Opini

Ijazah, Gelar, dan Ilmu

Oleh: Abdul Barry, S.Pd

 

Abdul Barry, S.Pd

Abdul Barry, S.Pd

DALAM pendidikan formal, ijazah dan ilmu adalah dua sisi yang saling berkaitan, bahkan seperti pasangan sejoli yang serasi dan sejalan. Keduanya menjadi orientasi utama bagi para penuntut ilmu dalam semua jenjang pendidikan,walau memang tidak jarang terjadi disorientasi bahkan anomali yang mengkhawatirkan terkait permasalahan tersebut. Faktanya, sebagian besar para pencari ilmu lebih mementingkan hasil daripada proses, lebih mementingkan selembar ijazah daripada ilmu, gelar tinggi lebih penting daripada kedalaman ilmu.

Sutan Syahrir, salah seorang negarawan pemikir terbaik bangsa ini, sejak lama merisaukan fenomena seperti itu. Dalam catatan hariannya di balik penjara, dengan nama samaran Syahrazad, yang dibukukan dalam renungan Indonesia, Bung Syahrir menulis,”Bagi kebanyakan orang-orang kita yang bertitel, saya pakai perkataan ini akan pengganti, “intelektual” sebab di Indonesia ini ukuran orang bukan terutama tingkat penghidupan intelek, akan tetapi pendidikan sekolah bagi orang-orang bertitel itu. Pengertian ilmu tetap hanya pakaian bagus semata, bukan keuntungan bathin. Bagi mereka, ilmu itu tetap hanya sesuatu barang yang mati, bukan hakekat yang hidup, berubah-ubah dan senantiasa harus diberi makan dan di \pelihara”.

Menurut Prof.Yudi Latif, dalam artikelnya berjudul Kuasa Tanpa Ilmu, masalah kegilaan pada titel tanpa kedalaman ilmu yang dicatat Bung Syahrir tahun 1934 itu situasinya tidak tambah membaik, bahkan semakin memburuk. Upaya peningkatan SDM hanya berlandaskan pada pendidikan formal, bukan pada penyediaan ekosistem yang baik bagi pengembangan olah budi, olah cipta, dan olah karsa (kreatifitas). Perolehan ijazah lebih dikedepankan daripada penguasaan ilmu, guru-guru dipersyaratkan setidaknya S1 dan S2,tanpa dihiraukan kapasitas pedagogisnya.

Banyak orang mencari kehormatan dalam gelar dan jabatan tanpa memenuhi nilai-nilai prinsipil dan tanggungjawab dari kedudukannya,”aib terbesar”, kata Juvenelis, “ketika kamu lebih mementingkan penghidupan ketimbang harga diri, sementara demi penghidupan itu sendiri engkau telah kehilangan prinsip prinsip kehidupan.”

Jika kita tarik ke bawah, ke tingkat pendidikan dasar dan menengah kita, peserta didik kita sepertinya secara tidak langsung dibangun persepsi keliru. Seakan-akan ijazahlah tujuan utama dari semua proses yang mereka lewati itu. Ilmu yang sesungguhnya menjadi tujuan penting dikerdilkan kehadirannya dalam proses itu. Buktinya sekali lagi, terkesan kita lebih mementingkan hasil daripada proses, dalam arti hasil ujian lebih diperhitungkan, nilai ijazah lebih dipentingkan daripada proses kehadiran peserta didik dalam transfer serta transformasi ilmu setiap harinya di kelas.

Padahal yang benar adalah kalau proses pembelajaran, KBM, proses transfer ilmu serta interaksi dengan lingkungan pendidikan setiap harinya berlangsung baik, maka hasilnya juga akan baik. Begitupun sebaliknya, proses belajar buruk hasilnya juga akan buruk. Seharusnya mereka bukan saja mengejar ijazah tapi juga meraih ilmu, singkatnya dapat dua duanya, ijazah dan ilmu.

Kita semestinya tidak hanya berbangga mendapatkan gelar tinggi tetapi ilmu yg diraih minim, tanggungjawab moral kita pada gelar tinggi semestinya dibarengi dengan pemahaman ilmu yang mumpuni. Bagi orang-orang berilmu, gelar tinggi adalah beban, amanah yang harus dibuktikan dalam kehidupan sosialnya sehari-hari, bukan sebagai kebanggaan serta kehormatan semu. George Bernard Shaw mengatakan, “Titel memberi kehormatan kepada orang-orang medioker, memberi rasa malu bagi orang-orang superior, dan diperhinakan oleh orang-orang inferior.”

Ijazah penting sebagai legalitas formal pendidikan, sebagai tanda pengakuan sah secara akademis bahwa kita telah meraih predikat tingkat pendidikan tertentu. Gelar juga penting sebagai bagian yang sudah melekat pada proses itu, akan tetapi dalam proses akademis yang ideal, yang sesuai tradisi pendidikan yang benar, bahwa ilmulah sebagai tujuan besar dari proses akademis yang kita lalui. Karena sesungguhnya gelar itu adalah amanah yang harus dibuktikn, apakah bisa dipertanggungjawabkan secara moral dan sosial. Itu tergantung sungguh bagaimana proses dan output yang didapat pada bangku pendidikan bisa kita aplikasikan secara nyata dalam bidang kerja kita masing-masing. Bukan kemudian hanya dijadikan simbol kebanggaan personal semata dan itu bisa terjadi jika kita sebagai peserta didik, para penuntut ilmu, pendidik, sekolah, menghargai proses tranformasi serta transfer ilmu dlm kelas setiap hari.  Bukan semata fokus pada hasil yang akan dicapai berapa jumlah IPK, sekolah dan perguruan tinggi mana kita berasal, lalu kemudian proses itu kita pinggirkan? Ini yang harus kita luruskan. (*)

*) Sekum Serikat Guru Indonesia (SGI) Kabupaten Bima

Share
  • 19
    Shares
Komentari Berita
Komentar sepenuhnya tanggung jawab pribadi. Kearifan dalam pemilihan kata yang tidak mengandung pelecehan, intimidasi, dan SARA sangat kami hargai.

Bimakini.com adalah portal berita Bima Dompu Terkini. Bagian dari Bimeks Group.

Alamat: Jl. Gajah Mada No. 46 BTN Penatoi Kota Bima, NTB Tlp: 0374-646840, 08233-9031009, 0853-33143335, 0852-53523401. E-mail: info[at]bimakini[dot]com

APLIKASI ANDROID

Fanpage

Copyright © 2016 Bimakini.com. Portal Berita Bima Terkini.

To Top