Connect with us

Ketik yang Anda cari

Opini

Marketing Perguruan Tinggi

Illustrasi

Illustrasi

Oleh: Damrah Bimasal

Perguruan Tinggi (PT) adalah lembaga pendidikan yang menyiapkan generasi bangsa yang cerdas, unggul, dan berdaya saing sehingga laku dijual di pasaran (dunia kerja). Namun, yang terjadi di sebagian besar daerah  di Indonesia, PT sepertinya bukan lagi sebagai lembaga yang meningkatkan dan mengembagkan sumberdaya manusia yang memiliki kapasitas intelektual dan berkarakter.

Visi-misi PT dirumuskan sedemikian rupa, namun pada kenyataannya yang terjadi malah sistem marketing (jual-beli ijazah), tidak memiliki izin operasional, tidak memiliki gedung sendiri, kuantitas dosen yang tidak sesuai  kuantitas mahasiswa. Fasilitas tidak menunjang perkuliahan, tetapi perkuliahan tetap jalan walaupun tidak sesuai mekanisme. Hal  yang penting aktivitas kuliah itu ada, bahkan tidak kuliah pun ikut diwisuda dan dapat ijazah.

Kondisi ini sama dengan dunia bisnis yang melakukan jual-beli (ada uang, ada barang) yang transaksinya bisa di mana saja. Begitu juga dengan PT yang tidak jelas identitasnya, ada uang ada ijazah.

Setiap tahun merekrut ribuan calon mahasiswa dan ribuan mahasiswa diwisuda, padahal aktivitas perkuliahan tidak jalan sebagaimana mestinya. Bahkan, ada yang langsung mengikuti ujian dan prosesi wisuda, asalkan membayar sesuai tarif yang ditentukan oleh pihak kampus.

Baru-baru  ini Tim Kemenristek dan Dikti menemukan kampus yang sedang mengadakan prosesi wisuda, padahal PT tersebut sudah dinonaktifkan. Mirisnya lagi peserta wisuda ada yang tidak tahu samasekali mata kuliahnya, rupanya dia hanya bayar senilai Rp15 juta bisa ikut wisuda dan dapat ijazah palsu.

Iklan. Geser untuk terus membaca.

Kemenristek dan Dikti  kewalahan dan kesulitan  memusnahkan ijazah palsu, karena mafia PT terjadi di mana-mana. Aeperti para pengusaha yang menambah luas usahanya untuk mendapatkan penghasilan yang lebih banyak. Ini namanya mafia kelas kakap, karena menciderai cita-cita luhur pendidikan nasional dengan menjadikan lembaga pendidikan sebagai ajang bisnis jual-beli ijazah.

Calon mahasiswa pun tidak pandai memilih PT yang penting bagi mereka dapat ijazah untuk mencari pekerjaan atau mendapatkan posisi strategis padahal mereka sebenarnya dibodoh-bodohin. Pembodohan ini tidak hanya terjadi  pada tingkatan Diploma dan Strata 1, teapi di tingkatan Strata 2, juga ada praktek marketing PT. Kalau kita menghitung untung-rugi, daripada beli ijazah dengan nominal 15 juta lebih baik uang tersebut dipakai untuk membuka usaha dan untungnya jelas. Tetapi, lagi-lagi titel juga sangat penting bagi sebagian orang supaya dipandang terhormat dan mendapatkan posisi strategis.

Satu di antara indikator kemajuan  suatu bangsa adalah banyaknya anak bangsa yang terdaftar di lembaga pendidikan (PT), karena pendidikan satu-satunya ruang untuk mencerdaskan anak bangsa. Tetapi, yang terjadi di negeri ini tidak berbanding lurus, justru berbanding terbalik. Semakin banyak PT dan mahasiswa, malah semakin banyak melahirkan manusia-manusia bodoh. Mengapa bodoh? Ya, karena mereka membeli ijazah untuk mencari pekerjaan atau mendapatkan kedudukan strategis  pda berbagai profesi, tanpa mendapatkan ilmu pengetahuan sesuai dengan tujuan pendidikan.

Idealnya output PT (alumni) berbanding lurus dengan outcome PT (kualitas alumni), tetapi yang menjadi targetnya sebagian PT adalah berapa banyak output, bukan berapa banyak outcome-nya. Padahal, semakin tinggi outcome suatu PT maka semakin tinggi elektabilitas PT tersebut.

Bagi mafia PT kalau banyak yang wisuda, ya banyak juga pendapatan mereka. Jadi outcome PT mungkin tidak pernah terlintas dalam pikiran mereka. Mau dibawa ke mana dan jadi apa bangsa ini ke depannya kalau marketing pendidikan masih terus terjadi.

Jika fungsi kontrol dan evaluasi Tim Evaluasi Akademik Perguruan Tinggi Kemenristek dan Dikti ini berjalan maksimal, maka marketing PT akan segera lenyap dan para mafia PT harus diberikan hukuman seberat-beratnya sesuai Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi. Saya yakin masih banyak PT yang akan dibekukan, selain yang sudah dibekukan sekitar 243 PT (data 29 September 2015), jumlah ini baru  pada sebagian kecil daerah. Itulah sekilas potret pendidikan di negeri kita ini.

Iklan. Geser untuk terus membaca.

Selamat kepada Menristek dan Dikti yang telah bekerja keras membongkar mafia PT dan teruslah berkarya untuk menyelamatkan bangsa ini.

Penulis adalah Aktivis Kohati PB HMI

Click to comment
Komentar sepenuhnya tanggung jawab pribadi. Hindari komentar bermuatan pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Berita Terkait

Opini & Sudut Pandang

Oleh: Eka Ilham.S.Pd.,M.Si   Di  dalam pembukaan UUD 1945 dinyatakan bahwa tujuan membentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) ialah mencerdaskan bangsa. Penyelenggara pendidikan oleh...

Olahraga & Kesehatan

Kota Bima, Bimakini.com.- Kasus penyakit kanker payudara di Bima terolong tinggi, namun tidak banyak yang menyedarinya. Faktor pengetahuan menjadi masalah, sehingga penderita tidak mengetahui...

Ekonomi

Bima, Bimakini.com.-  Petani bawang merah di Kecamatan Sape dan Lambu kini kecewa. Mengapa?  Saat harga bawang sedang melambung tinggi, justru tanaman bawang belum dipanen....

Peristiwa

Bima, Bimakini.com.-  Animo warga Kecamatan Monta untuk menjadi Tenaga Kerja wanita (TKW) Indonesia di Arab Saudi, cukup tinggi. Apalagi, saat ini sulit mendapatkan pekerjaan....

Ekonomi

Dompu, Bimakini.com.– Bupati Dompu, Drs. H. Bambang, menilai daya beli masyarakat Dompu saat ini sudah tinggi dibandingkan beberapa tahun sebelumnya. Dicontohkannya, sepanjang jalan di...