Berita

Tinggalkan Pekerjaan untuk Merawat Orang Tua

Herdhyanto Ladjatan di ruang kerjanya, Klinik Salmah Husada.

MENINGGALKAN pekerjaan dan karier untuk merawat orang tua yang sedang sakit, mungkin tidak banyak yang mau dan ikhlas melakukannya. ‘’Sebelum meninggal, orang tua saya sempat dirawat cukup lama dalam keadaan tidak bisa melakukan aktivitas apapun. Semua harus dibantu, dimandikan, ke kamar mandi. Cukup lama, sebelum beliau meninggalkan kami,’’ kata tamu saya kali ini. Dia adalah Herdhyanto Ladjatang, ketua panitia yang berhasil menyukseskan Pesta Wirausaha di Bima pada 7-8 September lalu. Berikut ulasan Khairudin M. Ali, dalam Catatan Khas edisi kali ini.

Seorang pria paruh bawa bertelanjang dada terlihat kurang fokus mengaduk semen di sisi timur sebuah jalan di Kelurahan Melayu. Dia memperhatikan sebuah kendaraan yang diparkir tanpa dimatikan mesinnya di sisi barat tempat dia sedang bekerja membangun toko. Entah apa yang ada dalam pikirannya. Saya memang cukup lama di atas kendaraan, karena pria yang hendak saya temui di Klinik Rawat Inap, Salmah Husada itu masih mengantar putri semata wayangnya, makan siang di suatu tempat.

Handphone saya berdering. ‘’Om di mana? Saya sudah di klinik (Salmah Husada),’’ katanya singkat. Begitulah biasanya anggota Komunitas TDA memang memanggil saya. Usia mereka rata-rata masih muda. Para perintis bisnis di Bima dan Dompu. Saya kebetulan sudah cukup lama mengenal mereka.

Senyum manis pria yang selalu menjaga penampilan ini tersungging ketika saya memasuki pintu depan klinik. Setelaj menyalami saya, dia kenalkan dengan seorang pria yang ternyata dokter spesialis. Juga dikenalkan dengan sejumlah stafnya, sebelum diajak masuk ruangan kerjanya.

‘’Di sini saya beraktivitas om Khair. Bahkan rapat-rapat panitia PW (Pesta Wirausaha) kemarin juga banyak dilakukan di sini,’’ kata pria jebolan Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin Makassar tahun 2004 ini.

Di sebuah white board terlihat jelas bekas coretan hasil rapat panitia yang belum dihapus, walau kegiatan sudah lewat beberapa hari. ‘’Kami bahkan sering begadang di sini untuk rapat. Level rapat pun kami tingkatkan dari serius menjadi dua rius, bahkan tiga rius,’’ kata ayah dari Zhafyra Putri Ladjatang yang baru berusia delalapan tahun ini.

Herdhy —sapaan akrabnya— lahir dari dua keluarga yang sangat berbeda latar belakang dan budaya. Dia lahir di Luwuk, Sulawesi Tengah pada 8 April 1980 dari ibu yang lahir dan dibesarkan di sebuah pulau kecil Banggai dan ayah dari Luwuk. Ibunya, Nurmida Badaun, dilahirkan dari keluarga disiplin dan keras. Ibunya ikut sang ayah –kakeknya Herdhy— yang merintis sebuah sekolah di pulau lebih terpencil bernama Togong Sagu. Kalau ke pulau itu, ayahnya yang mengendalikan perahu layar, ibunya yang masih kecil menguras air yang masuk perahu dengan tempurung kelapa. Lama berlayar lebih dari dua puluh empat jam. ‘’Kalau pakai perahu mesin saja, lamanya 12 jam dari Banggai,’’ kisah Herdhy. Kalau melihat peta, jarak udaranya ke Luwuk sekitar 144 kilometer atau sekitar 81 kilometer ke Pulau Banggai.

Atas jasanya membangun sekolah di pulau terpenci, sang kakek pernah memperoleh penghargaan dari Presiden RI, HM Soeharto di Istana Negara. Pulau Togong Sagu itu berada di Kecamatan Bangkurung, Kabupaten  Banggai Laut. Pulau ini bisa dikelilingi dengan jalan kaki hanya tiga jam. ‘’Keluarga besar saya dari ibu masih banyak yang tinggal di pulau itu,’’ ujar Herdhy.

Beda dengan keluarga ayahnya, Kably Ladjatang yang lahir dari keluarga tuan tanah, hidup berkecukupan, tetapi tidak banyak yang melanjutkan pendidikan tinggi. ‘’Mungkin karena banyak harta. Makanya ibu mewajibkan saya sekolah ke perguruan tinggi,’’ ujarnya.

Kedua orang tua sama-sama menjadi guru SD, karena sekolahnya di SPG. Saat bersekolah itulah mereka jumpa dan berjodoh.

Saat kecil, Herdhy mendapat perlakuan sangat keras dan disiplin dari ibunya. Untuk mendapatkan mainan saja, tidak pernah mau dibelikan. Walau dia menangis pun, sang ibu tetap bertahan. Ketika dia kuliah, baru paham apa maksud dari perlakuan sang ibu. Ketika itu, ibunya mendadak berubah. Menjadi ‘baik’ karena sang ibu selalu menuruti semua permintaannya. Herdhy pernah bertanya soal itu kepada ibunya. ‘’Tugasmu sekolah saja nak, ibu sudah kumpulkan uang sejak kamu masih kecil. Sekarang semua kebutuhan mu akan ibu penuhi. Ibu sudah menabung untuk kamu sekolah tinggi-tinggi,’’ kata ibu kepada Herdhy.

‘’Dari situ saya baru paham mengapa sewaktu saya masih kecil, ibu begitu pelit dan irit. Minta mainan saja walau saya menangis, tidak pernah dikabulkan,’’ ujar pria yang menamatkan pendidikan dasar dan menengah di Luwuk ini. (bersambung/KMA)

 

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
2
Share
  • 815
    Shares
Komentari Berita
Komentar sepenuhnya tanggung jawab pribadi. Kearifan dalam pemilihan kata yang tidak mengandung pelecehan, intimidasi, dan SARA sangat kami hargai.
To Top