Connect with us

Ketik yang Anda cari

CATATAN KHAS KMA

Duka Bima, Duka Kita

Puing sisa kebakaran di Desa Naru Barat.

SAYA belum pernah alami ini: handphone tidak bisa dipakai karena panas. Bukan hanya sekali, Tetapi berkali-kali. Juga, bukan hanya saya, tetapi juga dua kawan saya. Entahlah yang lain.

Ini terjadi di lokasi kebakaran Desa Naru Barat, Senin, 11 Oktober 2021 kemarin. HP saya butuh didinginkan begitu lama baru bisa dipakai kembali. Ceritanya: saya dan dua kawan saya itu mengambil video. Saya pikir biasa saja. Selama ini saya ambil video dalam jangka yang lama juga, tidak apa-apa. Tiba-tiba muncul pesan di layar: perangkat tidak bisa digunakan karena kelebihan panas.

Beraktivitas di bekas puing kebakaran, siang terik ternyata berdampak pada operasinya smart phone. Overheat, kelebihan panas. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana panasnya saat kejadian.

Saya bertahan cukup lama di tumpukan banyak bekas kebakaran itu. Yang kayu jadi arang, seng masih utuh. Tapi tidak bisa dipakai lagi. Jadi sampah. Motor tinggal kerangka, yang berbahan timah sudah meleleh. Nah, sampah yang dikumpulkan bertruk-truk oleh aparat Pol PP, TNI, Polisi, dan warga itu ya seng bekas itu. Lainyanya lenyap. Rata dengan dengan tanah.

‘’Kami hanya lari dengan pakaian di badan,’’ ujar Nur Kusmiati kepada saya.

Nur Kusmiati, korban kebakaran.

Bagaimana dengan dokumen kependudukan, sertifikat, dan lain-lain? Lenyap. ‘’Kami hanya menyelamatkan nyawa keluarga,’’ tambahnya.

Seorang nenek berusia renta, begitu panik. Saat tidur siang di rumahnya, terbangun karena merasakan hawa panas. Begitu melihat keluar, asap hitam suha menyelimuti. Umi Jahorah yang berusia lebih 70 tahun itu, lari menyelamatkan diri, bahkan tidak sempat memakai kerudung. Ia tinggal sendiri lebih sepuluh tahun di rumanya itu, setelah ditinggal mati suami. Anak-anaknya pun sudah berkeluarga semua. Saat ini ia mengungsi di Desa Naru Timur, di rumah anak ke duanya, bernama Syamsudin.

Nenek Jahorah.

Kepala Desa Naru Barat, H Anwar H Mukmin, segera mengurus dokumen-dokumen penting warga korban bencana. ‘’Kami segera berkoordinasi dengan Dukcapil dan Badan Pertanahan,’’ katanya kepada saya.

Kejadiannya Ahad, 10 Oktober 2021. Begitu cepat. ‘’Hanya dua jam. Semuanya ludes. Api begitu cepat menyambar dan menghanguskan rumah-rumah warga. Sebanyak 65 rumah terdampak, 47 rata dengan tanah,’’ kata Camat Sape, Akbar, SP kepada saya saat di lokasi Senin.

Akbar menyebut ada kesulitan mobil Pemadam Kebakaran (PMK) melaksanakan tugasnya. Di samping karena gang yang sempit, di pusat kebakaran tidak ada akses masuk. Tidak ada jalan. Pemukiman begitu padat. Uniknya lagi, ada warga yang ikutan rebutan nozzle PMK. Panik!

Hingga sore sehari setelah kejadian, belum ada dapur umum di lokasi. Korban dan keluarganya menumpang di rumah kerabat. Ada tenda besar yang sudah dibangun untuk posko. Mereka mulai memasang tenda-tenda darurat di atas bekas rumah mereka. Tenda itu sumbangan dari warga Kota Bima. Saya tahu karena saya diberitahu. Tetapi siapa namanya, saya enggan menulis. Siapa tahu yang bersangkutan tidak ingin dipublikasi. Saya belum minta izin karena tidak jumpa dengan dermawan yang menyumbang 64 lembar terpal itu.

Warga juga sangat terbantu dengan aksi sosial dari masyarakat. Makan dan minum terus berdatangan. Paling tidak untuk hari pertama kemarin. Ormas dan lembaga swadaya masyarakat juga sudah mulai membangun posko kemanusiaan, selain TNI dan Polri.

Dokumen kependudukan menurut Kabid Pengelolaan Informasi Administrasi Kependudukan (PIAK) Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil, Kabupaten Bima, Anwar, ST, MT sudah dicetak sebagai pengganti. ‘’Sore ini secara simbolis sudah diserahkan oleh Bupati Bima, Hj Indah Dhamayanti Putri,’’ katanya kepada saya.

Bupati Bima yang baru tiba dari Mataram, lengsung ke lokasi bencana. Hanya sebentar. Saya yang menunggu Bupati Bima Ramah ini tidak ketemu. Ternyata hanya mampir sebentar, karena melanjutkan perjalalan ke Soro, Kecamatan Lambu. Ada masalah juga di sana yang butuh perhatian.

 

Warga yang membangun tenda darurat.

Bima TV yang melakukan siaran langsung dari lokasi terkendala panasnya perangkat. Ya itu tadi, seperti yang saya tulis di atas. Saya tidak tahu persis berapa suhunya. Istri saya bilang, saya sudah hitam. Harusnya bukan sudah hitam, karena dasarnya memang sudah hitam. Yang benar semakin hitam.

Saya bersama Sofiyan Asy’ari dan Ikra Hardiansyah tiba pukul 10.00 Wita di lokasi bencana. Tidak buang waktu, kami mulai mengambil gambar, mewawancarai narasumber, juga mengabadikan momen pada hari itu.  Pembersihan puing bekas kebakaran baru saja dimulai. Debu beterbangan ditiup angin yang cukup kancang. Warga korban kebakaran, hanya menatap nanar bekas-bekas rumah mereka. Bau bawang hangus tercium cukup menyengat. ‘’Iya banyak warga yang bawangnya ikut terbakar,’’ kata warga kepada saya.

Banyak cerita di balik peristiwa ini. Ada yang baru saja jual bawang, tetapi uangnya ikut terbakar. Uang itu tidak sedikit. Lebih Rp100 juta. Ada pula warga yang dititipkan uang untuk beli sapi, tetapi sempat. Uangnya ikutan hangus. Nilainya juga lebih Rp100 juta. ‘’Kerugian sedang dihitung, tetapi diperkirakan lebih dari Rp8 miliar,’’ kata Akbar. Selain rumah dan harta, ada hasil pertanian seperti bawang dan padi yang ikutan terbakar.

H Anwar H Mukmin, Kades Naru Barat

Saat ini masyarakat butuh bantuan makanan dan pakaian. Untuk makan setiap hari, relawan masih terus berdatangan membawa bantuan. Bahkan ada yang jauh-jauh datang dari Dompu. Air bersih juga terus diantarkan oleh berbagai pihak, termasuk Bank NTB Syariah yang menyiapkan air dan mobil tangki selama dibutuhkan.

‘’Kami sangat butuh pakaian, karena kami hanya punya pakaian di badan saja,’’ kata Nur.

Ayo bantu saudara kita yang sedang alami musibah. Banyak posko bantuan dan penggalangan dana yang sudah didirikan. Anggota DPRRI, H Muhammad Syafruddin dari Partai Amanat Nasional (PAN) sudah menjadwalkan bhakti sosial di lokasi bencana pada 18 Oktober 2021 mendatang. Ayo bantu saudara kita di Naru Barat. Ini bukan hanya duka Sape, tetapi juga duka Bima, duka kemanusiaan! (khairudin m. ali)

 

Click to comment
Komentar sepenuhnya tanggung jawab pribadi. Hindari komentar bermuatan pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Berita Terkait

CATATAN KHAS KMA

SAYA tidak punya pengalaman yang cukup untuk menulis tentang olah raga. Sejak pertama menjadi wartawan pun, saya lebih banyak menjadi wartawan bisnis, walau kadang...

CATATAN KHAS KMA

SAYA harus sering tulis soal ini. Siaran televisi digital. Ini penting, supaya migrasi dari analog ke digital, bisa berjalan sukses. Literasi televisi digital masih...

CATATAN KHAS KMA

MENJADI pelopor, kadang tidak mahal. Hanya butuh keberanian. Berani berpikir bahwa kita bisa. Itu saja. Jangan berpikir tidak bisa sebelum dicoba. Yang menjadi hambatan...

CATATAN KHAS KMA

SAYA cukup beruntung. Dua hari, sejak Ahad, 29 Agustus 2021, hingga keesokan harinya, saya bisa jumpa dan diskusi dengan dua tokoh ini: Dr Abdul...