Olahraga & Kesehatan

Taklukkan Bima dengan Sepeda (4)

Almarhum Rahman Hakim

EDISI ini saya ingin dedikasi buat Rahman Hakim, seorang pendiri sekaligus anggota BBL. Dia meninggal karena kecelakaan pada Sabtu, 24 Maret 2012 di Pusuk Lombok Barat. Dia pulang libur ke rumah orang tuannya karena akhir pekan panjang. Kami sangat berduka, Rahman ikut bersama kami waktu Tour Sape dilaksanakan. Kebetulan saat tulisan ini dibuat, berita duka itu kami terima.

 

Camat Mpunda, Drs Is Fahmin mengingatkan agar peserta berhati-hati karena tidak boleh terlena dengan jalan turun. Banyak tikungan tajam, kerikil lepas karena baru saja diaspal dan ada material gunung yang dibawa oleh air dan menutupi badan jalan. Hampir semua peserta bersuka ria. Inilah yang kami sebut, ada nikmat setelah sengsara. Kami benar-benar menikmati jalanan menurut sejauh 5 km itu. Tanpa hambatan, akhirnya kami sampai juga di dusun Lesu, ujung timur wilayah Wawo yang merupakan perbatasan dengan Kecamatan Sape. Roda sepeda terus melaju dengan kecepatan yang lumayan. Beberapa peserta yang sepedanya menggunakan alat pencatat meter digital mengatakan, kecepatan sepeda kami saat menempuh jalanan turun itu, antara 45-50 km per jam. Lumayan!

Desa pertama yang kami jumpai adalah Sari, kemudian Tanah Putih, dan desa Boke. Di sini jalannya relatif rata. Di desa Jia, kami dijemput oleh teman-teman komunitas sepeda dari Kecamatan Sape. Jumlahnya lumayan, lebih dari 20 orang. Dikomandani Didi Salahudin, seorang guru SMA Negeri 1 Sape yang ternyata sudah sangat lama bersepeda. Selain Didi, ada Muhammad Olan yang juga guru di Sape. Mereka bercerita, di Sape sudah cukup lama bersepeda. Mereka bahkan sudah bergabung dengan kelompok pelopor penggunaan sepeda untuk bekerja di ibukota RI yang bernama Bike to Work yang disingkat B2W. Mereka pun  berinisiatif mendirikan B2W Bima.

Hebatnya lagi, mereka berhasil meyakinkan banyak pihak, termasuk kepala SMA Negeri 1 Sape, sehingga dibuatlah tempat parkir khusus sepeda di sekolah ini. Ini tentunya sebuah kabar baik, untuk mengurangi polusi udara dan penghematan penggunaan BBM. SMA 1 Sape telah menjadi pelopor di daerah ini, yaitu sekolah yang telah menyediakan tempat parkir khusus untuk sepeda.

Setelah penerimaan sederhana oleh teman-teman di desa Jia, kami pun meneruskan perjalanan. Kami juga menemukan banyak sahabat baru di sini seperti Indy, Calvin, Ida, Subair, dan kawan-kawan lainnya. Komunikasi dengan sahabat-sahabat di Sape pun sampai kini masih sangat lancar. Bahkan di facebook dan BB ada groupnya, sehingga memudahkan untuk terus menjalin silaturahmi.

Sebagai tamu, selanjutnya kami hanya mengikuti rute yang sudah ditentukan oleh kawan-kawan Sape. Begitu masuk desa Nae, kami memutar ke utara ke Desa Sangia, kemudian ke timur dan kembali masuk kota dan mengikuti jalan ke arah pelabuhan Sape yang sempat populer oleh kasus tewasnya dua warga Lambu yang melakukan aksi pemblokiran pada 24 Desember 2011 lalu. Sebenarnya pada hari Minggu ketika kami ke Sape itu pun, ada aksi serupa. Cuma warga tidak menutup pelabuhan, tetapi menutup akses ke pelabuhan. Aksi itu juga tidak berlangsung lama, karena mereka membubarkan diri lebih cepat. Kasus penolakan warga Lambu terhadap SK eksplorasi pertambangan sempat mengundang perhatian nasional setelah tewasnya dua warga di Pelabuhan Sape. Bahkan kasus ini berujung pada pembakaran kantor Bupati Bima.

Sesampai di Sape, kami sempat menikmati kicauan burung di dekat terminal. Rupanya komunitas Bima Bird Lovers sedang melakukan latihan rutin. Setelah sejenak melepas lelah, kami akhinya makan siang di sebuah rumah makan di Pelabuhan, sebelum berkunjung ke pantai indah berpasir putih di Bajo Tengah, Pulau Bajo. Kami juga mengunjungi telaga bidadari, serta gua walet. Walet di gua itu bisa menghasilkan puluhan kilogram air liur dan sarang yang bernilai ekonomis tinggi. Sarang burung walet ini juga menjadi sumber PAD Kabupaten Bima, yang diserahkan pengelolaannya pada pihak ke tiga.

Setelah puas menikmati ikan bakar dan pemandangan pantai berpasir putih, kami pun berkemas untuk pulang. Menjelang sore, kami pun pulang ke Kota Bima. Kami menyewa dua perahu motor untuk mengantar dan menjemput kami.

Kembali ke Bima, kami tidak lagi mengayuh sepeda. Itulah tour kami yang penuh kenangan. Tulisan ini juga, saya dedikasikan untuk sahabat kami, Rahman Hakim, salah seorang anggota BBL. Dia meninggal karena kecelakaan Sabtu, 24 Maret 2012 di Pusuk, Lombok Barat. Almarhum Rahman dikebumikan di kediaman orang tuanya, lingkungan Oloh, Kota Mataram. Dia bertugas di Bima sebagai karyawan BNI 46.

Bagi anggota BBL, Rahman bukan sekadar anggota biasa. Dia juga salah satu pendiri. Bahkan dia pernah meraih juara sepeda lambat ketika sepeda santai Dikes Kota Bima digelar pada akhir tahun 2011.

Rahman mencatat waktu paling lambat sampai finish, pada lomba tambahan setelah acara inti berakhir, di halaman kantor Walikota Bima. Bukan hanya itu, Rahman juga memiliki catatan khusus bagi rekan-rekan di Sape, karena dia peserta yang pertama tiba di terminal baru Sape, yaitu di sebelah timur desa Jia.

Karena dia tiba lebih awal, teman-teman di Sape memiliki waktu yang cukup untuk berkenalan dengan sosok sederhana ini. ‘’Kami sangat kehilangan, terima kasih untuk perkenalan kita saat BBL touring Sape,’’ kata Didi Salahudin, koordinator komunitas sepeda Sape, yang juga ketua B2W Bima seperti ditulilis di wall group BBL di facebook.

Muhammad Olan atau biasa disapa Olan Nuxer juga, punya kenangan sendiri tentang sosok Rahman. ‘’Kami benar-benar kehilangan,’’ ujarnya.

Berita kecelakaan yang menewaskan Rahman, benar-benar menghentak BBL. Kami menerima kabar itu saat menghadiri acara silaturahmi dari I Wayan Gede, salah seorang anggota yang tengah merayakan Nyepi. Wayan Gede adalah Kepala PT Jasa Raharja Perwakilan Bima.

Selama dua hari hampir seluruh anggota BBL di BBM memasang foto Rahman sebagai foto profilnya. Seluruhnya juga memasang status duka: Selamat jalan sahabatku.

Berbagai foto kenangan Rahman pun, di-share hampir memenuhi wall group BBL di BBM. Setiap anggota yang memiliki foto kenangan dengan almarhum, segera saja share. ‘’Selamat jalan pahlawan BBL,’’ tulis Ketua BBL, drg Budi Prabowo.

Dina, salah seorang pengurus pun mengaku sangat kehilangan. ‘’Kami akan selalu merindukanmu sahabat,’’ tulisnya.

Demikian pula Fredy Lau, Ilham, Dyan, Heni, Etries, Yudi, Bayu, Febriyan, Rining, Haliem, Ais, Gifar, . ‘’Kami benar-benar berduka,’’ kata mereka. Di antara anggota BBL, ada yg begitu dekat dengan Rahman. Dia adalah Ida Bima. Dia juga yang pertama memberi kabar soal berita duka itu, saat kami sedang hadiri undangan makan siang di rumah Pak I Wayan Gede. Ida adalah rekan kerja Rahman yang mengaku punya banyak kenangan saat mencari nasabah di Sape beberapa waktu lalu.

Pada Minggu pagi 25 Maret 2012, sekitar 25 anggota BBL tidak seperti biasanya. Mereka hari itu bersepeda dengan thema ‘duka.’ Mengenakan pita hitam di lengan dan melakukan tabur bunga sambil berdoa untuk almarhum Rahman. Selamat jalan sahabat. Waktu begitu singkat saat kita bersama, tetapi kenangan yang terukir demikian dalam. Kami akan mengenangmu, kami benar-benar kehilangan kamu.   (*) 

Share
Komentari Berita
Komentar sepenuhnya tanggung jawab pribadi. Kearifan dalam pemilihan kata yang tidak mengandung pelecehan, intimidasi, dan SARA sangat kami hargai.

Bimakini.com adalah portal berita Bima Dompu Terkini. Bagian dari Bimeks Group.

Alamat: Jl. Gajah Mada No. 46 BTN Penatoi Kota Bima, NTB Tlp: 0374-646840, 08233-9031009, 0853-33143335, 0852-53523401. E-mail: info[at]bimakini[dot]com

APLIKASI ANDROID

Fanpage

Copyright © 2016 Bimakini.com. Portal Berita Bima Terkini.

To Top