Connect with us

Ketik yang Anda cari

Olahraga & Kesehatan

Taklukkan Bima dengan Sepeda (3)

Di Pantai Pasir Putih Bajo Pulau

Touring Sape

Tidak tanggung-tanggung, BBL memutuskan untuk ke Sape, kecamatan ujung timur Kabupaten Bima, dengan jarak tempuh darat 45 km. Yang menjadi masalah sebenarnya bukan jaraknya, tetapi ada jalan menanjak yang sangat ekstrim untuk bisa sampai ke Sape yaitu sebelum masuk wilayah Kecamatan Wawo. Wawo kalau bahasa Bima, berarti di atas. Kecamatan ini berada di atas gunung dengan perkiraan tinggi di atas permukaan laut sekitar 500-600 m.

 

Rapat persiapan dan pemantapan yang disebut dengan Tour de Sape ini pun dilakukan. Waktu dan teknis pun ditentukan yaitu Minggu, tanggal 22 Januari 2012. Semua anggota sepakat, bahkan ada yang mengaku rohnya sudah sampai ke Sape, sebelum pelaksanaan tour dilaksanakan. Pembahasan teknis yang paling krusial adalah soal kendaraan pendukung untuk logistik dan angkut sepeda. BBL pun  menyepakati pada saat tanjakan, sepeda diangkuat dengan mobil pick cup. Peserta tidak wajib mengayuh terus menerus dalam rute ekstrim naik itu. Rute yang disepakati pun adalah Kota Bima-Dodu-Cabang Santangi. Pilihan ini dilakukan karena jarak tempuh lebih pendek dibandingkan kalau melewati lewat Lampe.

Disepakati pula, ketika tanjakan dimulai di Dodu, sepeda semua diangkut, kecuali jika ada peserta yang ingin mencoba terus mengayuh di jalan menanjak itu. Waktu start yang ditunggu pun tiba. Pukul 05.30 Wita kami berkumpul. Doa pun kami panjatkan sebelum berangkat. Kru Bima TV pun ikut sibuk wawancara dan mengambil gambar. Rute jauh pertama ini rupanya mengundang perhatian Bima TV dan melakukan pengambilan gambar untuk acara Ndolo. Peserta pun menjadi semangat karena adanya liputan ini. Kami tentu saja berharap tidak ada halangan selama menempuh jalur panjang itu. Iringan sepeda di pagi buta dan raungan sirene mobil ambulans sebagai pembuka jalan mulai meninggalkan tempat berkumpul di markas 2.

Perlahan namun pasti, rombongan terus bergerak dan meninggalkan kota. Beberapa saat kemudian, kami sudah masuk wilayah Desa Dodu. Kiri kanan jalan disuguhi pemandangan yang menyejukkan mata. Inilah satu bagian menarik dari bersepeda ini. Kami memadukan antara unsur olahraga dengan rekreaksi. Pemandangan indah yang belum tentu kami bisa nikmati pagi-pagi di hari lain. Kami hanya butuh waktu satu jam, sebelum akhirnya sampai pada titik jalan yang mulai menanjak. Mobil pick up milik Listra Jaya dan Astra Motor sudah siap untuk menaikkan sepeda di tanjakan Dodu.

Seperti biasanya, anggota BBL yang kebanyakan narsis, tentu termasuk saya, berpose dengan berbagai gaya untuk diabadikan. Selain menggunakan kamera profesional, yang paling ramai adalah dengan kamera BB dan langsung di-uppload di group. Inilah salah satu sisi menarik dari komunitas ini. Membangun kebersamaan dan komunikasi akrab di antara sesama anggota dengan segala saluran komunikasi yang ada.

Ada pemandangan menarik ketika hampir semua sepeda dinaikkan di mobil, karena ada dua peserta yang terus mengayuh. Mereka adalah Lurah Rabangodu Selatan, Zulkifli, SH dan Pak Abdi. Seperti juga anggota lainnya Pak Lurah ini sebenarnya adalah pemula. Sepeda pun baru dibeli sepekan sebelum Tour Sape digelar. Tetapi karena kondisi fisiknya yang masih oke, dia berhasil menaklukkan Wawo dan bergabung kembali dengan peserta lain yang menunggunya di Desa Maria. Lain halnya dengan Pak Abdi, yang memang jagonya sepeda. Dia sudah sangat lama naik sepeda. Jadi wajar saja kalau mampu menaklukkan tanjakan Dodu-Santangi.

Di desa Maria, depan Polsek Wawo, diputuskan semua sepeda diturunkan. Tetapi beberapa wanita, memilih tidak ikut mengayuh karena sepanjang wilayah Kecamatan Wawo sesunggunhnya tetap ada jalan menanjak walau tidak seberat jalur Dodu-Santangi atau Lampe-Santangi. Di sini kami diuji kemampuan untuk mengayuh sepeda, sampai ke desa Raba, ujung timur Kecamatan Wawo yang berbatasan dengan kecamatan Sape. Kami berharap bisa segera sampai di tempat ini, biasanya ada penjual jagung bakar dan jalan akan menurun. Sekitar 5 km kami tidak akan mengayuh sepeda sampai ke desa pertama, wilayah Kecamatan Sape.

Rombongan pun akhirnya sampai dengan selamat di puncak tempat warga biasanya mampir untuk sekadar rehat sambil makan jagung bakar. Di sini kami minum kopi sambil memakan camilan yang kami bawa dengan mobil logistik. Kami istirahat tidak sampai setengah jam, sebelum akhirnya naik sepeda tanpa mengayuh karena jalanannya yang menurun. Rasanya asyik dan ada sensasi luar biasa. Kami merasakan kenikmatan bersepeda setelah mengayuh di jalan menanjak.

Di atas puncak ini, pemandangannya menakjubkan. Sape juga sudah kelihatan. Seperti istilah Ketua BBL, drg Budi Prabowo, ruh kami sudah sampai ke Sape. Kami menatap dengan rasa senang. Sape sudah di depan mata. Tetapi dari jarak sebenarnya masih 18 km. Cuma memang, tinggal 13 km lagi mengayuh, karena 5 km setelah puncak, kami hanya mengarahkan stang sepeda, tanpa mengayuh. Pasti seru. (bersambung)

Click to comment
Komentar sepenuhnya tanggung jawab pribadi. Hindari komentar bermuatan pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Berita Terkait

CATATAN KHAS KMA

SAYA belum pernah alami ini: handphone tidak bisa dipakai karena panas. Bukan hanya sekali, Tetapi berkali-kali. Juga, bukan hanya saya, tetapi juga dua kawan...

CATATAN KHAS KMA

CATATAN Khas saya, Khairudin M. Ali ingin menyoroti beberapa video viral yang beredar di media sosial, terkait dengan protokol penanganan Covid-19. Saya agak terusik...

Berita

SEPERTI biasa, pagi ini saya membaca Harian  BimaEkspres (BiMEKS) yang terbit pada Senin, 10 Februari 2020. Sehari setelah perayaan Hari Pers Nasional (HPN). Mengagetkan...

NTB

Mataram, Bimakini.- Wakil Gubernur NTB, Dr. Hj. Sitti Rohmi Djalillah, menaruh perhatian pada penyelenggaraan kegiatan sepeda internasional, Enduro 2020. Pemprov NTB siap mendukung kegiatan...