CATATAN KHAS KMA

Panggung itu, Bernama Facebook

Penulis, Khairudin M. Ali.

TAHUN 2009 lalu, ketika itu saya sedang menjadi Ketua Panwaslu Kota Bima. Seorang staf menawarkan kepada saya agar membuat akun Facebook. Sejenak saya mendengar penjelasannya. Mirip Friendster, saya pikir. Mungkin generasi sekarang tidak mengenalnya. Sebuah program atau aplikasi untuk menghubungkan kita dengan siapa saja. Syaratnya, harus juga memiliki akun di Facebook. Menarik, saya bisa terhubung dengan banyak kawan lama yang kehilangan kontak.

Itu awalnya. Akun pun dibuat. Apa saja saya posting. Foto keluarga, bahkan saat mau makan pun, posting dahulu. Kadang lupa bersyukur atas rezeki itu. Pokoknya eksis, ingin orang lain tahu kita sedang apa, berada di mana, dengan siapa. Tentu lebih keren kalau foto bareng seorang tokoh. Apa yang diharapkan? Komentar dan klik like dari banyak orang. Makin banyak komentar dan like, kita senang. Kita akhirnya banyak sekali menghabiskan waktu untuk menengok aplikasi berlogo biru dengan tulisan huruf f kecil itu.

Pengguna Facebook kian massif. Bos Facebook, mas Mark Zuckerberg, membatasi jumlah teman setiap akun. Hanya maksimum lima ribu. Selebihnya tidak bisa dikonfirmasi. Hanya butuh waktu setahun, teman saya sudah mencapai angka itu. Lainnya antre. Jumlahnya tidak kalah banyak, lebih lima ribu juga. Itu tidak bisa dikonfirmasi. Kalau ingin ikut membaca postingan saya, Facebook menawarkan untuk klik IKUT saja. Tidak bisa berteman, tetapi mengikuti. Kelemahannya, saya tidak bisa melihat postingan para pengikut itu. Rasanya berat sebelah.

Untuk interaksi daring, Facebook menyediakan fasilitas chat di ruang messenger. Ruang chat pribadi, end to end, atau juga bisa ramai-ramai dengan banyak teman. Foto dan video juga bisa dikirim di situ. Semakin ke sini, baik Facebook maupun messenger, kian canggih. Messenger pun dipisah menggunakan aplikasi sendiri. Facebook kini menyediakan layanan siaran langsung. Keren!

Pada suatu pertemuan yang digagas Voice of America (VOA) di Surabaya, kami dibimbing untuk memanfaatkan Facebook lebih dari sekadar eksis. Sebagai pendiri radio dan televisi di Bima, diarahkan untuk memanfaatkan aplikasi itu secara maksimal. Mengatasi terbatasnya pertemanan yang hanya lima ribu, Facebook menyedian Fanpage. Jumlah teman menjadi tidak terbatas. Bedanya, seseorang harus klik like (suka) pada Fanpage itu, baru bisa terhubung. Level ini meningkat, dari berteman menjadi semacam fans. Nah, tidak mudah menurunkan level orang, menaikkan level sendiri. Saya memutuskan tidak membuka Fanpage pribadi ini. Rasanya tidak setara.

Ada juga group. Ini levelnya masih setara. Seseorang bisa bergabung karena ada kepentingan yang sama. Jika tidak punya kepentingan, kita bisa menolak. Misalnya group musik, group diskusi, group budaya, dan lain-lain. Bahkan group ini dipakai untuk mengumpulkan orang yang memiliki orientasi seks yang sama.

Sekarang, Facebook menjadi sarana bisnis juga. Ibu-ibu dan remaja putri, cepat sekali percaya pada iklan yang muncul di Facebook. Kadang ada yang tertipu, karena pengiklan abal-abal. Kadang ada yang menyesal, karena terpengaruh tampilan video. Mereka membeli dengan harga sangat mahal. Barang serupa di marketplace lain bisa setengahnya saja. Itulah kekuatan iklan! Mempengaruhi keputusan pembeli karena visual yang lebih menarik.

Masyarakat kita pun memanfaatkan untuk berjualan. Tidak hanya iklan berbayar di Facebook. Pemilik akun biasa juga bisa jualan di Facebook. Laku juga. Banyak yang sukses. Apalagi jejak penjualnya baik, barang yang ditawarkan bagus, harganya terjangkau. Tidak bohong dan mengecewakan pelanggan.

Sekarang banyak perusahaan swasta yang meminta pelamar untuk menyertakan akun Facebook sebagai sayarat. Dengan membaca isi akun Facebook pelamar, perusahaan akan tahu banyak hal. Watak, emosi, kemampuan mengungkapkan perasaan, pandangan, juga pendapat dan sikap pribadi. Bahkan cara menulis yang benar juga tidak luput dari perhatian. Seorang pelamar ditolak karena membuat status buruk tentang perusahaan lama tempat dia bekerja sebelumnya. Ini buruk! Maka hati-hatilah meninggalkan jejak digital Anda.

Kadang kita sangat tergoda ketika membuka aplikasi ini. Karena tidak ada notifikasi baru, kita ingin yang ramai. Pertanyaan Apa yang Anda Pikirkan itu, selalu ingin kita jawab. Nakalnya Facebook dengan pertanyaan itu membuat semua kita tergoda. Apa urgensinya Facebook atau dunia ingin mengetahui pikiran kita. Terlalu kepo kan? Kita terjebak untuk mengeluarkan sesuatu yang bersifat rahasia dan urusan pribadi. Bahkan aib rumah tangga kita umbar. Teman curhat bukan lagi ibu, tetapi Facebook.

Kita juga tidak sadar dengan sesuatu yang sedang viral. Ada tantangan menulis kawan dekat misalnya. Kita tidak tahu kalau itu semacam survei konsumen untuk kepentingan pasar. Kebiasaan, kegemaran, bahkan kebutuhan spesifik kita akhirnya terdata. Kita mungkin tidak sadar kalau iklan online sekarang itu sangat segmented. Tidak serampangan. Iklan yang muncul di beranda kita, berbeda dengan beranda orang lain. Saya yang baru saja mencari handphone di Bukalapak misalnya, ketika saya membuka Facebook, isinya hanya iklan handphone. Demikian pula dengan iklan di aplikasi lainnya. Semuanya handphone. Di hari lain saya mencari barang lain, pun kita terus dikejar. Begitu seterusnya.

Facebook bukan hanya etalase barang dagangan. Facebook sudah menjadi panggung baru bagi setiap orang. Banyak bintang lahir dari Facebook. Politisi, pengamat, juga aktivis. Kadang lebih gaduh dari kenyataannya. Bahkan saling maki dan hujat dengan bahasa kasar tanpa pertimbangan. Tidak sedikit yang berujung pengadilan hukum. Terjerat Undang-Undang ITE (Informasi dan Transaksi Elektronik). Ada yang tersinggung, lapor polisi, ditangkap.

Lebih ramai saat musim pemilihan kepala daerah (Pilkada). Semua menjadi pengamat, semua menjadi ahli hukum, semua menjadi pendukung, semua menjadi pembenci. Sulit dibedakan lagi mana informasi yang benar. Semuanya merasa benar. Berdebat tak ada ujungnya. Yang paling benar satu-satunya hanyalah kepentingan. Seseorang yang berkepentingan atas sesuatu, misalnya mendukung calon tertentu, pastilah selalu benar dengan calonnya itu. Lainnya salah!

Uniknya lagi, media mainstream yang harusnya kerja berlandaskan kode etik, bekerja dengan Undang-Undang Pers, nyaris sama dengan Facebook. Menjadi panggung yang berisi informasi bias. Kadang mengabaikan keseimbangan, jarang konfirmasi, berita pun sering sepihak.  Pengecekan silang atas informasi nyaris tidak diperlukan lagi.

Harusnya media mainstream ini ikut andil dalam mendidik masyarakat. Mencerahkan. Bukan seperti media sosial. Jika di Facebook siapa saja bisa menjadi narasumber, media mainstream memilih dengan ketat berdasarkan kompetensi. Jika Facebook gaduh, media mainstream hadir untuk mencerahkan, menenangkan. Untuk menata ini kembali, tugas berat ada di pundak organisasi pers, organisasi profesi pekerja pers.  Belum terlambat untuk memulai. Ayo menjadi pekerja pers profesional. Ayo PWI, ayo AJI, ayo MOI. Salam Khas! (Khairudin M. Ali)

Share
  • 65
    Shares
Komentari Berita
Komentar sepenuhnya tanggung jawab pribadi. Kearifan dalam pemilihan kata yang tidak mengandung pelecehan, intimidasi, dan SARA sangat kami hargai.

Bimakini.com adalah portal berita Bima Dompu Terkini. Bagian dari Bimeks Group.

Alamat: Jl. Gajah Mada No. 46 BTN Penatoi Kota Bima, NTB Tlp: 0374-646840, 08233-9031009, 0853-33143335, 0852-53523401. E-mail: info[at]bimakini[dot]com

APLIKASI ANDROID

Fanpage

Copyright © 2016 Bimakini.com. Portal Berita Bima Terkini.

To Top