Pendidikan

“Kalau Sekolah Ambruk, Siswa Kena, Siapa Bertanggungjawab”

Bima, Bimakini.- Sekolah yang menguatirkan dan mengancam keselamatan siswa, tidak hanya di SDN Bugis, Kecamatan Sape. Namun, kondisi sama juga terjadi di SDN Risa, Kecamatan Woha.

Sudah bertahun-tahun sekolah ini mengusulkan rehab, namun tidak kunjung ada. Saban tahun pula ada tim yang turun ke sekolah, mengecek kondisinya, namun tidak ada realisasinya.

Kepala SDN Risa, Ramli, kepada Bimakini.com mengaku, pekan lalu,  ruang kelas 5b, tiba-tiba atapnya ambruk. Genteng berjatuhan dan mengenai siswa yang sedang belajar.

Masih beruntung, kata Ramli, kondisi yang dialami siswa tidak terlalu parah. Namun, masih menguatirkan, jangan sampai kondisi yang sama akan terulang lagi.

Setidaknya ada delapan kelas, kata Ramli, yang harus direhab. Terakhir menerima dana rehab, tahun 2012, itupun ruangnya sudah rusak.

Baca Juga: Siswa SDN Bugis, Belajar dalam Bayang Maut

Baca Juga: SDN Inpres Niu Puluhan Tahun tidak Tersentuh Inovasi

Baca Juga: Tidak Usulkan Rehab, SDN Inpres Woro I Malah dapat DAK

“Proposal sudah diajukan baik melalui APBN maupun APBD. Pengajuan APBD melalui usulan UPTD. Mungkin belum dapat karena ada pemerataan,” duganya, Rabu (10/10).

Sebelum ruang kelas 5b gentengnya ambruk, kata dia, awal 2018,  bagian teras mengalami hal sama. Saat itu sedang kegiatan belajar mengajar, karena suaranya yang keras, sehingga siswa berhamburan keluar.

Masing beruntung, saat itu bukan jam istirahat, saat siswa suka bermain di teras sekolah. Kini atap bagian teras yang rusak, disangga dengan kayu.

Ramli mengaku, masih was-was dengan kondisi atap sekolah yang rusak. Jika kondisinya semakin parah, bukan tidak mungkin peristiwa ambruk atap akan terjadi lagi.

“Kalau siswa kami gena genteng, lantas apakah hanya kami yang bertanggungjawab. Padahal sudah lema mengusulkan rehab,” ungkapnya.

Ramli berharap, 2019 ada alokasi yang diperuntukkan bagi sekolahnya. Agar siswa SDN Risa dapat belajar dengan menyaman. Demikian juga guru tidak diliputi kecemasan.

Pantauan Bimakini.com, sejumlah ruangan sudah tidak memiliki plafon, sehingga ketika kayu plafon lapuk, langsung ambruk. Selain itu, sebagian ruangan masih lantai lama, belum di keramik.

Di atap teras sekolah yang disangga kayu, kondisinya sudah patah. Jika kayu  penyangga tidak mampu menahan beban, maka juga akan ambruk. (YAN)

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
Share
  • 94
    Shares
To Top