Pemerintahan

Kota Bima  di Angka 35,6 Persen Prioritas Kelurahan Penanganan Stunting

Dra Tuti Sulastri

Kota Bima,  Bimakini. – Berdasarkan hasil riset tahun 2013, Kota Bima berada di angka 35,6 persen prioritas kelurahan penanganan stunting.

Hal itu diungkapkan perwakilan dari Direkorat Informasi dan Komunikasi Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (IKPMK), Dra Tuti Sulastri, saat  Sosialisasi Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) bersama Kominfo Kota Bima, Rabu (20/3).

Dijelaskannya, stunting mencerminkan kondisi gagal tumbuh pada anak baduta (bayi di bawah usia 2 tahun) akibat kekurangan gizi kronis sehingga anak menjadi terlalu pendek untuk usianya. Kejadian stunting di Indonesia tidak hanya dialami pada keluarga miskin, tetapi juga pada keluarga mampu.

Stunting, kata dia, bisa terjadi karena adanya infeksi berulang dan kurangnya asupan zat makanan yang berkaitan dengan kurang baiknya perilaku kesehatan dan gizi. Untuk mencegah hal ini, PHBS harus diupayakan di setiap rumah tangga. Termasuk meningkatkan akses terhadap air bersih dan fasilitas sanitasi, serta menjaga kebersihan lingkungan.

Acara ini, kata dia, dalam rangka menurunkan prevalensi stunting di wilayah Kota Bima.  Sosialisi PHBS ini sesuai Inpres Nomor 9 Tahun 2015 Tentang Pengelolaan Komunikasi Publik, Kementerian Kominfo diamanatkan untuk mengkoordinir isu sektor menjadi isu tunggal untuk kemudian disampaikan ke seluruh lapisan masyarakat melalui simpul-simpul komunikasi yang sudah terbangun dan melalui berbagai kanal media.

“Khusus terkait stunting, Kementerian Kominfo menjadi Koordinator Kampanye Nasional. Kami bersama Kemenkes dan 10 Kementerian lainnya, juga Pemerintah Daerah, terus bekerja keras mensosialisasikan PHBS,” katanya.

Direkorat Informasi dan Komunikasi Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (IKPMK) akan mendorong agar 60 Kabupaten/Kota prioritas tahun 2019 aktif mengedukasi terkait stunting, termasuk Kota Bima.

Dan Merujuk dari hasil Riset Kesehatan Dasar tahun 2013, Kota Bima tercatat berada di angka 35,6% dengan prioritas Kelurahan penanganan stunting meliputi Rabadompu, Oi Fo’o, Ntobo, Jatibaru, Kolo, Rite, Nungga, Nitu, Lelamase, dan Jatiwangi.

“Kami mengharapkan para peserta kegiatan ini dapat melakukan 3P, yaitu Peduli, Pahami dan Partisipasi. Hal ini bisa membantu mengurangi keberadaan gizi buruk,” kata Tuti Sulastri.

Tambahnya,  Stunting sendiri bisa terjadi karena adanya infeksi berulang dan kurangnya asupan zat makanan yang berkaitan dengan kurang baiknya perilaku kesehatan dan gizi. Untuk mencegah hal ini, PHBS harus diupayakan di setiap rumah tangga. Termasuk meningkatkan akses terhadap air bersih dan fasilitas sanitasi, serta menjaga kebersihan lingkungan. (DED)

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
Share
  • 4
    Shares
To Top