Peristiwa

Satu Rumah di Kabanta, Dihuni 5 KK

Warga Kabanta bersama putranya.

Kota Bima, Bimakini.com.- Warga Kabanta, Kelurahan Nungga Kota Bima sudah semakin sulit membangun rumah sejak dilarang oleh pemerintah mengambil kayu di hutan dekat perkampungan mereka. Akibatnya, satu rumah bisa dihuni sampai lima kepala keluarga, karena kemampuan membeli bahan untuk membangun rumah sangat rendah.

Informasi yang diperoleh Bimakini.com dari warga setempat, rumah warga Kabanta saat ini sudah mulai banyak yang rusak dan bisa jadi jumlah rumah di dusun terpencil ini semakin lama semakin semakin sedikit. ''Ini rumah yang kami bangun sudah sangat lama. Sudah ada rumah-rumah yang lapuk dan sulit untuk diperbaiki karena tidak ada biaya untuk beli kayu dan bahan bangunan lain,'' kata M Sidik Ahmad, 45 tahun warga Kabanta.

Dia menyebutkan, jumlah kepala keluarga di dusun ini 150 kk. Coba bandingkan dengan jumlah rumah yang ada tidak sampai 80 unit. Itu artinya bahwa ada rumah yang dihuni oleh lebih dari satu kepala keluarga. '' Kehidupan kami sangat sulit untuk membangun rumah walau ada lahan pekarangan. Masalah utamanya adalah tidak ada kayu, karena rata-rata rumah kami di sini kan dari kayu,'' ujarnya.

Sidik berrcerita, kehidupan mereka hanya tergantung pada lahan pertanian  tadah hujan yang hanya bisa ditanam sekali setahun. ''Kami hanya punya tegalan dan lahan kering. Saya saja punya sekitar 0.75 hektar dan itu hanya menghasilkan sekali setahun,'' tambahnya.

Menjawab pertanyaan Bimakini.com sumber penghasilan lain lagi, dia mengaku tidak ada. ''Kami juga tidak pernah ke gunung untuk mencari hasil hutan. Biasanya kami hanya sibuk dan bekerja saat-saat menggarap tegalan dan panen, setelah itu kami menganggur,'' katanya.

Menurut Sidik, selama masa menganggur itu hanya makan tidur saja, tidak ada aktivitas lain yang bisa dilakukan. Sebab lahan juga tidak bisa ditanam karena tidak ada air. ''Kami hanya makan dan tidur saja, malam juga gelap karena belum ada listrik. Hanya beberapa warga yang punya mesin disel sendiri yang bisa menikmati listrik dan menonton televisi,'' ujarnya.

Mereka pun sangat jarang berinteraksi dengan masyarakat luar kecuali ada warga luar yang datang. Sebab untuk ke Kota Bima saja, mereka membutuhkan biaya transportasi atau untuk ojek Rp30 ribu untuk pergi pulang. ''Karena jalannya sangat rusak, untuk ongkos ojek kami harus mengeluarkan uang Rp30 ribu,'' tambahnya.

Untuk makan sehari-hari pun, mereka jarang makan ikan laut apalagi daging. ''Kami hanya andalkan sayur yang ada di sekitar kampung. Jadi menu keseharian kami adalah nasi dengan sayur saja, sangat jarang makan ikan,'' jelas Sidik.

Di dusun ini sudah ada sekolah dasar. Untuk menampung ulusan sekolah dasar, ada yayasan swasta yang membangun MTs yaitu sejak 2009 lalu. Jumlah siswanya hingga kini sekitar 30 siswa. Kondisi sekolah ini juga sangat memrihatinkan. Karena dinsingnya terbuat dari anyaman bambu, sering kali digunakan untuk berteduhnya kambing selepas sekolah. Kotoran kambing memenuhi tiga lokal ruang MTs Al-Ikhals ini. Pemerintah Kota Bima perlu memperhatikan nasib warga Kabanta, termasuk sarana jalan dan penerangan.

''Jalan ke dusun kami memang sudah dilebarkan pada tahun lalu, kami berharap pemerintah Kota Bima mau menyediakan anggaran untuk pengaspalan supaya arus lalulintas barang dan orang dari dan ke dusun kami bisa lebih lancar dan ongkosnya tidak mahal seperti sekarang,'' harapnya. (*)

 

 

 

Share
Komentari Berita
Komentar sepenuhnya tanggung jawab pribadi. Kearifan dalam pemilihan kata yang tidak mengandung pelecehan, intimidasi, dan SARA sangat kami hargai.
To Top