Dari Redaksi

Kabut Soromandi

Berita kurang sedap muncul di dataran Soromandi Kabupaten Bima. Oknum anggota Polisi Pamong Praja (Pol PP) setempat memainkan jurus asmara terselubung, yang kini menyudutkan posisinya secara moral dan birokratis. Bereselingkuh dengan istri orang lain, sesuai pengakuan terbukanya. Terjebak  dalam perangkap “rumput di halaman tetangga selalu lebih hijau”. Ulama pun menggaungkan kegelisahan karena menabrak syariat agama dan memantik disharmoni. Kita semua patut prihatin, karena ada titik hitam yang muncul justru dari orang-orang terdekat di sekitar kita.

Ada yang menduga, hentakan pengakuan mengejutkan dari Soromandi itu hanya satu insiden yang muncrat ke permukaan. Sebagian lainnya, diduga masih mengendap seriring dinamika kehidupan, mobilitas masyarakat dan pengaruh perkembangan teknologi informasi.

Dari kasus itu, paling tidak ada dua sisi yang perlu dijadikan renungan bersama untuk kita ambil hikmah di dalamnya. Sejak kemajuan teknologi, pola-pola hubungan antarmanusia juga berubah, demikian  juga antarlawan jenis. Hasrat-hasrat terpendam bisa diekspresikan melalui suara, bahkan jika pun mengambil lokasi di bawah kolong ranjang. Teknologi memang ibarat pisau bermata dua, bergantung cara menggunakannya. Kasus di Soromandi adalah satu dari sekian kejadian yang memanfaatkan teknologi untuk menautkan dua hati yang kesepian.

Sisi lainnya adalah kasus oknum Pol PP dan ibu muda itu, secara jelas menunjukkan  gejala menurunnya derajat moralitas di kalangan aparatur pemerintah. Mereka yang ditugaskan pada posisi depan mengawal aturan, justru menjadi terdepang pula dalam mengaburkannya. Kasus itu adalah tamparan bagi dunia birokrasi kita. Nah, ke depan inilah tantangan bagi pihak yang berkaitan agar meningkatkan pembinaan dan pengawasan untuk memastikan bahwa aparatur dalam bingkai tugas pokok dan fungsinya.

Pesan jelas dari kasus Soromandi adalah berselingkuh itu tidaklah indah. Ia adalah bom waktu yang siap meledak kapan dan dimana saja. Selalu saja sad ending. Selingkuh hakikatnya adalah mengundang potensi lain merusak karakter, identitas, dan harmoni keluarga. Kasus oknum Pol PP adalah contoh di depan mata kita. (*)  

Share
Komentari Berita
Komentar sepenuhnya tanggung jawab pribadi. Kearifan dalam pemilihan kata yang tidak mengandung pelecehan, intimidasi, dan SARA sangat kami hargai.
To Top