Connect with us

Ketik yang Anda cari

CATATAN KHAS KMA

Hanu Hanu (2)

N. Marewo

INI  hanu yang  kedua. Soal menyatukan energi positif. Soal penyaluran ide-ide, juga soal panggung yang punya daya magis. Bicara berserakan sendiri-sendiri, jelas tidak efektif, Gaungnya lemah. Yang dekat kekuasaan saja seperti tidak berdaya. Bisikannya nyaris tak bernilai.

Nah… ini munculnya saat saya bertandang ke Kalikuma Educamp and Library, di Ule Kota Bima. Maksudnya Anda sudah tahu. Yang belum tahu, bisa baca tulisan yang kemarin. Judulnya: Hanu Hanu Hanu (1). Karena ini bagian kedua, saya beri judul Hanu Hanu saja. Besok, judulnya, tinggal satu Hanu.

Di situ, sudah berkumpul banyak budayawan, ilmuwan, sastrawan, sejarawan, agamawan, penulis (wan?), juga ada Iwan. Pokonya semuanya ada wan. Yang saya sebut Iwan terakhir itu, saya malah tidak sadar ada dia. Iwan Wahyudi namanya. Petinggi di Universitas Teknologi Sumbawa (UTS), yang juga salah seorang pejuang literasi, banyak menulis buku. Salah satunya, Melawang dengan Damai yang diberikan kepada saya, tadi malam.

Lainnya, ada N Marewo, Alan Malingi, Eka Ilham, Damar Damhuji, Husain La Odet, Taufikurrahman Bima, Syarifuddin Jurdi. Ada Sudirman Makka, juga Anwar Sari. Banyak lagi. Eh bukannya mereka masuk kategori wan di atas? Mereka juga, sebahagian adalah narasumber pada acara Mbojo Writer Festival (MWF). Orang-orang hebat yang lama mendedikasikan hidupnya untuk dunia literasi.

Saya sebenarnya hanya lewat di situ. Tidak bertujuan untuk bergabung, karena saya hanya sedang pasang perangkat Bima TV. Karena ada yang menyapa, saya pun berdiri dan nimbrung. Maka saya pun nyerocos banyak hal. Tentu soal dunia penyiaran. Salah satu hal yang sedikit saya pahami.

Saya bicara tentang mimpi-mimpi. Termasuk mengapa saya ngotot membangun dan mempertahankan stasiun televisi yang saya rintis sejak 2003 lalu itu. Mimpi besar saya ini: Bima TV menjadi panggung. Ya panggung apa saja. Panggung bagi seniman, panggung bagi penyanyi, panggung dakwah, panggung pendidikan, juga yang paling populer, panggung politik.

Karena merasa punya visi yang sama, maka lahirlah ide bersama untuk mewujudkannya. Ya bersama orang-orang hebat itu.

Kata saya, kegiatan kecil bisa besar kalau didukung media, apalagi media penyiaran. Sepakat, maka mimpi itu akan diwujudkan bersama. Saya minta Damar Damhuji dan Husain La Odet, membentuk tim kecil. Tim yang akan memikirkan cara, memikirkan formulasi mengumpulkan kekuatan energi yang masih berserakan itu.

MWF tentu sudah mengambil peran menjadi salah satu yang menyatukan kekuatan mimpi besar itu. Ujung tombaknya ini: Bima TV. Percuma bicara, berkumpul, melahirkan ide besar, tanpa bisa melibatkan partisipasi banyak stake holders. Stasiun televisi harus hadir menjadi media penyambung yang bisa membangkitkan keterlibatan banyak lagi orang. Yang berdiskusi tentu orang-orang hebat, tetapi menjadikan masyarakat juga hebat, adalah yang utama. Tugas para guru dan cendekia adalah mencerdaskan, mencerahkan. Begitu kira-kira.

N Marewo dan kawan-kawan.

Apa konsepnya? Banyak acara televisi nasional yang bisa menjadi inspirasi. Misalnya Indonesia Lawyers Club (ILC) yang dipandu wartawan senior Karni Ilyas itu. Di tingkat lokal, kita bisa mencontoh itu, dengan mengangkat isu-isu lokal.

Saya jadi teringat nama sebuah acara televisi dari ujung timur Indonesia. Saya lupa, apakah itu ditatangkan oleh Papua TV. Saya coba browsing, tidak ada datanya. Tetapi bagi saya, acara itu sangat menarik. Sebuah acara perbincangan, dilakukan di luar studio. Cenderung di alam bebas. Yang unik, nara sumbernya para tokoh senior. Orang-orang tua yang dituakan. Bahkan sudah uzur. Mereka dimintai petuah dan pandangannya atas berbagai masalah yang sedang dihadapi daerah dan bangsa. Tentu dari banyak perspektif. Nah, di acara itu nara sumber menyampaikan pandangan-pandangan serta solusi berdasarkan kearifan lokal. Tentu berdasarkan pengalaman yang pernah dilalakukan oleh para tetua pada masa lampau.

Mengertilah saya, bahwa nama acara, Bau Tanah itu menggambarkan nilai-nilai yang nyaris punah, disampaikan kembali oleh para tetua. Apakah ini mirip-mirip dengan Mbojo Mantoi? Kabou mantoi (memperbaharui yang sudah kuno).

Tetapi ini soal teknis saja. Bisa diformulasikan. Yang paling penting adalah segera memulainya. Seperti memulai MWF, yang akhirnya menjadi agenda tahunan itu. Yang akhirnya (kelak) mengganti nama menjadi Teluk Bima Writers Festival. Yang mungkin akan mengejar ketenaran Festival Ubud itu. Saya pun menjadi ikut semangat kalau banyak kawan. Apalagi mereka adalah orang-orang hebat yang punya cita-cita menjadikan orang lain juga hebat.

Kata Wali Kota Bima, H Muhammad Lutfi, SE orang hebat yang membumi. Tidak seperti masa lampau, banyak orang hebat yang tetap saja melangit.

Ini tulisan Hanu kedua: Hanu Hanu. Tugas saya masih ada satu Hanu. Tetapi saya ingin menambahkan lagi satu Hanu. Semoga tidak ada hanu*) yang menjadi halangan. (khairudin m.ali/bersambung)

*) sesuatu bukan La Hanu = si dia atau seseorang.

Click to comment
Komentar sepenuhnya tanggung jawab pribadi. Hindari komentar bermuatan pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Berita Terkait

CATATAN KHAS KMA

SAYA masih punya hutang. Ingin menulis tentang seseorang. Bukan hanya seorang, tapi dua. Saya merasa perlu untuk meminta maaf karena belum sempat-sempat dan bakal...

CATATAN KHAS KMA

KAMIS, 28 Oktober 2021 adalah hari yang sangat melelahkan. Saya harus melakukan hanu. Tidak hanya tiga kali hanu, tetapi lebih. Hanu hanu hanu itu,...

CATATAN KHAS KMA

SAYA tidak punya pengalaman yang cukup untuk menulis tentang olah raga. Sejak pertama menjadi wartawan pun, saya lebih banyak menjadi wartawan bisnis, walau kadang...

CATATAN KHAS KMA

SAYA harus sering tulis soal ini. Siaran televisi digital. Ini penting, supaya migrasi dari analog ke digital, bisa berjalan sukses. Literasi televisi digital masih...