Olahraga & Kesehatan

Pelayanan Dikeluhkan, DPRD Panggil Direktur RSUD Bima

Bima, Bimakini.com.- Komisi IV Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Bima, Rabu (10/10), memanggil Direktur Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Bima berkaitan keluhan keluarga pasien tentang pelayanan yang dinilai tidak maksimal hingga merenggut nyawa korban. Pihak RSUD diminta menjelaskan dan mengelarifikasi laporan tersebut.

Menyikapi pemanggilan itu, Direktur RSUD Bima, dr. Ali, SpPD,  hadir didampingi dua pejabat setempat. Komisi IV diwakili juru bicara, Dra. Hj. Mulyati didampingi Sekretaris Komisi IV, Ahmad Yani, SE.I, M.Pd. Pertemuan itu berlangsung didalam ruangan rapat Komisi IV.
Dalam penjelasannya, Ali mengaku memang sempat merawat pasien atas nama Irwan Abdullah, warga Desa Piong Kecamatan Sanggar dengan penyakit akut hati. Setelah tiga hari dirawat, pasien meninggal karena kondisi sakit yang sudah tidak bisa lagi ditangani medis.
Dia membantah pernyataan keluarga korban sebelumnya yang menuduh pihak medis mencabut cairan infus yang telah dipasang hanya karena tidak memiliki kartu keluarga. Menurut laporan petugas medis, korban saat sakit selalu beronta dan tidak mau dipasang infus, meski sempat dipasang, tetapi infus dicabut lagi dari tangannya.
“Pelayanan medis sudah standar, saya kira ini kembali ke takdir. Masalah kartu keluarga sebenarnya tidak ada, hanya misscomunikation keluarga pasien dengan tenaga medis saja,” terangnya.
Meski begitu, pihaknya tetap akan menjadikan hal itu sebagai bahan evaluasi pembenahan RSUD Bima secara totalitas pada aspek sumberdaya manusia, manajemen, dan fisik. Pembenahan beberapa ruangan, diakuinya, saat ini sedang diupayakan untuk menjadi prioritas guna peningkatan pelayanan.
Menanggapi penjelasan pihak RSUD Bima, juru bicara Komisi IV, Dra. Hj. Sri Mulyati, memberikan masukan agar ke depan hal seperti tidak terjadi lagi. Pelayanan maksimal dengan perubahan manajemen harus segera dilakukan dan tenaga medis harus lebih proaktif melayani pasien.
“Dalam menunjang itu harus banyak melakukan pembenahan, terutama akhlak para pegawai, karena mereka akan melayani orang sakit, bukan orang sehat,” harapnya.
Sebelumnya, Iwan Abdullah (38) pasien miskin pengguna kartu Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas) warga asal Desa Piong Kecamatan Sanggar Kabupaten Bima harus meregang nyawa, tanpa pertolongan maksimal dari tenaga medis RSUD Bima karena alasan tidak memiliki Kartu Keluarga.
Hal itu disampaikan, Syahrul, keluarga almarhum, kepada wartawan beberapa hari lalu. Diakuinya, pasien meninggal Kamis (4/10) lalu malam lalu di sal penyakit dalam RSUD Bima. Sejak dirawat inap di Instalasi Gawat Darurat (IGD), sama sekali tidak mendapat pelayanan dan penanganan serius, hanya karena tidak bisa menunjukan Kartu Keluarga sebagai prasyarat administrasi bagi pasien yang menggunakan kartu Jamkesmas.
      Kata Syahrul, almarhum yang didiagnosa mengidap penyakit gangguan hati, sempat dicabut cairan infus yang sudah terpasang pada tubuh pasien oleh tenaga medis setempat, karena alasan yang sama. Bahkan, saat ditanya apa jenis obat yang mesti dibeli keluarga pasien untuk penanganan lebih lanjut guna menyembuhkan almarhum, tidak diberitahu tenaga medis saat itu.
Meski mengakui bahwa kematian adalah takdir, tetapi yang disesalkannya, penanganan pasien tidak maskimal.  Mengenai kartu keluarga sebagaimana permintaan pihak RSUD Bima bagi pasien miskin pengguna kartu Jamksemas, ceritanya, murni keterlambatan karena tempat tinggal yang jauh dari RSUD Bima.
Dia mengharapkan kejadian dan bentuk pelayanan seperti itu hingga berdampak fatal pada nyawa pasien tidak terulang dan dialami pasien lain. (BE.20)
 

Share
Komentari Berita
Komentar sepenuhnya tanggung jawab pribadi. Kearifan dalam pemilihan kata yang tidak mengandung pelecehan, intimidasi, dan SARA sangat kami hargai.
To Top