Opini

Damai di Negeri Bhinneka

Muhammad Yunus

Muhammad Yunus

Oleh: Muhammad Yunus

(Direktur Rumah Cita – Bima)

“Masuklah kedalam kedamaian secara keseluruhan”

SERUAN ini melukiskan sebuah perpaduan petunjuk  intelektual, etik dan estetik bagi siapapun yang membaca dan mendengarnya, kecuali bagi setiap diri yang telah buta hatinya lagi gelap batinnya.

Bercakap-cakap tentang sebuah negeri yang damai di tengah menguatnya opini tentang SARA dan ancaman keutuhan NKRI, alangkah elok nan bijak jika kita memulai dari diri kita. Karena setiap diri itu unik, distink dan tak pernah habis untuk dipercakapkan.

Diri yang Damai

Sebuah pertanyaan radikal untuk dibedah, Sudahkah diri kita masuk kedalam kedamaian? Dengan kejujuran yang mendalam kita harus mengakui bahwa di atas kertas kita telah masuk ke dalam kedamaian, namun dari ragam peristiwa yang telah disuguhkan dewasa ini (peristiwa bela islam maupun pemboman gereja di Kalimantan) menjelaskan bahwa diri kita masih dan sedang belajar masuk ke dalam kedamaiaan atau menjadi damai.

Jika kita berada di luar kedamaiaan, segerakan diri beranjak masuk. Usai kita masuk, jalan damai masih cukup panjang untuk dilalui hingga setiap diri berada di dalam kedamaian penuh seluruh. Karena diri yang damai adalah sumber energi damai sebuah negeri.

Telah tersedia banyak jalan dan ragam jenis kendaraan dalam perjalanan memasuki lintasan damai. Memilih jalan dan kendaraan mana itu bergantung sungguh pada kehendak bebas kita. Sikap merdeka dalam memilih akan menjadikan diri menempuh lintasan dan kendaraan yang berbeda antara satu dengan yang lain, dengan sebilah keyakinan bahwa setiap diri akan bertemu atau dipertemukan di ujung jalan.

Dari sekian banyak jalan, ada jalan poros (jalan raya) nan lurus untuk setiap diri yang berjalan atau diri yang diperjalankan, ada yang berjalan menuju damai, ada pula yang berjalan meninggalkan damai. Di sinilah kita menemui diri yang damai berhadapan dengan diri yang kacau.

Sungguh damai dan kacau maujud pada sikap lahir yang merupakan sebuah refleksi dari sikap batin dari setiap diri yang hidup. Mendamaikan keduanya, kita menemui tantangan dan kesulitan yang cukup berarti, meski demikian kita harus tetap yakin dan optimis bahwa kacau di negeri ini akan lekas berakhir. Dan kita jejaki damai sejak dari dalam diri, menepis petikaian dan pertentangan hingga batas jalan masuk ke dalam kedamaian tercipta di negeri bhinneka. bukankah setelah menemui kesulitan akan ada kemudahan.

Negeri Bhinneka

Putus asa bukan hanya tidak baik, namun dilarang, karena sangat berbahaya bagi pertumbuhan dan perkembangan setiap diri dan setiap negeri. Memori masa silam telah mengilhami kita dengan pelajaran berharga tentang peluang dan tantangan dalam membangun negeri yang majemuk.

Sebagai negeri yang memiliki akar kebudayaan yang tangguh lalu menjadi tempat tumbuhnya kebudayaan hibrida yang unggul berkat perjumpaan dengan ragam kebudayaan-kebudayaan besar dunia telah menjadikan NKRI sebagai taman sari peradaban sekaligus taman peradaban harapan dunia.

Negeri yang dibangun di atas kesepakatan bangsa-bangsa memiliki kekayaan yang belimpah baik manusiaanya, maupun alamnya terutama kekayaan energi, pangan, laut dan air.

Negeri yang beragam agama dan aliran kepercayaan, suku-bangsa, budaya, bahasa, adat istiadat serta kekayaan kearifan tradisi-lokal genius. Negeri yang di  lalamnya menganut azas kebhinnekaan dan keekaan yang saling melengkapi serta saling mengokohkan sebagai negara-bangsa besar nan unik di dunia.

Negeri yang telah tujuh kali mengalami sirkulasi kepemimpinan-elit meski ada kemiripan paras dan perbedaan wajah pendekatan membangun dengan melakukan uji coba yang belum kunjung selesai apatah lagi berhasil.

Sudah barang tentu Kesemuanya mesti terkelola dengan baik demi memasuki kedamaian secara keseluruhan. Jika tidak, maka ancaman perpecahan dan keruntuhan negeri besar akan terwujud menjadi kenyataan sejarah baru. Karena setiap negeri memiki azal, dimana kematian akan menemui ketika garis takdir telah tertuju padanya dan siapapun tak akan sanggup menolaknya.

Belum lagi ancaman di sekeliling negeri yang kaya raya ini kian menggerogoti, dibutuhkan kemampuan dan kecerdasan yang cukup baik dalam menguatkan diri-negeri terutama dalam melenturkan sendi-sendi kehidupan kebangsaan yang kian tegang, nyaris renggang.

Mengingat situasi negeri yang kian menghawatirkan, menjadi sangat penting dan mendesak untuk meneguhkan kembali ikatan batin seluruh komponen bangsa yang dbaluti semangat membangun dan menjaga bersama NKRI dengan mengedepankan sikap saling percaya dan saling menghargai sebagai modal memasuki bersama kedamaiaan secara keseluruhan.

Damaikan Dunia

Terakhir, sekedar mengingatkan kembali atas petunjuk yang belum terlaksana sepenuhnya hingga kini, sejak 12 tahun yang lalu ditulis seorang cendekiawan muslim (Nurcholish Madjid) sebagai ekspresi kecintaannya kepada tanah air Indonesia dalam karya yang berjudul INDONESIA KITA.

10 platform membangun kembali indonesia dengan tata urutan sebagai berikut; 1). Mewujudkan “good governance” pada semua lapisan pengelolaan negara, 2). Menegakkan supremasi hukum dengan konsisten dan konsekuen, 3). Melaksanakan rekonsiliasi nasional; a) Menarik pelajaran dari masa lalu dengan tekad tidak mengulanginya, b) Menatap masa depan dengan perdamaian dan penyatuan seluruh kekuatan bangsa, c) Menegaskan garis pemisah antara masa lalu dan masa mendatang. 4). Merintis reformasi ekonomi dengan mengutamakan pengembangan kegiatan produktif dari bawah. 5). Mengembangkan dan memperkuat pranata-pranata demokrasi; kebebasan sipil (khususnya kebebasan pers dan akademik), pembagian tugas dan wewenang yang jelas antara pemerintahan, perwakilan, dan pengadilan. 6). Meningkatkan ketahanan dan keamanan nasional dengan membangun harkat dan martabat personil dan pranata TNI dan Polri dalam bingkai demokrasi. 7). Memelihara keutuhan wilayah negara melalui pendekatan budaya, peneguhan ke-bhinneka-an dan ke-eka-an, serta pembangunan otonomisasi. 8). Meratakan dan meningkatan mutu pendidikan di  seluruh Nusantara. 9). Mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat sebagai tujuan bernegara. 10). Mengambil peran aktif dalam usaha bersama menciptakan perdamaian dunia.

Ya, peran aktif dari seluruh komponen bangsa dalam menciptakan perdamaian dunia adalah main key (kunci utama). Namun, dapatkah kita berperan aktif mendamaikan dunia sementara rumah kebangsaan kita sedang dalam ancaman dan gempuran dari banyak sisi, serta belum juga ada tanda-tanda untuk terbitnya fajar perdamaian di dalamnya.

Wallahu’alam bissawab.

Karumbu, 17 November 2016

Share
  • 207
    Shares
Komentari Berita
Komentar sepenuhnya tanggung jawab pribadi. Kearifan dalam pemilihan kata yang tidak mengandung pelecehan, intimidasi, dan SARA sangat kami hargai.
To Top