Connect with us

Ketik yang Anda cari

Opini

Memilih Pemimpin

Oleh: Ahmad, S.Ag

Seorang pemimpin adalah pribadi yang sangat menentukan bagi suatu umat atau bangsa. Menentukan karena dengannya suatu Negara bisa maju atau mundur. Bila seorang pemimpin tampil lebih memihak kepada kepentingan dirinya, tidak bisa tidak, rakyat pasti terlantar. Sebaliknya bila seorang pemimpin lebih berpihak kepada rakyatnya, maka keadilan pasti  ditegakkan.

Keadilan adalah titik keseimbangan yang menentukan tegaknya alam semesta ini. Allah SWT menegakkan langit dengan keseimbangan. Pun juga segala yang ada di bumi, Allah SWT memberikannya dengan penuh keseimbangan. Padanan keseimbangan adalah keadilan, lawan katanya adalah kedzaliman.

Setiap kedzaliman pasti merusak. Bila manusia berbuat dzalim, maka pasti ia akan merusak diri dan lingkungannya. Bayangkan jika yang berbuat dzalim adalah seorang pemimpin. Pasti yang akan hancur adalah bangsa secara keseluruhan.
     Di dalam Al-Quran, Allah SWT telah menceritakan kehancuran umat terdahulu adalah kerena kedzaliman pemimpinnya. Oleh karena itu, bila kita berusaha memecahkan persoalan bangsa, maka tidak ada jalan kecuali yang pertamakali  diperbaiki adalah pemimpinnya.

    Pemimpin yang korup dan dzalim bukan saja akan membawa malapetaka terhadap rakyatnya, tetapi lebih jauh—ini yang sangat kita takuti—Allah akan mencabut keberkahannya. Sungguh sangat sengsara suatu kaum yang kehilangan keberkahan. Kehilangan keberkahan tidak saja menyengsarakan fisik, melainkan lebih dari itu, ruhani juga ikut meronta-ronta.

Rakyat yang cerdas tidak mungkin memilih pemimpin bodoh. Rakyat yang bersih, tidak mungkin memilih pemimpin korup. Tetapi, sebaliknya bila rakyatnya korup, maka pasti yang akan dipilih adalah pemimpin korup. Oleh karena itu, terpilihnya Firaun sebagi raja adalah karena rakyatnya bodoh dan bejat. Sebab siapakah sebenarnya seorang pemimpin, jika ia tidak mendapatkan dukungan? Ia sebenarnya tidak berdaya apa-apa. Jika semua rakyatnya bersatu  menyerangnya, ia pasti tidak bisa bertahan. Karenanya pemimpin korup akan selalu menciptakan lingkungan agar rakyat tetap bodoh. Sebab dengan kebodohannya, ia akan lebih lama berkuasa dan lebih nyaman menikmati kedzalimannya.

    Ustadz Sayed Qutb ketika menafsirkan ayat tentang Firaun dalam surat An- Naazi’aat menjelaskan bahwa sebenarnya Firaun tidak memiliki kekuatan sejumlah rakyatnya. Maka jika rakyatnya cerdas, mereka tidak mungkin mengizinkan Firaun terus berkuasa. Mereka pasti segera memberontak atas kedzalimannya. Namun, karena mereka bodoh, maka Firaun merasa semakin tinggi. Puncaknya Firaun lupa daratan, sehingga mendeklarasikan dirinya sebagai Tuhan. Dia berkata seperti yang Allah rekam dalam surat An-Nazi'aat: “Ana rabbukumul a'laa". Saya Tuhan kalian yang tinggi.

      Sekarang bergantung rakyat, mau memilih pemimpin korup atau yang jujur dan adil. Ingat bahwa setiap suara yang kita berikan itu adalah amanah. Bila kita salah menyerahkan amanah, yang sengsara kita juga. Sebaliknya, bila kita bersungguh-sungguh menyerahkan amanah itu kepada ahlinya, maka kitalah yang akan menikmatinya. Bukan saja kesejahteraan di dunia, melainkan lebih dari itu, kita akan mendapatkan pahala yang melimpah karena kita telah mendukung kebaikan.

    Oleh karena itu, dalam memilih sosok pemimpin hendaklah berdasarkan beberapa criteria. Yaitu, pertama, berkualitas. Sebagian ada yang berpendapat bahwa manusia berkualitas itu memiliki status sosial tinggi, pendidikan tinggi, kemampuan luarbiasa, jabatan tinggi. Pendapat ini yang menghasilkan manusia yang kalau dilihat dari sisi luarnya tampak luar biasa, tetapi di lihat dari sisi dalamnya, tampak lemah. Pendapat inilah yang jelas-jelas menyimpang yang akan melahirkan manusia penuh kebodohan, kepalsuan, hanya mengejar kekuasaan, jabatan demi uang dengan melakukan segala cara tanpa melihat dari sisi kebenaran dan keadilan.

Pemimpin yang baik, harus sesuai ukuran kualitas manusia yang terdiri dari  (a) sikap (tindakan). Sikap meliputi perbuatan dan perkataan. Seorang pemimpin berkualitas selalu bersikap positif dalam setiap perbuatan dan perkataannya. Artinya, kualitas hidup seseorang tidak ditentukan oleh tingginya pendidikan, jabatan, kekayaan, bila seseorang melakukan hal-hal yang negatif dipastikan akan dinilai rendah orang lain. Ciri lainnya (b)  mental (pola pikir). Pola pikir seseorang sangat jelas memengaruhi sikap dan tindakan yang dilakukan. Seseorang yang memiliki cara berfikir negatif, hampir dapat dipastikan akan bersikap negatif dalam tindakan maupun perkataan. Menurut Dr. Napoleon Hill: “Anda adalah apa yang Anda pikirkan” Jika seseorang pemimpin berfikir ia mampu, pasti mampu. Sebaliknya, apabila berfikir tidak bisa, hasil akhirnya dipastikan akan tidak bisa. Pemimpin harus selalu berfikir positif, maka sikapnya akan menjadi lebih baik. Ciri berikutnya (c) emosi (perasaan). Emosi merupakan salah satu yang memengaruhi tindakan seseorang. Artinya pemimpin harus dapat mengontrol perasaannya, agar tidak muncul perasaan-perasaan negatif dalam dirinya. Selanjutnya (d) keyakinan. Pemimpin harus memiliki tiga keyakinan dasar, yakni terhadap Tuhan, diri sendiri, dan potensi diri.

Kedua, Memiliki Integritas. Pemimpin yang baik harus memiliki integritas, harus melakukan perbuatan sesuai yang diucapkannya. Untuk membangun integritas ada beberapa hal yang dibutuhkan, yakni (a) Kejujuran. Dimulai dari diri sendiri, belajar kejujuran untuk diri sendiri. Jika seseorang mau belajar mendengarkan suara hati, di sinilah cara untuk membesarkan benih kejujuran yang merupakan fondasi dari integritas Melalui suara hati nurani, seseorang dapat membentengi dari perbuatan yang tidak benar. (b) Berbicara. Pemimpin harus berhati-hati saat berbicara, harus disesuaikan antara kata-kata yang diucapkan dengan perbuatan. Berhati-hati dalam berbicara, berarti mengurangi kesalahan yang bisa terjadi. Pemimpin dapat dipercaya, apabila mampu membuktikan antara perkataan dengan tindakan dan kata-kata sesuai  bisikan hati, apabila ini dapat dilaksanakan, InsyaAllah akan dapat dipercaya oleh rakyat.

Ketiga, Bijaksana.  Pemimpin harus memiliki kemampuan menilai segala sesuatunya secara objektif dan mengambil putusan secara benar dan tepat. Wujud dari nilai kebijaksanaan dari pemimpin, antara lain memiliki sifat, jujur, semangat, disiplin yang tinggi, rendah hati, toleransi (fleksibel), pantang menyerah, percaya diri. Pemimpin yang memiliki kepercayaan kukuh, dapat terlihat apabila ketika semua orang meragukan kemampuannya, ketika semua kondisi sudah tidak bersahabat lagi, ketika upaya-upaya yang dilakukan telah berakhir, pemimpin ini tidak akan berputus-asa, sebelum dia meraih kesuksesan. Artinya apabila pemimpin sudah pernah mengalami kesukaran dan hambatan, barulah pemimpin tersebut bertindak bijakasana. Bijaksana dapat diartikan sebagai kemampuan berkata-kata secara tepat objektif, dan adil.

Keempat, Semangat Luarbiasa.
Pemimpin harus memiliki semangat, suatu energi besar di dalam diri setiap orang. Jika ada semangat, pemimpin dapat berjalan menuju kesuksesan. Ada beberapa ciri semangat luarbiasa, yakni pantang menyerah, optimis,  cekatan (kinesthetic intellegence)—kemampuan seseorang untuk menggerakkan tubuh secara cepat. Selain itu, ikhlas–mampu menerima kenyataan hidup penuh rasa syukur dan puas dengan apa yang telah didapat.
Menggerakkan, yakni dapat menggerakkan orang di sekitarnya, karena sikap semangat dapat menular bila orang lain tergerak.

Kelima, Bertanggungjawab. Pemimpin harus memiliki konsep tentang “kalau sesuatu terjadi itu karena saya" dalam arti pemimpin memikul tanggungjawab besar, tanggungjawab yang menyebabkan sesuatu terjadi. Bukan hanya untuk dirinya, tetapi untuk cita-cita besar dan siap berkorban agar cita-cita terwujud. Pemimpin harus bisa memberikan suatu perubahan, artinya apabila berbuat sesuatu atau tidak berbuat sesuatu, dan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, pemimpin harus ikut bertanggungjawab. Pemimpin harus memiliki tanggungjawab besar, menuntut ketulusan, dan niat mulia dengan hal-hal ini hal-hal besar dapat diaraih
Pemimpin yang baik itu mampu memisahkan perasaan, penilai, evaluasi dalam dirinya, dengan visi, komitmen, dan janjinya.
Melalui integritas, pemimpin akan mampu membuka semua pintu penghalang, menemukan para pengikut/pendukungnya dan dapat bekerja dengan aman, bahagia dan mecapai kesuksesan. Pemimpin dapat sukses bila memiliki citra diri (self image), mengusai emosi (self control), dan memiliki integritas (character).
  Semoga Kota Bima ke depan  mendapatkan pemimpin yang memiliki lima  tipe kepemimpinan, sebagaimana yang kami paparkan di atas. Amin ya Rabbal Alamin.

Penulis adalah Kepala MA Al-Husainy Kota Bima

Click to comment
Komentar sepenuhnya tanggung jawab pribadi. Hindari komentar bermuatan pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Berita Terkait

Peristiwa

Dompu, Bimakini.com.- Bantuan Langsung Sementara Masyarakat (BLSM) sebagai pengganti kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) tidak akan ada artinya  bagi peningkatan perekonomian masyarakat. Atau...

Opini

Oleh: Syarif Ahmad Peristiwa politik demokrasi sebagaimana yang sedang terjadi saat ini, penulis mengibaratkan orang-orang sedang berlari di atas tanah becek. Dimana terjadi proses...

Pemerintahan

Bima, Bimakini.com.-  Para bakal calon Gubernur NTB terus “bergerilya” mencari simpati publik. Mereka membungkusnya dengan acara silaturahmi. Informasi yang dihimpun, Sabtu lalu,  bakal calon...

Politik

Kota Bima, Bimakini.com.-  Figur pemimpin seperti apa yang dibutuhkan Kota Bima saat ini? Beragam jejeran kriteria normatif. Tetapi, bagi Akademisi Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT)...

Politik

Kota Bima, Bimakini.com.-  Akademisi Sekolah Tinggi Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (STISIP) Mbojo Bima, Muhammad Irfan, M.Si, mengisyaratkan kepada seluruh bakal calon (Balon) Wali Kota...