Berita

Apa Pentingnya Save Teluk Bima?

Dari kiri, Penulis, H Rashid, H Zas`ari, dan  Dr Syafyudin Yusuf (baju kotak-kotak) di Bukit Jatiwangi.

ADALAH Institut Perempuan untuk Perubahan Sosial (InSPIRASI) NTB pada 7 Desember 2019 lalu, mencanangkan gerakan Save Teluk Bima. Kegiatan dua hari itu, menjadi heboh karena dianggap tidak relevan dengan kondisi Bima saat ini. “Yang rusak hutan, kok yang di-save (dilindungi) Teluk Bima,“ begitu protes seorang warga net. Berikut Catatan Khas Khairudin M. Ali terkait dengan masalah ini.

Catatan Khas ini kesannya sudah tidak relevan, jika dikaitkan dengan acara pencanangan #savetelukbima yang sudah berlangsung sebulan lalu.  Saya mencoba mencari jawaban lain terkait dengan kondisi Teluk Bima saat ini, karena tak satu pun media masuk dalam substansi persoalan yang sebenarnya. Apa sesungguhnya yang sedang dihadapi oleh Teluk Bima sehingga harus dilindungi. Koordinator InSPIRASI NTB, Nurjanah, S.Pd hanya menyebut kondisi ekosistem Teluk Bima yang  buruk, misalnya karena banyaknya sampah yang berserakan. Diskusi lain menyebut, Teluk Bima yang terus dangkal karena banyaknya sedimen yang dibawa oleh banjir setiap musim hujan. Apakah hanya ini?

Jawaban-jawaban ini rupanya tidak memuaskan masyarakat yang melihat kondisi hutan yang mestinya sangat membutuhkan perhatian semua pihak. Bahkan pada saat kegiatan itu, tidak ada narasi kerusakan hutan yang muncul, kecuali hadirnya Putri Hutan yang menjadi bahan candaan warga net.

Saya kemudian mencoba mencari jawaban sendiri atas urgensinya kegiatan itu. Ternyata, ada ancaman lain dari Teluk Bima yang tidak pernah dimunculkan ke permukaan. Apa saja kah itu?

Pernahkah kita bayangkan, sebuah lekukan laut yang bernama Teluk Bima itu, setiap hari menampung apa saja dari sungai yang bukan hanya dari Kota Bima, tetapi juga dari Kabupaten Bima. Mulai dari Kecamatan Palibelo, Kecamatan Belo, Woha, Monta, Parado, Bolo, Mada Pangga, Soromandi, hingga Donggo. Bebannya sangat-sangat berat. Akan semakin sarat, mana kala musim hujan seperti saat ini tiba. Apa saja akhirnya dibuang ke Teluk Bima. Sampah plastik, potongan kayu, lumpur, limbah rumah tangga, dan lain-lain. Itu belum seberapa. Yang paling berbahaya adalah residu bahan kimia yang berasal dari tambang rakyat dan aktivitas pertanian.

Coba kita lihat kondisi alam yang mengitari Teluk Bima. Selain aliran sungai dari Kota Bima dan Kabupaten Bima, juga dikelilingi oleh perbukitan, ladang, gunung, sawah, dan tambak yang seluruhnya menggunakan bahan kimia. Untuk menyiapkan lahan penanaman jagung misalnya. Saat ini sudah menjadi keharusan adalah, tanah harus disemprot dengan bahan kimia, untuk membunuh rumput dan gulma. Hampir seratus persen lahan yang akan ditanami dengan jagung, akan disemprot dengan bahan kimia. Petani tidak ada lagi yang menyiangi lahan mereka, tetapi lebih praktis menyemprotkan bahan kimia. Tanah bersih dari gulma, jagung dan aneka tanaman lain pun siap ditanam.

Teluk Bima dilihat dari Bukit Jatiwangi.

Berapa luas lahan pertanian yang ditanami dengan jagung atau aneka tanaman lainnya? Puluhan ribu hektare. Pada musim hujan, residu bahkan kimia ini semuanya dibawa dan bermuara ke Teluk Bima. Demikian pula dengan pupuk baik dari tambak maupun pertanian. Residunya semua dihanyutkan ke Teluk Bima. Begitu juga dengan air cucian tambang ilegal di Kecamatan Wawo yang mengandung bahan kimia berbahaya seperti merkuri.

Bahan aktif kimia atau pestisida dari aktivitas pertanian yang dihanyutkan ke Teluk Bima akan dikonsumsi oleh kerang-kerangan. Kerang bersifat bioakumulator atau makhluk yang mengumpulkan bahan aktif pencemaran dari pestisida. Sementara nutrisi dari pupuk pertanian, menyebabkan terjadinya eutrifikasi atau pengkayaan nutrient. Karena laut yang kaya nutrisi, menyebabkan binatang laut bisa berkembang dengan cepat di luar batas wajar. Proses ini juga bisa disebut blooming yaitu pencemaran air yang disebabkan oleh munculnya nutrient yang berlebihan ke dalam ekosistem air atau laut.

Bagi manusia, mengonsumsi kerang yang hidup pada laut tercemar bisa mengganggu kesehatan. Bahayanya bahkan bisa menyebabkan turunnya tingkat kecerdasan. Atau otak menjadi tidak bisa bekerja sempurna. Jika hal ini berlangsung terus menerus tanpa ada upaya untuk menghentikannya, maka bisa terjadi hilangnya satu generasi (lost generation) pada masa mendatang.

Dr Syafyudin Yusuf, seorang peneliti laut dunia dan dosen Fakultas Perikanan Universitas Hasanuddin Makassar menyebutkan, kondisi tersebut sangat berbahaya bagi masa depan manusia. Kerang-kerangan yang merupakan bioakumulator karena tidak bergerak seperti ikan, sangat berbahaya untuk dikonsumsi. “Jika ikan merasa ada sesuatu yang mengancam, mereka bisa pindah dan mencari makan di tempat lain. Tetapi kerang, mereka akan tetap diam dan akan mengonsumsi apa saja di sekitar mereka,“ katanya saat bincang ringan dengan saya, Rabu sore di Bukit Jatiwangi bersama H Zas`ari dan H Rashid Harman.

Sementara eutrifikasi menurut dia menyebabkan turunnya kualitas air laut. “Air laut yang subur, akan merangsang binatang laut berkembang biak dengan cepat karena adanya nutrisi yang berlebihan itu,“ katanya.

Dengan turunnya kualitas air laut karena terjadi pengkayaan nutrient, Doktor asal Bima yang telah melakukan penelitian di berbagai belahan dunia ini, menyebutkan tidak baik bagi kesehatan manusia. “Tidak layak untuk dipakai mandi, sebab akan menimbulkan gatal-gatal pada kulit. Padahal mandi air laut bisa untuk terapi karena mampu menyerap racun pada tubuh atau detoksifikasi,“ ujarnya.

Sifat air laut yang mengandung banyak garam, akan menarik racun di tubuh manusia karena ada proses osmosis. “Di sejumlah daerah, terapi air laut dengan pemandu profesional sudah menjadi bisnis baru. Saya berharap di Bima pun bisa dilakukan,“ ujarnya.

Dr Syafyudin Yusuf, ahli Kelautan, Universitas Hasanuddin Makassar.

Bagaimana dengan Teluk Bima? Dengan fakta-fakta di atas, Dr Syafyudin sudah punya hipotesis. Namun demikian, dia merekomendasikan kepada Pemerintah Kota Bima untuk melakukan uji kualitas air laut di Teluk Bima secara berkala. “Ini sebagai upaya untuk melindungi masyarakat Bima. Baik yang mengonsumsi kerang-kerangan maupun yang mandi air laut di Teluk Bima,“ katanya.

Sebagai peneliti, dia memiliki analisis sendiri. Tetapi sebelum ada kesimpulan dari hasil penelitian yang bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah, putra Penaraga yang baru pulang penelitian laut di Eropa ini enggan mengungkapkannya. “Intinya kita minta Pemerintah Kota Bima untuk melakukan uji kualitas air dan kandungan bahan kimia pada kerang secara berkala untuk melindungi masyarakat,“ tegasnya.

Mungkin saja hasil uji itu akan berseberangan dengan pengembangan pariwisata yang saat ini sedang digalakkan oleh Pemerintah Kota Bima seperti di Pantai Lawata. Tetapi harus tetap jujur juga untuk menyampaikan kepada publik. “Intinya masyarakat harus dilindungi. Kan pariwisata tidak harus masuk ke air laut,“ katanya.

Dr Syafyudin memiliki saran untuk menyelamatkan Teluk Bima dari pencemaran. Save Teluk Bima harus diikuti dengan save daratan dan juga save gunung dengan melestarikan hutannya. “Konektivitas tiga unsur ini sangat diperlukan untuk menyelamatkan Teluk Bima,“ sarannya. Bagaimana menurut Anda? (#)

Share
Komentari Berita
Komentar sepenuhnya tanggung jawab pribadi. Kearifan dalam pemilihan kata yang tidak mengandung pelecehan, intimidasi, dan SARA sangat kami hargai.
To Top