Berita

Galau soal Riba, Memilih Resign

H. Zas’ari Zainuddin, SE, CRBD

SEKELOMPOK anak muda terlihat asyik bermain bola. Masih pemanasan, jumlah mereka pun tidak banyak. Kurang dari sepuluh orang. Sambil menunggu kawan yang lain, sebagian masih terlihat duduk di pinggir tanah lapang.  Saya yang sore itu sedang ada janji, masih duduk di kendaraan dekat mereka bermain. Beberapa saat, saya menyaksikan mereka beraksi dengan bola plastik corak merah itu. Itulah suasana sore di tempat usaha tamu kita yang perdana ini, H. Zas’ari Zainuddin, SE, CRBD. Mantan Direktur Utama PT Bank Pesisir Akbar, yang kini telah banting haluan untuk buka usaha sendiri. Bagaimana kisahnya?

Mengubah jalan hidup, tidak semua orang bisa melakukannya. Apalagi sudah berada pada zona nyaman, gaji lumayan besar, hidup lumayan makmur, duduk di ruang berpendingin udara, memimpin banyak karyawan. Apalagi setelah mengubah jalan hidup itu, biasanya orang harus memulainya dari nol. Berbalik 180 derajat, tanpa fasilitas, semua dbiayai sendiri. Bahkan ada pula yang memulainya dari posisi minus. Keadaan masih sedang banyak tunggakan kredit.

Orang resign atau mengundurkan diri biasanya, selalu ada semacam triggers atau pemicu yang amat dahsyat sebelum keputusan itu diambil. Tantangan terberatnya adalah, apa yang bisa dilakukan untuk melanjutkan hidup, jika harus memilih keluar dari zona zaman itu. Demikianlah yang dialami oleh Zas’ari Zainuddin, ketika memutuskan resign dari jabatannya sebagai Direktur Utama sebuah bank yang telah membesarkannya.

‘’Ada kegalauan. Saya merasakan ada hal yang kurang nyaman dalam diri saya sebelum akhirnya memutuskan resign,’’ katanya membuka percakapan.

Saat itu saya memang sengaja mendatangi Zas’ari di tempat usahanya yang baru di Lingkungan Bina Baru, Kelurahan Dara, Kota Bima. Mengobrol lepas di tempat usahanya, sambil sesekali melayani pelanggan yang mengirim uang. Salah satu usahanya adalah menjadi agen sebuah bank syariah.

Mengapa sampai galau. Apakah terkait dengan jabatannya, profesinya, atau ada masalah di tempat kerjanya. Rupanya, kegalauan Zas’ari tidak bisa dihilangkan jika ada kawan curhat. Kegalauannya yang maha dahsyat itu ternyata hanya bisa diobati dengan resign. Mengapa?  ‘’Ini masalah hati. Semakin ke sini, saya semakin resah terutama soal riba yang sangat keras dilarang dalam agama kita,’’ kata pria kelahiran Makassar, 27 September 1965 ini.

Dia mengaku, semakin memahami dosa riba, semakin membuatnya resah. Puncaknya, ketika bercerita kepada seorang kawannya soal kegalauan itu. ‘’Kami punya group sepeda. Di situ berkumpul banyak orang dari banyak profesi. Salah seorang di antaranya adalah mantan pimpinan cabang bank BUMN di Bima. Beliau sudah pindah beberapa waktu lalu, tetapi kami masih saling interaksi melalui WhatsApp,’’ jelas suami Harisah, S.Pd ini.

Yang mengagetkan, ternyata kawannya yang sudah pindah di Bogor itu, sudah lebih dahulu resign di temptnya bekerja. ‘’Beliau sudah senior, pimpin bank BUMN pindah-pindah di banyak daerah. Eh ternyata sudah resign juga dengan alasan yang sama seperti yang saya pikirkan. Sekarang sudah punya bisnis sendiri,’’ kisahnya.

Inilah rupanya yang menjadi triggers yang amat dahsyat itu. Memahami soal riba saja ternyata tidak cukup untuk membuatnya memutuskan resign karena masih  mempertimbangkan masa depan. Tetapi ketika ada kawan yang posisinya lebih nyaman yang telah melakukan langkah serupa, dampaknya sangat dahsyat. ‘’Saya pikir beliau bisa, mengapa saya tidak? Saat itu saya banyak konsultasi soal apa yang harus dilakukan selanjutnya kalau benar-benar harus resign. Sang kawan itu memberikan motivasi. Allah akan memberikan jalan,’’ ujar alumni SMA Negeri 1 Kota Bima tahun 1984 ini seraya menirukan ucapan kawannya itu.

Zas’ari kemudian meninggalkan bank yang dirintisnya pada awal 2006 itu.  Di bank yang dibangun atas inisiasi Kementerian Kelautan Republik Indonesia dengan Pemerintah Kabupaten Bima itu, ia sejak awal sudah menjadi direktur utama. Dia pun memiliki sedikit saham dalam bank itu. Banyak kawannya juga menyimpan dananya di bank yang ia kelola itu dalam jumlah signifikan.  Banyak pula capaian yang sudah diraih. Selain aset bank yang kian membesar, selama 12 tahun mengabdi, sejumlah penghargaan pun telah diraih. Bukan hanya di dalam negeri, apresiasi dari dunia luar pun datang. Salah satu di antaranya adalah penghargaan dari Bank of Korea, bank sentral Korea Selatan. ‘’Akhirnya merasakan juga pergi ke luar negeri. Sayab sepekan berada di sana (Korea, Red),’’ ujar Ketua Umum  Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (KKSS) Bima ini.

Setelah benar-benar memutuskan resign pada Maret 2019, Zas’ari masih bingung apa yang harus dilakukan. Beruntung dia masih memiliki sedikit tabungan. Inilah yang kemudian menjadi modal awalnya.  Dalam kebingungannya, dia melakukan konsultasi dengan sejumlah kawannya. ’Saya berkonsultasi dengan kawan saya di LPDB (Lembaga Pembiayaan Dana Bergulir, Red). Saya ingin mempelajari usaha mikro yang benar-benar merakyat dan tidak mengandung unsur riba,’’ ujarnya.

Setelah berkonsultasi itu, Zas’ari memperoleh informasi bahwa ada sebuah pesantren di Pasuruan Jawa Timur yang berhasil dan sukses mengelola koperasi syariah. ‘’Saya benar-benar ingin belajar membangun koperasi syariah itu langsung dari sumbernya. Saya kemudian berangkat sendiri  ke Pondok Pesantren Sidogiri itu, mengendarai motor. Dua hari dua malam saya di jalan,’’ ujar pria murah senyum ini. (Bersambung/KMA)

 

Share
  • 20
    Shares
Komentari Berita
Komentar sepenuhnya tanggung jawab pribadi. Kearifan dalam pemilihan kata yang tidak mengandung pelecehan, intimidasi, dan SARA sangat kami hargai.
To Top