Opini

Ibuku dalam Tulisanku…

Oleh : HM Nasir Ali

Foto:  HM Nasir Ali (penulis) saat berada di depan makam bunda, Hj Hj Siti Jubaidah H Jafar.

Sudah sepekan almarhumah Hj Siti Jubaidah H Jafar, meninggalkan suami tercinta HM Ali Ibrahim dan ketujuh anak-anak yang dilahirkan dan disayanginya, 21 cucu, dan tiga cicit. Kenangan terindah dan sulit dilupakan bersama Bunda.

Konon Ulama besar pada masa Tabii, Imam Hasan Al Bashri, menangis kala ibunya meninggal. Beliau ditegur oleh seseorang soal menangisnya imam besar itu.

Namun dijawab oleh Hasan Al Bashri. “Aku menangis bukan karena ketiadaan ibuku, akan tetapi aku menangis karena telah ditutup bagiku satu pintu dari pintu-pintu surga (Ibu)”.

Begitu pula berkata Malaikat kepada anak yang orang tuanya telah meninggal:

“Telah mati (hilang) penyebab kami memuliakanmu, karena orang tuamu telah tiada,”. Maka bahagiakanlah orang tua kita selagi mereka masih ada.

Ketika ibu kita sudah tiada dan berpisah untuk selama-lamanya. Baru kita merasakan suatu kehilangan yang paling berharga dalam kehidupan kita. Suara ibu, gurauan ibu, nasihat indah seorang ibu, doa seorang ibu buat anak-anaknya. Saat ibuku diturunkan dalam liang lahat, aku bersyukur masih bisa membaringkan ibuku tercinta dan menatap wajah ibuku terakhir kalinya.

Sebelum kubaringkan wajah ibu menghadap kiblat, wajah yang selalu kucium itu kutatap sesaat dan berbisik kepada Ilahi Rabbi agar ibuku dibelai dan disayangi dengan 99 Rahman dan Rahim-Nya. Kuminta agar kubur  ibuku dijadikan tempat peristirahatan yang menyenangkan (Riadul Jannah) hingga yaumil hisab.

Seorang ibu, hanya satu rahim yang diberikan oleh Tuhan untuk dibagi-bagikan kepada seluruh makluk, sehingga mereka begitu sayang kepada anak-anak mereka. Bahkan, seorang ibu rela terjaga asalkan anak-anaknya bisa tidur pulas dan tidak digigit nyamuk. Seorang ibu rela kelaparan asalkan anak-anak bisa makan  dan tersenyum bahagia.

Kini kamar ibuku sudah kosong dan tinggal fotonya yang masih bergelantungan. Semua tinggal kenangan. Aku tak bisa lagi meletakan wajahku pada kedua paha ibu sembari kuminta ibu membelaiku agar seluruh dosaku berguguran. Kalau ibuku menggerakan jari-jari tangannya di sela-sela rambutku, maka hatiku begitu adem. Saat itulah deraian air mataku tak kuasa kubendung. Namun, aku selalu menyembunyikan air mata itu agar ibu tetap bahagia melihatku.

Aku masih teringat ketika semua anak-anaknya sudah tidur pulas, dikeheningan malam ibuku mendatangi satu persatu anak-anaknya untuk dibelai, mulai dari ujung rambut hingga ujung kaki sambil bersenandung indah dengan untaian kata. ‘Mori Nawamu Anae, Pai Ro Piri Raamu Anae, Ndadi Toi Douma Desero Ntasa.’ Sampai kini saya belum paham makna dari ungkapan itu.

Kenangan terindah ibuku bersama tujuh anak-anak yang dilahirkan, HM Nasir, Suhadah, Kamlah, Anuria, Salmah, Abdul Kauf, dan Amirullah, sulit untuk dilupakan. Rasa kasih sayang, cara memberikan makan, mendidik anak-anak hingga mereka semua berkeluarga dengan terhormat dan mereka melahirkan  21 cucu dan tiga cicit.

Seorang istri (Ibu) yang dipandu oleh seorang suami (Bapak) yang bertanggungjawab, mampu membesarkan dan mendidik anak-anak mereka, meski dalam keadaan sesulit apapun. Perjuangan pasti butuh peluh keringan dan cukup melelahkan. Artinya tidak semuda membalikan tangan sim salabim, tetapi mereka harus berjuang tanpa mengenal lelah.

Periode tahun 60-an dan 70-an adalah masa-masa sulit yang luar biasa, kemiskinan melanda hampir semua pasangan suami istri, termasuk keluarga kami. Saya dan adik-adik saya merasakan kesulitan itu. Tanaman padi di sawah sekitar lima bulan hingga enam bulan baru bisa panen, tanaman di ladang tadah hujan juga kerap gagal panen. Saya sendiri merasakan kesulitan itu. Jarak kelahiran saya dan anak kedua sekitar enam tahun, sedangkan anak ketiga hingga kelima agak berdekatan sekitar satu hingga dua tahun. Dua anak terakhir, Abdul Kauf dan Amirullah sudah melewati masa sulit itu.

Perjuangan ibuku sejak aku masih kecil masih tererekam indah. Tinggal di ladang dalam gubuk (Salaja-Bima-red) bersama keluarga besar, terasa pengap dan bising. Sebagai anak pertama selalu menjadi harapan dan tumpuan ibu dikala sibuk berladang bersama bapak dan mengurus rumah tangga. Ibu menyerahkan sebagian  tanggungjawab kepadaku yang masih berusia enam tahun untuk menjaga keempat adik perempuan saya, Siti Suhadah, Siti Kamlah, Anuria, dan Salmah. Untung saja Anuria adik saya yang keempat, diasuh oleh tante saya La Fare (Ina Maskur) kakak tertua dari bapak saya.

Maka tidak heran, saya bisa melakoni semua pekerjaan ibu, seperti menumbuk padi hingga bisa  memasak, memikul air, menggendong adik hingga memandikan mereka, dan lainnya. Sulitnya jika adik saya yang masih menyusui rewel, maka terpaksa saya membawa adik kecil saya ke ibu. Namun, adik yang lain pasti ikut-serta karena mereka takut ditinggal di pondokan. Justru Suhadah adik saya yang kedua paling rewel jika tidak dibawa akan mencubit adik-adiknya agar menangis dan bisa bermain dekat ibu. Bukan itu saja, saat ibu ke pasar saya harus menunggu beliau hingga berjam-jam. Adik saya yang masih menyusui harus saya antar ke rumah tetangga untuk menenangkannya bahkan diminta menyusuinya.

Setelah semua anak-anaknya berkeluarga perubahan ke arah yang lebih baik terbuka dan seluruh anak-anaknya, tidak ingin kedua orang tuanya bekerja berat seperti dulu. Kiriman mengalir seiring anak-anaknya hidup bahagia bersama keluarganya. Namun, menggarap lahan persawahan sendiri tetap dilakukan Ibu dan Bapak, tetapi tidak sesulit masa lalu.

Ketika cicit ketiga lahir, mendadak ibu menangis dan berucap bahagia, sudah ada pengganti ibu. “Saya sudah tenang meninggalkan kalian,” ujarnya saat berkumpul bersama beberapa anaknya sebelum bulan Ramadhan.

Ibuku memberitahukan bahwa dirinya berdoa khusus kepada Allah agar puasa 1441 H/2020 M tak ada yang bolong, meski usianya genap 80 tahun. Keinginan itu terkabul dan ibadah puasa yang dilakukannya genap satu bulan, tetapi tiga hari setelah lebaran kondisinya drop. Beliau memberitahukan kepadaku bahwa dirinya akan meninggal. Saya pikir itu hanya guyonan saja karena setelah saya berobat ke Bidan Sarah langganan beliau di Kelurahan Kumbe Kota Bima, beliau segar dan sehat kembali. Namun, dua hari kemudian rawat inap di rumah setelah mendapatkan carian infus dan minum obat kembali membaik hingga beliau mengajak saya ke Bidan Sara ingin disuntik. Saya membonceng beliau dan diapit oleh Intan cucunya. Setelah beberapa saat melewati Pondok Darul Furkan Dodu satu sandal ibu copot dan jatuh, Intan mengambil sandal itu dan sandal lain saya copot dari kaki ibu. Sandal itu saya simpan di dekat kaki saya di bagian depan motor beat, tetapi justru kedua-duanya jatuh lagi. Sehari setelah itu, beliau bercerita kepada suaminya bahwa dirinya telah menerima undangan dan sudah berkeliling Kota Mekkah bersama pengantarnya. Tiga hari menjelang wafat beliau, saya diberitahu Intan cucunya bahwa tangan dan kaki nenek sudah keram, saya langsung ke rumah dan melihat kondisi beliau sudah parah saya menelepon Bidan yang biasa menginfus beliau. Disarankan ke rumah sakit, tetapi beliau sendiri bilang jangan nak, rawat di sini saja. Saya langsung meminta perawat untuk memasang infus. Karena ibuku tidak bisa makan lagi bidan menyarankan membeli paket infus nutrisi lengkap seperti makanan melalui infus. Saya langsung ke Apotik Rumah Sakit Umum Bima dan membeli paket itu. Tangan dan kaki yang keram tadi bisa diluruskan dan mulai tenang. Pada hari ketiga setelah dirawat, ibu dipanggil Allah kembali dengan tenang kehadiran Ilahi. Saya sempat menuntun beliau hingga gerakan terakhir mengangkat tangan seakan sedang bertakbir. Innalilahi Wa Inna Ilahi Raajiuun. Sesungguhnya yang datang dari Allah akan kembali kepada Allah. Selamat jalan bunda, semoga husnul khatiman, doa dan keikhlasan kami menyeretai kepergian ibu. Adik-adikku saya minta agar tidak menangis dan merelakan kepergian almarhumah. (*)

Penulis adalah wartawan BimaEkspres.

Share
  • 54
    Shares
Komentari Berita
Komentar sepenuhnya tanggung jawab pribadi. Kearifan dalam pemilihan kata yang tidak mengandung pelecehan, intimidasi, dan SARA sangat kami hargai.

Bimakini.com adalah portal berita Bima Dompu Terkini. Bagian dari Bimeks Group.

Alamat: Jl. Gajah Mada No. 46 BTN Penatoi Kota Bima, NTB Tlp: 0374-646840, 08233-9031009, 0853-33143335, 0852-53523401. E-mail: info[at]bimakini[dot]com

APLIKASI ANDROID

Fanpage

Copyright © 2016 Bimakini.com. Portal Berita Bima Terkini.

To Top