Connect with us

Ketik yang Anda cari

Opini

Islam Agama Dakwah dan Pembawa Kedamaian

Musthofa Umar

 Oleh: Musthofa Umar, S. Ag, M.Pd.I

(Tulisan ini disampaikan pada Tausiyah PC PMII Bima di Masjid Al Anshor Penatoi – Kota Bima)

 Berdasarkan tinjauan historis, Islam adalah agama samawi terakhir, ia merupakan agama penutup. Tidak itu saja tapi juga sekaligus sebagai penyempurna agama samawi terdahulu, seperti Yahudi yang diturunkan Allah kepada Nabi Musa AS, dan agama Nasrani yang diturunkan Allah kepada Nabi Isa AS. Sebagai agama penutup yang menyempurnakan agama-agama terdahulu maka ajaran Islam sifatnya universal, artinya Islam tidak untuk agama bangsa Arab atau bangsa tertentu saja, akan tetapi untuk seluruh bangsa dan umat manusia di permukaan bumi ini.

 

Allah berfirman dalam surat al-Maidah ayat 3 sebagai ayat penutup yang diturunkan oleh Allah SWT.

 Artinya, “Pada hari Ini Telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan Telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan Telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.”

 Selain menjadi agama penutup dan penyempurna, Islam juga dikenal sebagai agama universal, karena itu Islam senantiasa mengajarkan kepada pemeluknya supaya melakukan sosialisasi dan aktualisasi, hablumminaAllah dan hablumminannas. Semua ini agar ajaran-ajarannya betul-betul membumi dan dipraktekkan umat manusia dalam kehidupan sehari-hari. Upaya untuk melakukan sosialisasi dan malah aktualisasi ajaran-ajaran Islam tersebut dapat dituangkan dalam berbagai bentuk kegiatan. Namun harus aktivitas itu harus sesuai dengan garis-garis kebijakan yang sudah ditentukan. 

Upaya itulah yang dinamakan dakwah, yang digarap secara berkelanjutan atau terus-menerus sejak Nabi Muhammad SAW, sahabat, tabi’in dan generasi berikutnya hingga sekarang dan Insya Allah akan berlanjut di masa yang akan datang. Mengingat tugas dakwah yang selalu digarap secara berkesinambungan itulah, maka Islam tidak dapat dipisahkan dengan dakwah. Sejak awal Islam dikenalkan, dibina dan bahkan dikembangkan di permukaan bumi ini dengan pendekatan dakwah, yang realisasinya menempuh berbagai media, metode dan bahkan strategi.

Fakta historis tersebut menjadi semakin jelas manakala dikaitkan dengan apa yang telah dicatat dalam sejarah Islam (tarikh). Nabi Muhammad SAW mendapat amanah sekaligus kepercayaan dari Allah untuk melaksanakan tugas dakwah itu secara perdana di permukaan bumi ini. Hampir seperempat abad lamanya Rasulullah SAW bekerja keras tanpa mengenal lelah, siang dan malam melancarkan tugas suci itu. Setelah menghadapi berbagai tantangan, rintangan dan cobaan yang silih berganti, akhirnya Islam bisa berkembang pesat, tak hanya di jazirah Arab tapi juga sampai berbagai pelosok negeri.

Aktivitas dakwah yang digarap Rasulullah dibantu oleh para sahabat, sehingga Islam tidak hanya berhasil menyebar ke beberapa negara. Bermula di kota Mekkah, lalu melebar ke kota Madinah. Khusus di Madinah, tidak kurang dari 10 tahun lamanya mampu mewujudkan masyarakat Islam yang berkualitas. Di sini prinsip demokrasi, toleransi dan kebersamaan bisa dipraktekkan dengan baik, walaupun kondisi masyarakat dan agama serta kepercayaan yang mereka anut sangat beragam. Tapi dengan semangat dakwah semua berada dalam pemerintahan Islam, di mana Nabi Muhammad SAW sebagai kepala negaranya.

Kondisi dakwah pada masa itu menentukan sekali, sebab bukan cuma sekadar mengembangkan agama Islam saja. Namun juga termasuk menata pemerintahan, dan membina kehidupan bermasyarakat. Fenomena ini tentu saja menarik dikaji guna menjadi cerminan sekaligus acuan untuk lebih menghidupkan lagi gerak dinamis dakwah di masa sekarang dan masa yang akan datang. Sehingga pada akhirnya nanti dapat dipahami bahwa Islam itu adalah agama dakwah.

Dakwah adalah aktualisasi atau realisasi salah satu fungsi kodrati seorang muslim, yaitu fungsi kerisalahan berupa proses pengkondisian agar seseorang atau masyarakat mengetahui, memahami, mengimani dan mengamalkan Islam sebagai ajaran dan pandangan hidup. Dengan ungkapan lain, hakikat dakwah adalah suatu upaya untuk merubah suatu keadaan menjadi keadaan yang lain yang lebih baik menurut tolak ukur ajaran Islam sehingga seseorang atau masyarakat mengamalkan Islam sebagai ajaran dan pandangan hidup. Pengkondisian dalam perubahan tersebut, berarti upaya menumbuhkan kesadaran dan kekuatan pada diri objek dakwah. Agar perubahan dapat menumbuhkan kesadaran dan kekuatan pada diri objek, maka dakwah juga harus mempunyai makna bagi pemecahan masalah kehidupan dan pemenuhan kebutuhan.

Berdasarkan perintah Tuhan, dakwah haruslah merupakan produk akhir dari proses kritis intelektual. Isinya tidak cuma berisi apa yang diketahui dan yang disajikan. Karena hal tersebut tidak ada judgement tanpa pertimbangan dalam alternatif, tanpa perbandingan dengan sesuatu yang kontras/menyolok, tanpa pengujian konsistensi ke dalam diri konsistensi umum dengan seluruh pengetahuan yang lain, tanpa pengujian mengenai hubungan dengan kenyataan. Aspek dakwah yang diperoleh dengan apa yang dikatakan hikmah atau hidayah Allah, seperti yang diperoleh Rasulullah SAW sebagai orang yang diberi hikmah yang tepat karena Islam adalah sesuatu yang harus dipelajari, bukannya pikiran sempit yang tentu saja bukan suatu “prejudgement”. Itulah sebabnya mengapa dakwah dalam Islam tidak pernah dianggap sebagai sesuatu yang eksklusif, yang ditujukan bagi orang-orang non Muslim. Dakwah juga ditujukan bagi orang Muslim seperti halnya non Muslim.

Lebih jauh dikatakan, di samping bergerak dari fakta bahwa semua manusia di hadapan Allah adalah sama, universalisme dakwah terletak pada identitas imperatif untuk mengajak orang memeluk Islam. Semua manusia mempunyai kewajiban yang sama untuk mengaktualisasikan pola Ilahi dalam ruang dan waktu. Tugas ini tidak pernah lengkap dimiliki setiap individu. Muslim adalah orang yang telah mentekadkan dirinya untuk berada dalam jalan aktualisasi dakwah. Begitulah betapa concern-nya Islam menekankan umatnya untuk berdakwah, kendatipun hasil dakwah itu sendiri tergantung pada kudrat dan iradat Allah, atau hidayah dan anugerah kasih sayang-Nya. Dalam hal ini khususnya berkenaan dengan transformasi akidah dari musyrik menjadi mukmin, dari kafir menjadi Islam, dari ragu menjadi yakin, dari negatif jadi positif, bahkan dari yang sudah baik menjadi lebih baik lagi dan seterusnya.

Allah dengan tegas menyatakan agar kaum muslimin melaksanakan dakwah, dan mereka yang melaksanakannya dinyatakan sebagai orang yang beruntung dan malah menjadi umat terbaik. Dengan berdakwah berarti kaum Muslimin telah melaksanakan tanggung jawab sosialnya, sehingga mengangkat statusnya sebagai sebaik-baik umat di antara umat yang ada di dunia ini.
Dua firman Allah dalam surah Ali Imran yang dimaksudkan itu, lengkapnya sebagai berikut :

Artinya: “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; mereka itulah orang-orang yang beruntung”.

Jadi jika dakwah Islam ingin berperan dalam pengembangan masyarakat ke arah yang diinginkannya, tentulah dakwah bi al lisan sangat membutuhkan da’wah bi al kitabah. Untuk itulah tampaknya perlu dikembangkan di kalangan para da’i bahwa menyampaikan pesan agama melalui tulisan akan sama cepatnya dengan da’wah bi al-lisan, membawa manusia ke sorga. Kebutuhan dakwah terhadap pendekatan kitabah itu semakin terlihat signifikansinya, ketika manusia terlihat semakin tidak mempunyai waktu untuk mengunjungi para da’i halaqah, dan majlis ta’limnya. Pendalaman agama lebih banyak dilakukan dengan membaca tulisan-tulisan ahli agama di mass media, majalah, jurnal-jurnal dan internet, yang sewaktu-waktu dapat ditemukannya.

Menarik diamati bahwa sejak pertama kali Isam tampil ke planet bumi, dakwah punya andil begitu besar lagi menentukan. Islam berkembang dan dibina serta dikembangkan melalui komunikasi dakwah. Karena itu Islam pun disebut agama dakwah. Predikat itu tidak saja sangat beralasan, tapi justru memang sangat relevan, sebab secara manual maupun secara digital atau berbasis teknologi dakwah bisa disosialisasikan dan diaktualisasikan kepada seluruh lapisan masyarakat.
Khusus dalam era kemajuan pesat di bidang teknologi komunikasi dan informasi yang kini tengah memasuki kehidupan manusia modern, ada berbagai macam peluang dan fasilitas yang dihasilkan teknologi komunikasi informasi, dapat dimanfaatkan untuk mendukung sistem penyelenggaraan dakwah. Baik bentuk dakwah lisan, tulisan maupun perbuatan bisa disajikan d

engan model-model yang simpatik, sesuai dengan kecenderungan situasi dan kondisi objek dakwah.
Islam sebagai agama dakwah harus mampu mempelopori diri sendiri secara prioritas, sebelum mengembangkan lebih jauh dalam bentuk lintas batas. Artinya sebelum mendakwahi orang lain kita harus mendakwahi diri sendiri lebih dahulu. Dalam hal ini apakah dalam konteks sebagai individu ataukah sebagai bagian dari komunitas umat Islam itu sendiri. Pola dakwah semacam inilah yang patut dibangun, disosialisasi, diaktualisasi dan diaplikasikan dalam kehidupan di zaman sekarang.
Sebagaimana yang diajarkan Islam, inti dakwah adalah ingin melakukan perubahan sosial, yakni terwujudnya umat Islam dan masyarakat dunia yang lebih berkualitas di bawah naungan dan tuntunan Islam. Dakwah dalam konteks kekinian dengan fenomena seperti ini, harus digarap secara lebih intens di negara kita yang memang mayoritas beragama Islam dibandingkan masyarakat lainnya di negara-negara yang ada dunia. (*)

Click to comment
Komentar sepenuhnya tanggung jawab pribadi. Hindari komentar bermuatan pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Berita Terkait

Hukum & Kriminal

Bima, Bimakini.com.- Maraknya penjual petasan saat  bulan Ramadan   menjadi atensi aparat Kepolisian. Selain meresahkan masyarakat yang sedang beribadah, juga membahayakan.

Hukum & Kriminal

Bima, Bimakini.com.-  Kontroversi pembagian los pasar Tente semakin meruncing saja. Pembahasan yang berkali-kali dilakukan, belum menemukan titik temu penyelesaian. Aksi demo saling menyuarakan aspirasi...

Peristiwa

Perairan laut selatan, khususnya di Kecamatan Langudu menyimpan daya tarik luar biasa.  Pantai Pusu Desa Pusu, memang sebelumnya cukup terisolir. Menjamah tempat ini, jalurnya...

Peristiwa

Kota Bima, Bimakini.com.- Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesua (PMII) Cabang Bima, Senin (28/3/2016) menggelar zikir dan tausiyah di masjid Al Anshor Penatoi. Tausiyah dengan tema...

Jalan-jalan

Tulisan ini merupakan bagian awal dari kisah yang lebih panjang tentang perjalanan Syahrir Idris menjelajah desa dan kota, pedalaman, dan pesisir Amerika. Selain itu, bunga...