hukum juga gampang menangkap. Tinggal melihat daftar peserta kursusnya. Sorry….Menghayal…Hehehe.

Ssttt…teman tadi pergi, tanpa meninggalkan kesimpulan. Hanya sisa ampas kopi hitamnya…(*)

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
Share
To Top